Penjelasan tentang bahaya narkoba dari Polresta Magelang kepada siswa kelas VIII SMPN 1 Magelang, Jawa Tengah. | foto : Fauzi Bayu Sejati | Siedoo

Advertorial Daerah

SMPN 1 Magelang Inginkan Anaknya Jauh dari Narkoba


MAGELANG  - Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Magelang, Jawa Tengah menggelar sosialisasi tentang narkoba kepada siswa kelas VIII dengan mengundang pemateri dari Polres Magelang Kota, Sabtu (24/8/2019). Sosialisasi ini bertujuan agar anak – anak tahu tentang bahaya narkoba. Selain itu, juga diharapkan anak - anak bisa menjadi pelopor dan teladan di masyarakat untuk menerangkan tentang bahaya narkoba.

“Di era yang sedemikian bebas ini, anak usia SMP pun bisa terkena pengaruh narkoba. Sehingga, mereka harus tahu bahaya narkoba,” kata Kepala SMPN 1 Kota Magelang, Nurwiyono S.N, M.Pd.,

SMP Negeri 1 Kota Magelang selama ini mendapat support berupa dana dari pemerintah pusat. Dana ini untuk pengembangan sekolah sehat dan yang berkaitan dengan kesehatan.

"Maka untuk kelas VII, kita  mengundang dari Dinas Kesehatan tentang pola hidup bersih dan sehat. Sedangkan kelas VIII sosialisasi tentang bahaya narkoba,” ungkapnya.

Alasan mendapat bantuan dana dari pemerintah pusat itu bukan tanpa alasan. SMPN 1 Kota Magelang masuk kategori sebagai Sekolah Rujukan.

Adapan narasumber materi tentang bahaya narkoba adalah Kepala Biro Operasi Satuan Narkoba Polres Magelang Kota Iptu Tri Iwan, S.H. Ia mengatakan bahwa, dampak narkoba sudah merambah ke anak – anak dan yang paling banyak dipakai jenis psikotropika. Para pengedar menggunakan jasa media online untuk memperjualbelikan psikotropika tersebut.

Sementara sesuai data yang ditemukan di lapangan selama ini, bahwa rata – rata pengguna narkoba dari kalangan pelajar. Barang yang digunakan harganya terjangkau, sementara untuk membelinya para siswa dengan sistem patungan.

“Psikotropika itu kan obat penenang dari rumah sakit jiwa, tapi mereka menggunakannya untuk berhalusinasi sendiri,” jelas Iptu Tri Iwan.

Diuraikan bahwa, kondisi di Magelang saat ini yang marak ialah psikotropika dan tembakau gorila. Tembakau ini tergolong biasa, tetapi sudah disemprot dengan zat kimia tertentu.

“Jadi untuk pengawasan orang tua, kami sampaikan harus bisa menjadi polisi dalam keluarganya sendiri. Harus berani mengoperasi kamar, tas dan HP anaknya. Ini merupakan langkah pertama, kalau dari tingkat keluarga sudah steril, ya semoga kedepannya anak akan terpantau terus,” pintanya.

Adapun ketika seseorang terjerumus ke dalam narkoba, bisa disebabkan karena beberapa faktor. Diantaranya dari lingkungan, individu, keluarga dan ekonomi. Awalnya mereka rata – rata hanya mencicipi, namun karena imannya tidak kuat, tidak ada juga pengawasan dari orang tua.

"Dari awal mencicipi, akhirnya mencoba membeli dan mencoba menjadi pengedar. Kalau sudah menjadi pengedar, akan mendapat keuntungan finansial dan memakai secara gratis. Kebanyakan bandar yang kita tangkap, awalnya mereka dari pemakai,” tandasnya. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?