Nasional

HMI : Independensi Memihak pada Kebenaran

MANADO - Independen berdasarkan tafsir independensi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah memihak pada kebenaran. Mengenai kontestasi Pilpres 2019, HMI harus berada di tengah. Sebab, posisi tengah adalah posisi seimbang, dan dalam konteks apapun itu posisi seimbang selalu menjadi posisi yang benar.

"Namun jangan sampai kita memonopoli kebenaran hanya pada satu pihak. Sehingga seolah-olah pihak lainnya salah secara mutlak," tegas Ketua Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Rahim Key.

Rahim menyampaikan itu saat Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sulawesi Utara-Gorontalo menggelar pelantikan untuk periode 2018-2020. Pelantikan di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Manado ini mengangkat tema "Ikrar Perjuangan : Ikhtiar Badko HMI Sulut-Go Menjawab Tantangan Zaman".

Sesi pelantikan yang mengukuhkan pengurus Badko Sulutgo dibawah kepimpinan Ahmad Syakur sebagai Ketua Umum dan Ramlan Tinamonga sebagai Sekretaris Umum tersebut dilakukan langsung Rahim Key dan Wakil Sekretaris Jenderal PB HMI, Melys Ali.

"Badko HMI Sulutgo perlunya menjaga independensi HMI dalam wacana pilpres 2019. Yaitu dengan meletakkan posisi HMI pada posisi di tengah dan tidak berpihak ke pasangan calon manapun," jelas Rahim.

Ia menambahkan bahwa posisi di tengah adalah posisi seimbang. Rahim juga mengingatkan agar pengurus Badko HMI Sulutgo cermat serta berhati-hati dalam bersikap dan berpendapat.

"Walaupun masing-masing dari kita punya pilihan politik yang berbeda, tapi tetap letakkanlah organisasi ini sesuai pada tempatnya yaitu di tengah," ujarnya.

Jaga Jarak Wacana Politik Dua Kubu

Walaupun sedikit banyak kader HMI paham mengenai politik, jangan juga bersikap sok politisi berbendera HMI. Akibatnya HMI malah jadi bahan olok-olokan. Sebaiknya HMI menjaga jarak dari lontaran-lontaran wacana politik dari masing-masing kubu.

"Ya kita sebaiknya jaga jarak lah dari serangan dan tangkisan wacana politik dari masing-masing kubu," katanya menyarankan.

Terkait dengan gerakan people power yang sedang hangat dibicarakan, lebih baik dibiarkan saja. Jangan sampai menyampaikan bahwa, gerakan people power itu tidak perlu.

"Sebab sadarlah, kondisi seperti ini HMI mau bicara apapun tidak berpengaruh terhadap jadi dan batalnya people power. Situasi sudah panas jangan ditambah panas. HMI harus di tengah dan menghadirkan wacana yang sejuk seperti persoalan kemanusiaan. Aksi tabur bunga adalah aksi kemanusiaan," ungkapnya.

Mengenai statement people power yang sempat ramai di media sosial, itu merupakan kecerobohan dalam bersikap dan berpendapat, jika mencoba kontra dengan people power. Bahkan sampai menyebut sarat dengan muatan politik.

"Ya kan memang people power itu reaksi dari kontestasi politik bagi yang menganggap terjadinya kecurangan. Ini sama saja blundernya dengan statement yang ingin kontra dengan aksi penistaan agama, lalu menambahkan alasan sarat dengan muatan agama," tegas Rahim. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?