Daerah

Conduct Disorder, Guru dan Orang Tua Wajib Paham

MAGELANG - Perilaku remaja dan anak pada era sekarang memang cukup menarik perhatian. Remaja atau anak sekolah yang melakukan hal perilaku menyimpang seperti nakal, susah diatur bahkan melakukan tindakan kekerasan disebut dengan conduct disorder atau gangguan tingkah laku.

Melihat kondisi tersebut, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, Jawa Tengah berupaya untuk menekan penyimpangan perilaku di atas. Diantara langkahnya menggelar Seminar Awam “Gangguan Perilaku Pada Anak dan Remaja” di rumah sakit setempat, Selasa (30/4/2019).

Kesempatan itu diikuti sekitar 123 orang, mayoritas adalah guru SMP dari Kabupaten/Kota Magelang, Temanggung, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Magelang.

Salah satu pematerinya, Dr. Susi Rutmalem., MSc., SpKJ (K) menjelaskan kriteria conduct disorder pada anak meliputi agresi pada orang atau binatang, perusakan barang milik orang lain, tidak jujur atau mencuri, pelanggaran aturan yang serius.

Penyebabnya antara lain faktor biologi seperti cacat cidera pada area otak tertentu, riwayat gangguan neurodevelopmental, memiliki anggota keluarga yang dekat dengan gangguan mood (terdapat kerentanan gangguan tingkah laku yang diwariskan).

Lalu faktor kognitif, faktor kepribadian, faktor psikologis (faktor orang tua dan anak), faktor traumatis, faktor orang tua, faktor kelompok sebaya (penolakan oleh kelompok sebaya) dan faktor sosial.

“Faktor conduct disorder itu tidak bisa berdiri sendiri tidak hanya satu faktor yaitu biologi, psikologi, sosial, spiritul,” katanya.

Ditandaskan, semuanya itu saling berkaitan dan yang paling penting diantara itu semua adalah pola asuh yang masuk ke dalam psikologisnya. Penanganan serahkan kepada yang profesional karena kasus ini bukanlah hal yang mudah dan gampang.

“Kalau kasus ini tidak tertangani dengan baik maka akan conduct disorder akan berkembang menjadi antisosial,” terangnya.

Dijelaskan pula bahwa gangguan tingkah laku dimulai pada usia anak 10 ke 16 tahun, sedangkan 8 tahun ke bawah masuk ke dalam sikap menentang. Jika hal ini tidak teratasi dan tidak dibawa ke ahlinya maka akan masuk ke dalam conduct disorder.

Lebih dari 16 tahun masuk ke dalam antisosial seperti anak yang suka mabuk dan melakukan free sex, dan lebih beratnya bisa mencapai ke ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).

“Jika ada anak yang sudah terdeteksi conduct isorder, harusnya penanganan lebih bagus dimulai dari kecil atau sedini mungkin untuk hasil yang lebih bagus, namun untuk usia yang sudah beranjak dewasa tetap ditangani meskipun hasilnya tidak semaksimal yang ditangani dari kecil,” tandasnya.

Kabag Diklit RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang, dr. Jofita Panggelo menyatakan pihak RSJ bukan hanya rumah sakit pengobatan. Namun, juga sebagai rumah sakit pendidikan sehingga berkewajiban untuk berbagi ilmu kepada semua kalangan masyarakat.

“Jadi sebenarnya banyak kasus conduct disorder di masyarakat, namun masyarakat belum tahu untuk penanganannya. Kita jelaskan bahwa peran guru dan orang tua itu sangat dibutuhkan untuk penanganan kasus conduct disorder jauh lebih bagus,” katanya.

Kegiatan berlangsung dari pukul 09.00 –12.30 WIB, diawali sambutan dr. Eniarti, M.SC.,Sp.KJ.,MMR selaku Direktur Utama RSJ Prof. Dr. Soedjono Magelang.

Pematerinya yaitu dr. Susi Rutmalem., MSc., SpKJ (K) membahas pengenalan conduct disorder, Swastika Wulan PNP, M. Psi, Psikolog membahas pencegahan conduct disorder, dr. Sutantri, Sp. KJ membahas peran guru dan orang tua dalam penanganan conduct disorder.

Kepala Bidang Pembinaan SMP perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Magelang, Drs. Muh Rofi, M.Pd mengatakan, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pendidik dan orang tua untuk memahami perilaku anak.

“Kita harapkan kerja sama orang tua, guru dan masyarakat untuk peduli dengan fenomena tersebut. Pendidikan moral harus kita kedepankan, sesuai dengan Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter,” tegasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?