Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti, Prof Ocky Karna Radjasa (pegang mic) saat akan meresmikan acara IMRC Forum 2018. foto : Humas ITS

Internasional

IMRC 2018, Implementasi Hasil Penelitian Diharapkan Bisa Selesaikan Masalah


SURABAYA – Pagelaran Indonesia Malaysia Research Consortium (IMRC) 2018 diisi dengan gelaran forum yang diikuti para pimpinan dari delapan perguruan tinggi di Malaysia dan 28 perguruan tinggi dari Indonesia di Gedung Rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur. Forum konsorsium ini diinisiasi oleh ITS dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian antara kedua negara, diharapkan forum ini dapat bermanfaat bagi sivitas akademika kampus masing-masing. Kegiatan juga diharapkan dapat menambah kuantitas research paper hasil kerjasama ITS dengan Malaysia.

“Karena sejauh ini Malaysia berada di peringkat tiga jika dilihat kerjasama di bidang penelitian dengan ITS selama ini,” kata Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD.

Guru besar Departemen Teknik Lingkungan itu berharap, acara ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian yang dilaksanakan oleh Indonesia dan Malaysia. Tidak hanya itu implementasi dari hasil penelitian diharapkan bisa membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat, baik itu di Indonesia maupun Malaysia.

Rektor menjelaskan, kerjasama ini tidak akan berhenti pada forum diskusi dan seminar saja. Namun akan merambah juga dalam kegiatan pertukaran staf dan mahasiswa, penelitian serta publikasi hasil penelitian bersama. Untuk menindaklanjuti hasil pertemuan kali ini, agenda terdekat yang diharapkan dapat berlangsung adalah joint research pada tahun 2020.

“Tidak menutup kemungkinan topik strategis yang dibahas konsorsium nantinya akan bertambah. Karena ilmu dan teknologi selalu berkembang dan bersifat dinamis,” urainya dalam konferensi pers di sela perhelatan IMRC Forum 2018.

Forum konsorsium yang diinisiasi oleh ITS dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sejak tiga tahun lalu tersebut, adalah hasil tindak lanjut dari pertemuan anggota konsorsium yang dilaksanakan di Kuala Lumpur dua tahun yang lalu. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kerjasama di bidang penelitian antara Indonesia dan Malaysia.

Pada seminar yang menjadi salah satu rangkaian forum menyajikan lebih dari 80 paper peneliti dari kedua negara, serta beberapa paper peneliti dari Jepang dan Taiwan yang mengangkat topik utama energi terbarukan atau green energy. Topik ini dianggap krusial untuk mencari solusi pengganti dari penggunaan energi fosil, yang semakin langka keberadaannya seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi.

Tidak hanya itu, topik kesehatan dan penanggulangan bencana (disaster management) juga dibahas dalam forum ini. Sementara itu, menurut Director General Departement Higher Education Kementerian Pendidikan Malaysia, Datin Paduka Siti Hamisah Tapsir, ini merupakan kerjasama yang sangat bermanfaat bagi kedua pihak.

“Untuk menghasilkan penelitian yang memiliki dampak besar dan berguna bagi masyarakat, kita perlu bertukar wawasan dan informasi mengenai perkembangan teknologi di negara masing-masing,” ujarnya.

Prof Dr Ocky Karna Radjasa MSc, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemerinstekdikti) RI menyatakan bahwa pemerintah mendukung penuh kegiatan ini. Pemerintah memiliki peran sebagai penyokong untuk menyediakan dana riset.

“Terutama karena ketiga topik utama yang dibahas termasuk dalam prioritas penelitian yang tercantum dalam Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) tahun 2017-2045,” jelas alumni University of Tokyo tersebut. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?