Pakar sampah Dr. Ir. Mohamad Satori, MT, IPU. (foto: unisba.ac.id)

Inovasi Tokoh

Dr. Satori : Jadikan Sampah sebagai Sumber Daya


Siedoo, Air merupakan salah satu sumber keindahan. Di Jepang, sungai merupakan tempat favorit yang kerap menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung, salah satunya sungai Wirasaki. Bukan hanya indah, sungai tersebut bahkan menjadi habitat ikan ayu (ikan khas Jepang) untuk hidup dan berkembang baik.

Demikian diungkapkan Dr. Ir. Mohamad Satori, MT, IPU, seorang pakar sampah sekaligus dosen Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik Unisba. Dikatakannya saat menjadi keynote speaker dalam acara ‘22nd InterWIC Conference’ yang diselenggarakan oleh Women International Club (WIC) di Hotel Aston Tropicana.

Menurut Satori, kondisi di Jepang berbanding terbalik dengan di negara Indonesia. Di Indonesia sungai justru kerap kali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga, pabrik, dan ternak.

Membuang sampah tidak pada tempatnya masih menjadi penyebab utama dan telah menjadi kebiasaan yang membuat mayoritas sungai di Indonesia tercemar dan mengalami degradasi hebat.

“Adanya mindset bahwa sampah adalah barang tidak berharga menjadi salah satu penyebab utama masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan,” terang Dr. Satori yang pernah menjadi salah seorang pembicara mewakili delegasi Indonesia. Dalam Eco Bussiness Forum Asia Pacific yang digelar di Kota Kawasaki, Jepang pada 7 Februari 2019 lalu.

2,5 liter/orang

Secara teori, timbunan sampah dari masyarakat dalam sehari berkisar 0,6 kg atau 2,5 liter per orang. Jika dikali jumlah penduduk Kota Bandung yang berjumlah sekitar 4 juta orang, maka timbunan sampah kita sebanyak 1.500 ton sehari.

“Ketika mindset sampah hanya sesuatu yang dibuang tanpa memikirkan lingkungan, maka kita harus siap jika suatu saat nanti akan tertimbun sampah sendiri,” tegasnya ditulis unisba.ac.id.

Menurut Dr. Satori, masyarakat sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah sampah. Dosen Fakultas Teknik Unisba ini juga mengatakan permasalahan sampah tidak dapat diberikan semua kepada pemerintah.

Dia mengajak peserta yang hadir untuk mulai melakukan gerakan kecil yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi sampah. Yaitu, dengan mengurangi sisa makanan (food waste), pengunaan kantong plastik, dan stereofoam.

Kesadaran kurangi sampah

Kesadaran masyarakat tentang daur ulang sampah saat ini masih kecil. Tidak banyak orang yang sadar bahwa di sisi lain sampah bisa menghasilkan uang. Hal ini sejalan dengan UU No. 18 tahun 2018 yang menyebutkan bahwa selain untuk kesehatan lingkungan, tujuan mengelola sampah adalah sebagai sumber daya.

“Bahwa sampah di satu sisi merupakan material bekas itu betul, tapi di sisi lain sampah bisa mengubah masalah menjadi berkah. Di Bandung ada 3.995 pemulung, dengan penghasilan rata-rata minimal 1 juta. Jika di jumlahkan penghasilan dalam setahun bisa berapa milyar, itu baru pemulung belum tukang rongsok dan bandar,” tambahnya.

Satori berharap, masyarakat di Indonesia dapat bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan oleh diri sendiri. Dia menuturkan, memisahkan sampah organik dan anorganik dari rumah juga bisa menjadi cara untuk mengurangi bertumpuknya sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA).

“Saya ingin masyarakat Indonesia lebih peduli terhadap masalah kebersihan. Mencerdaskan masyarakat dengan tema literasi lingkungan. Artinya literasi itu mulai dari nol, bagaimana seharusnya menjaga lingkungan mulai dari diri sendiri dan menularkannya kepada masyarakat,” ujarnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?