Konfrensi Internasional PAUD dan Pendidikan Keluarga di Jakarta. l foto : kemdikbud.go.id

Nasional

PAUD dan Pendidikan Keluarga Berperan Penting Dukung Perkembangan Anak


JAKARTA – Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Keluarga memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian di bidang psikologi, neurosains, dan pendidikan terdapat kesimpulan bahwa rangsangan pendidikan awal pada anak sejak dalam kandungan hingga akhir masa usia dini, 6-8 tahun, akan berdampak positif pada seluruh aspek perkembangan anak.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (Dirjen PAUD) Kemendikbud, Harris Iskandar mengatakan, bukan kecerdasan saja tetapi seluruh kecakapan hidup. Dalam kaitan ini, peran keluarga dan satuan pendidikan penyelenggara PAUD menjadi sangat penting.

“Apalagi tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia terkait potensi tumbuh-kembang anak yang masih cukup berat," katanya saat memberikan Konferensi Internasional PAUD dan Pendidikan Keluarga di Jakarta, 4 – 7 November, dalam rilisnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap agenda pendidikan global tahun 2030, Pemerintah Indonesia telah membuat terobosan dengan mengeluarkan kebijakan pelayanan dasar PAUD untuk anak usia 5 sampai dengan 6 tahun yang wajib dipenuhi pemerintah daerah.

"Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal,” jelas Dirjen Harris.

Selain itu, Pemerintah Indonesia, lanjut Harris, telah mempelopori pendirian SEAMEO Centre For Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP). Yaitu, sebuah pusat di bawah Southeast Asian Ministers Education Organization (SEAMEO) yang berlokasi di Jayagiri, Lembang Bandung, Jawa Barat. Pusat ini bertugas untuk mendukung pengembangan dan publikasi praktik baik terkait implementasi PAUD dan Pendidikan Keluarga.

Sementara itu, Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal, menyampaikan Indonesia memiliki anak usia PAUD 0-6 tahun sebanyak 26-27 juta. Saat ini, kesadaran orang tua sudah sangat baik dan lompatan akses sudah meningkat. Selain itu sumber dana juga sangat bervariasi mulai dari Dana Desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Corporate Social Responsibility (CSR), dan sebagainya.

"Akan tetapi menurut saya yang paling penting sekarang adalah perhatian pada gurunya. Guru adalah tiang pendidikan. Kalau kita tidak memberi perhatian kepada guru maka seperti yang dikatakan James Heckman bahwa anak lebih baik tidak ikut PAUD daripada ikut PAUD yang tidak bermutu," disampaikan Fasli Jalal.

Salah satu tantangan terkait daya saing bangsa Indonesia adalah kemampuan berpikir tingkat rendah (Low Order Thinking Skills-LOTS) yang kerap ditemui. Fasli Jalal menyampaikan pentingnya pembangunan karakter sejak dini. Melalui pendidikan karakter, anak-anak Indonesia akan jauh lebih siap menghadapi abad 21 yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

"Tapi kalau ditanamkan sejak dini, maka akan membuat dia lebih kreatif, inovatif, dan kecemasan terhadap hasil Programme for International Student Assessment (PISA) akan dapat teratasi,” jelas Fasli.

Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Sukiman, mengatakan bahwa usia PAUD adalah usia bermain sehingga praktik baik tentu adalah pendidikan anak usia dini yang memfasilitasi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang melalui bermain dan memperhatikan secara holistik integratif.

“Tidak hanya stimulasi masalah pendidikannya saja tetapi juga aspek-aspek lain yang terkait dengan kesehatan, pengasuhan, perawatan anak dan sebagainya sehingga anak bisa tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria serta berakhlak mulia,” terangnya.

Konferensi internasional ini dihadiri sebanyak 500 peserta dari 15 negara yang terdiri dari perwakilan Kementerian Pendidikan, akademisi, praktisi dan penggiat PAUD dari Afganistan, Australia, Banglades, Filipina, Kamboja, Korea Selatan, Madagaskar, Maroko, Jepang, Vietnam, Perancis, Tajikistan, Thailand, Timor Leste, dan Yaman.

Peserta dari dalam negeri berasal dari para penggiat PAUD dan pendidikan keluarga, akademisi, pendidik, tenaga kependidikan, dan organisasi mitra. Yang menjadi pembeda dari seminar kali ini adalah seluruh peserta mengirimkan makalah akademik dan empirik dari 10 topik yang ditentukan. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?