Inovasi

Berharap Seni Gerabah Masuk Kurikulum Pendidikan

Siedoo, Warisan budaya, mempunyai nilai sejarah yang beragam dan merupakan aset yang mestinya terus dilestarikan. Selain mempunyai nilai sejarah, tentunya juga terdapat suatu ilmu pengetahuan yang dapat digali oleh generasi penerusnya.

Salah satunya ialah warisan seni budaya pembuatan gerabah di Dusun Nglipoh/Banjaran 1, Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Produksi gerabah sampai saat ini masih terus dijaga eksistensinya.

“Sejak Candi Borobudur belum berdiri sudah ada Dusun Nglipoh, masyarakat sini membuat gerabah sudah sejak dahulu. Pada jaman dulu para leluhur membuat peralatan dapur seperti piring, mangkok, gelas, kendi dan perabotan lainnya. Jadi, sebelum Candi Borobudur ada, pembuat gerabah sudah ada. Bahkan, cara warga Nglipoh saat membuat atau membakar gerabah terlihat sama pada relief Candi Borobudur,” kata Supoyo, salah satu pengrajin gerabah.

Pengrajin gerabah berharap dengan adanya edukasi gerabah, masyarakat masih bisa mengenal kerajinan gerabah yang diturunkan oleh nenek moyang. Selain sejarah, nilai edukasi juga ada dalam kerajinan gerabah dan harapannya bisa menjadi bagian dalam kurikulum sekolah.

Para pelajar dan generasi muda pun diharapkan bisa tergerak untuk menggali dan mengangkat kembali ilmu warisan nenek moyang tersebut.

“Saya pribadi atau masyarakat sebagai pengrajin gerabah itu menginginkan agar kerajinan gerabah bisa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, seperti ekstrakurikuler. Baik itu dari SD, SMP SMA, atau untuk play group sekalipun. Kita siap memberikan ilmunya,” tegasnya.

Wisata edukasi kerajinan gerabah Dusun Nglipoh sudah dibuka sejak 2004 sampai sekarang. Pengunjung yang datang hampir dari semua kalangan, mulai dari anak-anak play group, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi dan wisatawan asing. Bahkan, ada dari instansi perusahaan dan kedinasan yang datang untuk berwisata dan menambah wawasan dalam membuat gerabah.

“Kami ajarkan langsung praktik dan rata-rata untuk pemula diajari membuat bentuk yang mudah dan sederhana. Seperti gelas, mangkok, vas bunga, tempat lilin dan cangkir. Baik itu dari anak kecil atau dewasa, tetapi kalau untuk pemula metode yang diajarkan sama, jadi yang dihasilkan hampir mirip,” tuturnya.

Kelompok pengrajin gerabah Bina Karya yang ada saat ini, terdiri dari warga Dusun Nglipoh. Mereka secara umum yang memberikan pembelajaran seni gerabah kepada para pengunjung.

“Mereka membuat sendiri sambil kita pandu dan kita bakarkan. Kalau minta dikirim akan kita kirimkan, atau boleh langsung diambil dan dibawa pulang,” jelas Supoyo, Ketua Kelompok Bina Karya tersebut.

Teknisnya, tanah dibuat seperti adonan dan mulai dibentuk menggunakan alat bantu putar, cetakan atau dipilin. Setelah itu dijemur satu hari, kemudian dibakar selama lebih kurang 12 jam jika menggunakan jerami atau kayu. Sedangkan jika menggunakan gas sekitar 5 jam.

Banyak hal yang bisa dipelajari dalam membuat gerabah. Tidak hanya sekedar tanah diambil dan dibentuk. Namun, masih banyak runtutan dari proses pengambilan sampai finishing.

“Bahkan itu pun baru menggunakan satu macam tanah lokal. Padahal masih ada cara sendiri dalam menggunakan jenis tanah yang berbeda atau tanah dari luar. Teknik pewarnaan juga ada ilmunya sendiri. Sebagian tanah yang ada di daerah sini, pada kedalaman 1 meter kebawah sudah bisa dipakai,” terangnya.

Dapat Dukungan dari Unesco

Tidak hanya warga lokal, Unesco juga sempat memberikan berbagai support. Mulai dari dari sokongan ilmu,  pengembangan alat dan mengimbau agar warisan ini dijaga kelestariannya. Hal itu disebabkan, kerajian gerabah mempunyai magnet nilai sejarah yang erat. Bahkan berumur lebih tua dari Candi Borobudur itu sendiri. (*)

Apa Tanggapan Anda ?