Nasional

Peneliti UGM : Transportasi Alat Pencapaian Tujuan Pembangunan Kota

YOGYAKARTA - Tingkat kemacetan di ibu kota menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Persoalan di sektor transportasi, muncul ketika kota- kota tumbuh secara organik dengan mengabaikan keterbatasan daya tampung dan daya dukung kota atau wilayah dan tanpa deliniasi fisik kota yang jelas.

“Urbanisasi penduduk yang tinggi sementara ruang kota terbatas, memunculkan kawasan perumahan baru di pinggir kota dengan kepadatan rendah dan bentuk kawasan aglomerasi perkotaan,” kata Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Lilik Wachid Budi Susilo.

Ia menyampaikan itu saat seminar tentang transportasi. Model kawasan yang ia sebut di atas, meningkatkan kerumitan dalam penyelenggaraan transportasi umum perkotaan dan menjadi awal kegagalan pembangunan kota.

Sistem transportasi massal perkotaan sulit menjangkau seluruh kawasan perkotaan. Sementara itu, kawasan permukiman yang dibangun dekat dengan akses ruas jalan, meningkatkan ketergantungan akan kendaraan pribadi, khususnya kendaraan roda dua.

“Kondisi macet, semrawut, kecelakaan dan juga polusi merupakan keniscayaan dari kondisi kota saat ini. Transportasi harus menanggung konsekuensi logis perkembangan kota yang memfasilitasi penggunaan kendaraan pribadi,” jelasnya.

Darurat transportasi perkotaan ujar Lilik menjadi semakin relevan ketika penanganan persoalan transportasi perkotaan hanya sebatas pada gejala dan belum menjawab akar masalahnya. Menurutnya, perlu ada perubahan paradigma pembangunan perkotaan untuk menjawab akar persoalan.

"Yaitu perubahan dari kota yang memfasilitasi kendaraan pribadi menjadi kota yang memprioritaskan sistem layanan transportasi massal," ujarnya.

Salah satu perubahan yang ia maksud adalah pengarusutamaan transportasi dalam pembangunan kota. Wujud nyata dari pengarusutamaan unsur perhubungan harus menjadi hal yang mendasar dalam pembangunan wilayah. Misalnya dengan memberikan porsi yang utama dalam prioritas penganggaran pembangunan wilayah.

“Artinya, penganggaran untuk urusan perhubungan harus didahulukan dan juga sudah ditetapkan presentase minimalnya. Hal ini menunjukkan bahwa political will benar-benar menjadikan sektor transportasi sebagai sektor yang mendasari sektor yang lain,” terang Lilik.

Ia juga merasa perlu untuk meluruskan mispersepsi yang memandang kemacetan sebagai akar masalah kegagalan perencanaan transportasi perkotaan. Transportasi, menurutnya, adalah alat pencapaian tujuan pembangunan kota. Keberhasilan sektor transportasi karenanya tidak hanya berbasis pengembangan supply tetapi juga yang utama mengelola kebutuhan atau demand.

Transportasi perkotaan memiliki peran yang strategis di dalam membentuk peradaban kota. Permasalahannya, sektor transportasi sering kali tidak diletakkan pada posisi yang tepat.

Ditegaskan bahwa, persoalan transportasi perlu mendapat perhatian yang segera dan serius serta menjadi prioritas dalam pembangunan kota. Urusan transportasi itu sangat penting.

"Kalau transportasinya bermasalah, semua aktivitas lainnya bisa bermasalah,” ucapnya.

Dalam seminar ini, ia memaparkan berbagai persoalan seputar transportasi yang terjadi di Indonesia. Di antaranya tingkat kemacetan di ibu kota yang menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, kerugian ekonomi yang ditimbulkan kondisi tersebut, serta rasio fatalitas kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?