Siswa gabungan dari Kecamatan Borobudur mengikuti istighosah untuk menghadapi UN.

Daerah

Hadapi UN, Ribuan Siswa Gelar Istighosah

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Ribuan siswa mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Dasar, SMP, SMA, Madrasah Aliyah se Kecamatan Borobudur berkumpul di Panti Asuhan dan Dhuafa Brayat Alfalah di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Para siswa melakukan doa bersama istighosah karena akan mengikuti Ujian Nasional yang akan di aksanakan bulan depan. Pada kesempatan tersebut, para siswa juga berdoa untuk bangsa, biar bisa lepas dari bencana halangan menuju negara besar, adil, makmur dan sejahtera.

Istighosah merupakan kegiatan rutin untuk para pelajar dibawah pendidikan Maarif, yaitu berdoa untuk menghadapi ujian hidup. Terutama pada saat ini, mereka tengah mempersiapkan Ujian Nasional di sekolahnya. Ada yang unik dari kegiatan istighosah kali ini, yaitu siswa membawa balon satu persatu serta tulisan yang ditempelkan berisi doa impiannya.

Isi doa agar sukses lulus Ujian Nasional ataupun doa untuk negeri tercinta Indonesia. Meski dengan penuh harap berdoa, persiapan belajar mata pelajaran secara maksimal juga merupakan tugas pokok yang mereka persiapkan. Bahkan, belasan anak yatim piatu Brayat Alfalah Khidmat juga mengikuti Istighosah.

“Keprihatinan terhadap moral, sopan santun, ahklak, agama yang kurang sejak usia dini, menjadikan bangsa yang tingkat korupsinya tinggi. Moralitas oknum pemimpin bangsa yang rendah, menjadikan bangsa kita terpuruk dalam semua hal di banding negara lain,” ujar Ketua Pengurus Yayasan Panti Asuhan Brayat Alfalah Sutrasdno.

Menurut dia, dengan melihat kondisi itu, pentingnya pengkajian kembali sistem pendidikan dasar di sekolah. Selain itu, juga pentingnya mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan yang begitu cepat. Lembaga Ma’arif yang merupakan lembaga kegiatan masyarakat dan pendidikan Islam, mengambil peran istighosah untuk bangsa.

Yang menarik dari prosesi istighosah kali ini, yaitu doa dipimpin sembilan orang ulama se Kecamatan Borobudur. Padahal, selama ini doa dipimpin hanya seorang ulama. Sembilan ulama dilibatkan itu untuk mengingatkan kembali ingatan, kepada sembilan orang Waliyullah (Walisongo) zaman dahulu. Mereka sangat kompak hidup rukun dalam tim syiar Islam

“Dengan cara cerdas, pintar dan santun dalam mensyiarkan agama Islam, merubah budaya dari Hindhu ke Buddha menjadi negeri muslim terbesar di dunia,” jelas pengurus harian Yayasan Panti Asuhan Dan Dhuafa Ikhwan.

Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang, muspika dan para kiai yang memimpin acara tersebut. Tak kalah menarik, acara juga diramaikan kesenian Baduwi, dengan anak anak yang yang menari, melafalkan lagu Sholawat Nabi. Ada juga acara tausiyah motivasi untuk anak anak. Diakhir acara ada pelepasan balon umbul doa dan hiburan Kobrosiswo sebagai kegiatan penutupan acara Istighosah.

Apa Tanggapan Anda ?