Ketua Pusat Studi Kelautan LPPM ITS sekaligus Ketua Pelaksana Senta 2018, Nur Syahroni PhD, saat memberi sambutan.

Nasional

Negara Maritim Wacanakan Pembangkit Listrik Tenaga Arus

DPRD Kota Magelang

SURABAYA - Dalam sektor maritim, pemerintah melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM melakukan beberapa upaya pengembangan pilot project energi laut. Pilot project kegiatan proyek pengujian dalam rangka menunjukkan keefektifan dan dampak program yang dilakukan Ditjen EBTKE juga menggandeng beberapa pihak agar dapat berjalan lancar.

Di antaranya yakni kerjasama studi potensi pembangunan pilot project pembangkit listrik tenaga arus dengan Agence Francaise de Development (AFD) dari Prancis. Kemudian juga adanya kerjasama dengan Pemerintah Austria untuk membangun pilot project pembangkit listrik tenaga arus laut yang sedang dalam tahap diskusi terkait pendanaan.

"Sedangkan dengan instansi dalam negeri, Kementerian ESDM dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Energi Arus Laut yang berintegrasi dengan Jembatan Pancasila Palmerah di Selat Larantuka. Dengan kapasitas 30 Mega Watt dan investasi kurang lebih 215 juta USD," kata Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Harris ST MT.

Ia menyampaikan itu saat Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menghelat Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi (SENTA) di Gedung Riset Center. Menurut Harris, untuk sektor kelautan ini Indonesia memang masih kurang dikembangkan dibanding sektor energi yang lain.

Hal ini disebabkan karena pemanfaatan sektor kelautan sebagai sumber energi masih pada tahap pengembangan riset. Riset terkait juga sudah banyak dilakukan oleh banyak lembaga.

Hanya saja, kolaborasi antarlembaga riset yang masih kurang optimal dikembangkan. Sehingga hasilnya masih kurang maksimal. "Suatu saat kita perlu pertemukan lembaga-lembaga ini. Bahkan dengan pihak luar yang memiliki teknologi canggih," jelasnya.

Ketua Pelaksana SENTA 2018 Nur Syahroni PhD menyampaikan bahwa, tema Teknologi Maritim dalam Kedaulatan Pangan dan Energi diangkat karena potensi Indonesia dalam sumberdaya pangan dan energi sangatlah besar. Pengelolaan yang baik diperlukan agar Indonesia tidak selalu bergantung dengan negara lain sebagai pemasok energi dan pangan.

Jika hal ini tidak dilakukan, maka Indonesia tidak akan dapat maju bersaing dengan negara-negara lainnya. "Upaya peningkatan kedaulatan pangan dan energi ini melalui pengembangan teknologi maritim yang mendukung pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia," jelas Ketua Pusat Studi Kelautan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITS ini.

Seminar tahunan yang ke-18 ini merupakan sebuah wadah forum bagi para peneliti dan engineer dalam bidang teknologi maritim baik dari Indonesia maupun mancanegara. Diawali dengan seminar berskala nasional pada 2001, SENTA diperluas menjadi seminar berskala internasional sejak tahun 2016. Berbagai narasumber kompeten dari luar negeri pun didatangkan sebagai pembicara pada seminar ini. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang