Langgar Agung, salah satu petilasan Pangeran Diponegoro di Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman,Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. (foto; Narwan, S.Pd)

Tokoh

Melongok Petilasan Diponegoro di Bukit Menoreh

SMP Mutual Kota Magelang

Siedoo, Dalam mengenang jasa para pahlawan, tidak cukup hanya dengan upacara peringatan Hari Pahlawan saja. Meneladani dan melanjutkan perjuangan di era globalisasi ini sesuai profesi masing-masing akan lebih berarti.

Tidak hanya sekedar tabur bunga di makam pahlawan, namun bagaimana kita mengetahui, merawat dan peduli terhadap peninggalan, petilasan para pahlawan menjadi sangat penting di era industri 4.0 ini.

Ada beberapa peninggalan pahlawan yang kadang kita belum tahu apalagi mengunjungi. Untuk mengenang wafatnya Pangeran Diponegoro tanggal 8 Januari 1855, kita coba mengetahui beberapa petilasan Pangeran Diponegoro di wilayah pegunungan Menoreh. Khususnya di wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

  1. Tempat Peristirahatan

Selama melakukan gerilya, Pangeran Diponegoro selalu berpindah tempat di wilayah Kedu Selatan. Bersama pengikutnya yang setia, Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda antara tahun 1825-1830.

Mulai dari gua Selarong di Yogyakarta menyusuri pegunungan Menoreh yang memanjang ke barat hingga daerah Purworejo.

Dalam masa perlawanan itu banyak tempat yang disinggahi dan sekarang masih bisa dilihat berbagai petilasan Pangeran Diponegoro tersebut. Salah satunya berada di Dusun Kalipucung, Desa Kalirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Petilasan ini berupa 2 pohon beringin.

Menurut penuturan Haryono (61), yang merupakan keturunan ke-6 Simbah Saleh Kiai Raji. Tempat itu mula-mula ditengarai dengan pohon Blongkang. Sejenis tanaman keras berdaun kemerahan dan batangnya tegak lurus hingga puluhan meter.

Ketika mencapai ketinggian lebih kurang 20 meter, pohon itu tumbang, dan Kiai Raji menggantinya dengan pohon beringin.

Ketika melakukan perjalanan dari Selarong ke arah barat, Pangeran Diponegoro beserta para prajuritnya menyusuri pegunungan Menoreh dan istirahat sebelum memanjat bukit Banyak Angrem. Di situlah Pangeran menancapkan sebatang tongkat kayu untuk menambatkan tali kudanya.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Diponegoro memerintahkan dua prajuritnya untuk tinggal di situ dan mendirikan rumah persinggahan. Mereka adalah Saleh alias Kiai Raji dan Demang alias Kiai Sampir. Yang kelak dikenal dengan sebutan Simbah Saleh Kiai Raji dan Simbah Demang Kiai Sampir.

Sebagai tanda kesetiaan dua prajurit itu, Diponegoro memberi sebuah ikat kepala untuk Saleh dan sebuah jubah beserta ikat pinggang kepada Demang. Usai memberi amanat tersebut, beliau beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan. Oleh Saleh bekas tancapan tongkat itu ditanami pohon Blongkang.

Kedua prajurit itulah yang menjadi cikal bakal penduduk Kalipucung. Makam keduanya masih terawat baik di dusun itu hingga sekarang. Setiap bulah Ruwah pada kelender Jawa, penduduk setempat melakukan upacara Nyadran untuk mendoakan arwah leluhur mereka.

Petilasan itu kini memang jarang dikunjungi, namun penduduk setempat tetap merawat semampunya. Dengan gotong royong petilasan itu mereka pagari dengan tembok.

Hal ini karena belum pernah ada bantuan apa pun dari pemerintah atau dinas terkait. Menurut Haryono, karena tidak ada bukti tertulis yang menjelaskan tentang petilasan tersebut.

Memang nenek moyang mereka tidak meninggalkan catatan atau buku-buku sejarah petilasan itu. Namun demikian mereka sebagai keturunannya tetap merawat dan menuturkan sejarah ini secara turun-temurun.

 

  1. Jubah dan Ikat Kepala

Selain petilasan Pangeran Diponegoro tersebut, di rumah Haryono masih tersimpan peninggalan Pahlawan Gua Selarong itu. Peninggalan itu berupa jubah dan ikat kepala beserta ikat pinggang.

Di atas telah diceritakan tentang pemberian tanda kesetiaan dari Diponegoro kepada dua prajuritnya, Saleh alias Kiai Raji dan Demang alias Kiai Sampir.

Jubah beserta ikat pinggang pemberian Diponegoro merupakan benda pusaka bagi Demang. Maka dia tidak berani memakainya. Saking patuhnya kepada Pangeran Diponegoro, jubah pemberian itu meskipun tidak pernah dipakai namun selalu dibawanya kemana dia pergi.

Jubah itu ‘disampirkan’ di pundaknya, seakan tidak pernah ditanggalkan. Sehingga, Demang itu mendapat julukan Demang Kiai Sampir.

Sementara menurut penuturan Haryono, ikat kepala yang diterima oleh Kiai Raji juga tidak dipakainya, hanya disimpan. Ikat kepala itu terbuat dari ‘klari’ (seludang pelepah daun kelapa).

Benda pusaka itu hingga kini masih tampak berujud ikat kepala, sedangkan jubah Diponegoro yang semula berwarna putih, kini sudah berubah menjadi coklat dan sudah rusak. Hanya ikat pinggang, ‘timang’ (gesper), dan bandul ikat pinggang terbuat dari tempurung kelapa semuanya masih bagus.

 

  1. Goa Lawa

Pada masa perlawanan Pangeran Diponegoro, banyak para prajurit Kraton Yogyakarta yang mencari persembunyian di tempat yang dianggap aman untuk kelangsungan perjuangan dan hidup mereka. Mereka menyusuri hutan di daerah-daerah pegunungan termasuk pegunungan Menoreh sebelah utara.

Ikat kepala, jubah, dan ikat pinggang peninggalan Pangeran Diponegoro. Kini disimpan keluarga Haryono di Dusun Kalipucung, Desa Kalirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. foto: Narwan, S.Pd / Siedoo

Dari arah kraton mereka pergi ke barat laut menuju daerah pegunungan. Mulai dari daerah yang sekarang dikenal dengan Samigaluh (Kabupaten Kulonprogo) naik hingga puncak Suralaya menyusuri igir pegunungan dan turun di lereng pegunungan Menoreh yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Dalam perang melawan Kolonial Belanda, Pangeran Diponegoro senantiasa menyambangi para pengikutnya. Termasuk mereka yang menetap di perbukitan Menoreh.

Ketika di daerah ini, Pangeran Diponegoro tidak tidur di rumah para pengikutnya, namun beliau bermalam di sebuah gua yang menjadi sarang kelelawar, di sebuah bukit yang penuh batu marmer. Kemudian gua itu dikenal dengan sebutan ‘Gua Lawa’ yang berarti gua kelelawar.

Gua ini yang kemudian di masa merdeka banyak dikunjungi anak muda atau para pecinta alam. Lantai gua berupa kolam beberapa meter panjangnya. Kemudian di seberang kolam berupa batuan marmer yang licin.

Ada tempat datar di dalamnya yang dahulu digunakan Pangeran Diponegoro untuk bermalam selama di daerah itu. Baru pada pagi hari Pangeran Diponegoro turun menemui para pengikutnya, menyusun strategi dan rute gerilya.

‘Gua Lawa’ ini menjadi tempat yang dihormati mengingat sejarahnya. Tersiarnya gua ini, maka banyak yang kemudian mengunjungi sekedar melihat tempat bersejarah atau memang sebagai pecinta alam yang gemar tantangan mendaki perbukitan.

Namun sayang, ketika penambangan marmer mulai beroperasi tahun 2003, praktis Gua Lawa tidak dapat lagi dikunjungi secara umum karena masuk dalam area penambangan. Hanya lewat izin tertentu dengan tujuan kunjungan tertentu yang diperbolehkan masuk ke gua itu.

 

  1. Langgar Agung

Langgar Agung sekarang ini disebut Masjid Langgar Agung. Dinamakan Masjid Langgar Agung karena ukurannya kecil mirip Langgar, namun karena jamaahnya banyak dan sering digunakan untuk salat Jumat, sehingga dinamakan Masjid Langgar Agung

Masjid Langgar Agung hingga kini masih digunakan oleh masyarakat Dusun Kamal, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya seperti haul Pangeran Diponegoro.

Menurut sesepuh masyarakat Desa Menoreh, Kyai Djarwani (68), sekitar lokasi masjid dulunya merupakan hutan belantara. Ketika Pangeran Diponegoro akan berunding dengan pihak Belanda di Magelang dan pasukan Diponegoro hendak melaksanakan salat, dibuatlah tatanan batu untuk alas salat, atau Langgar.

Sekitar tahun 1960-an, atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo dimulailah pembuatan pondasi masjid, dengan letak pengimaman berada di atas tatanan batu alas sholat itu. Tahun 1972 pembangunan masjid selesai dilakukan dan kemudian dinamakan Masjid Langgar Agung.

Sampai saat ini Masjid Langgar Agung masih dimanfaatkan warga, termasuk pada saat peringatan haul atau peringatan hari wafat Pangeran Diponegoro yang diperingati setiap tanggal 8 Januari. (dirangkum dari hasil wawancara langsung dengan keturunan Pangeran Diponegoro, tokoh masyarakat setempat, dan literasi sejarah). (*)

 

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Tempuran

Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?