Dosen Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Ponimin, M. Hum., berkarya membuat keramik berciri khas figuratif. Teknik berkaryanya menarik perhatian pengunjung festival Al-Janadriyah 2018 di Riyadh, Arab Saudi, 20 Desember 2018 - 9 Januari 2019. (foto: um.ac.id)

Seni Tokoh

Keramik Figuratif Karya Dosen UM, Sedot Perhatian di Riyadh


Siedoo, Di kalangan seniman tanah air, dosen Seni dan Desain Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur Dr. Ponimin, M. Hum., sudah tak asing lagi. Karya keramiknya yang berciri khas figuratif sudah dikenal hingga mancanegara. Ponimin menjadi salah satu perupa wakil Indonesia di Pagelaran Festival Al-Janadriyah di Arab Saudi yang digelar 20 Desember 2018 – 9 Januari 2019.

Festival Al-Janadriyah merupakan festival budaya tradisional Arab yang diadakan oleh Pemerintah Arab Saudi. Festival itu bertujuan untuk mendorong masyarakat Arab memahami budaya Arab sebagai akar budaya mereka. Selain itu, festival tersebut juga memperkenalkan kepada masyarakat dunia tentang eksistensi budaya Arab.

Dilansir dari um.ac.id, Ponimin menuturkan dalam penyajian festival tersebut mengundang berbagai negara yang umumnya memiliki pengaruh budaya islami. Seperti Indonesia, Malaysia, Turki, India, Pakistan, Maroko, dan lainnya.

“Jadi, mayoritas yang disajikan dalam seni pertunjukan umumnya bernafaskan islami,” jelasnya

Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam festival karena adanya ikatan emosional kultur religi mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Kultural Islam Arab dapat berinteraksi dengan budaya lokal Indonesia, sehingga melahirkan budaya Islam Nusantara yang dapat memperkaya kultural Islam dunia.

Selama festival, Ponimin tidak hanya menampilkan seni keramik, tetapi juga karya kriya tekstil batik Yogyakarta, kaligrafi kayu Jepara, kaligrafi kulit, dan tenun Lampung. Ponimin dipilih sebagai perupa keramik dari akademik UM karena teknik berkarya keramik miliknya berbentuk karya khas Nusantara, meskipun dalam tampilannya lebih kontemporer. Selain itu, teknik berkarya Ponimin menarik ketika sebagai tontonan pengunjung festival.

Ponimin mengaku, semula takut terhadap karya yang ditampilkannya karena kebanyakan hasil dari imajinasi bentuk makhluk hidup figuratif.

“Saya berprasangka masyarakat Arab Riyadh akan protes. Tetapi kenyataanya sangat mengapresiasi. Misalnya saja ketika saya membentuk keramik figur unta, mereka asyik menonton hingga selesai,” ungkapnya

Baca Juga :  Alasan Perlunya Forum Privilegiatum

Menurutnya religius dan budaya dalam Islam merupakan satu rangkaian yang tak dapat dipisahkan. Saling mengisi dan saling menguatkan eksistensinya.

“Di era keterbukaan dan ekonomi, budaya Islam telah menempatkan perannya dalam mengambil peran itu. Al- Janadriyah 2018 Riyadh dapat sebagai ajang ekonomi wisata budaya di Saudi Arabia,” katanya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang