Kiki Gustinasari saar mengikuti International Scholarship Exchange of PhD Candidates and Academic Staff - PROM Programme di University of Szczecin, Polandia. | foto : Humas ITS

Inovasi Tokoh

Limbah Pupuk Kimia di Irigasi Tinggi, Kiki Teliti Mencari Solusi


Siedoo, Mahasiswi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur merancang penelitian yang diharapkan mampu membantu mereduksi pencemaran air di lingkungan pertanian. Mahasiswa doktoral dari Departemen Teknik Lingkungan Kiki Gustinasari ini melakukan penelitian berjudul Constructed Wetlands - Microbial Fuel Cells (CWs - MFCs) sebagai Pereduksi Herbisida Glifosat dan Aplikasi Biosensor untuk Toxicity Warning pada Limpasan Persawahan.

Tujuan dari penelitiannya ini ialah untuk membuktikan bahwa CWs MFCs sebagai infrastruktur ramah lingkungan mampu mereduksi residu herbisida glifosat, yang merupakan jenis pestisida pada sektor pertanian. Penggunaan herbisida glifosat memberikan dampak buruk terhadap makhluk hidup di perairan.

"(Diantaranya) dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi untuk binatang amfibi. Serta, berefek letal bagi beberapa jenis plankton," kata Kiki.

Penelitian yang ia lakukan itu, tidak lepas dari kondisi bahwa, limbah pupuk kimia dan pestisida dari kegiatan irigasi pertanian, menjadi salah satu penyebab pencemaran air di muka bumi. Padahal, sektor pertanian sendiri menggunakan air untuk irigasi sekitar 70 persen, hingga 90 persen dari seluruh kebutuhan air di bumi.

Dijelaskan bahwa, MFCs sendiri, merupakan teknologi pembangkit energi dan pengurangan polusi melalui bakteri. Sedangkan CWs merupakan sistem berbasis alam yang banyak digunakan pada bidang pertanian, sebagai filter areal pertanian dengan badan air.

Penggabungan MFCs ke dalam CWs terbukti mampu meningkatkan kinerja CWs dalam mengurangi residu herbisida glifosat. Lebih lanjut, dipaparkan Kiki bahwa, anoda pada MFCs memicu reaksi anaerob CWs. Pendekatan ini memiliki keuntungan ganda, seperti intensifikasi kinerja CWs dan penghasil listrik.

Di samping itu, MFCs - CWs pada penelitian ini juga bertujuan sebagai peringatan dini terhadap masuknya bahan-bahan yang tidak diinginkan pada limpasan persawahan. Hal ini disebabkan jenis infrastruktur hijau tersebut mampu menghasilkan sinyal listrik melalui kinerja mikroba.

“Kinerja mikroba akan turun apabila terdapat zat racun yang mengganggu kehidupan mikroba tersebut,” jelasnya.

Dengan turunnya kinerja mikroba, maka dapat diketahui adanya zat yang tidak diinginkan memasuki area pertanian. Penurunan tersebut nantinya akan ditandai dengan indikasi dropping listrik.

“Indikasi inilah yang menjadi peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan selanjutnya," ucap perempuan asal Jombang ini.

Visualisasi reaktor CWs - MFCs laboratorium yang digunakan untuk eksperimen pada penelitian Kiki Gustinasari.

Dalam penelitian yang ditujukan untuk disertasinya tersebut, mahasiswi yang dibimbing oleh Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD ini mengungkapkan, banyak peneliti lain yang menggunakan CWs untuk menangani limbah pertanian. Namun, penelitian sebelumnya hanya memanfaatkan satu fungsi, yaitu mereduksi polutan.

“Sedangkan konsep penelitian yang saya lakukan ini selain untuk mereduksi polutan, juga sebagai early warning system," tutur mahasiswi kelahiran 1 Agustus 1994 ini.

Harapannya, penelitian ini tidak hanya dapat berjalan dengan lancar hingga akhir. Tapi juga memperoleh hasil yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.

"Tidak menutup kemungkinan penelitian ini akan diterapkan di lapangan, tentunya dengan dukungan dari pihak pemerintah," tandas mahasiswi penerima beasiswa program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) ini. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang