Nasional

Layani Pendidikan 186 Ribu Siswa, Pemerintah Dirikan Sekolah Darurat di Palu

JAKARTA - Sebanyak 186 ribu siswa terganggu layanan pendidikan pasca-gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Poppy Dewi Puspitawati dilansir IDN Times mengatakan, para siswa tersebut tersebar di 1.724 satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK.

“Tiga kabupaten terparah yaitu Kota Palu, Donggala, dan Sigi,” kata Poppy di Graha BNPB Jakarta.

Dijelaskan Poppy, akibat bencana tersebut, sebanyak 22 guru meninggal dunia dan 14 orang hilang terseret arus tsunami dan tertimbun reruntuhan bangunan.

“Kemungkinan banyak siswa yang terseret tsunami saat mengikuti gladi resik Festival Palu Nomoni dan ada Bibie Camp yang terhisap lumpur di Jono Oge, Kabupaten Sigi,” jelasnya.

Selain itu, tercatat 23 siswa meninggal dunia, 35 orang hilang dan satu orang mengalami luka berat. Sementara, sekolah yang rusak akibat peristiwa itu 422 unit.

“Sebanyak 422 itu total dari empat kabupaten di Kota Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Itu dari PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK, ya. Untuk yang rusak ringan itu paling banyak di Kota Palu dengan total 215,” ungkap Poppy.

Poppy juga menjelaskan masih banyak siswa, guru, dan pegawai dinas pendidikan yang mengungsi di gunung dan atau keluar Sulawesi Tengah. Namun pendataannya masih belum optimal karena terkendala komunikasi, terutama di Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Guna memulihkan layanan pendidikan, Kemendikbud kini mendirikan sekolah darurat berkapasitas tujuh ruang sebanyak 333 unit. Selain itu, mendirikan dua tenda, satu tenda standar UNICEF di daerah Patebo, dan 20 unit tenda yang sedang disiapkan.

Untuk penanganan pasca-bencana Palu, pemerintah menyiapkan bantuan tunai untuk guru dan tenaga kependidikan terdampak Rp 180 juta untuk 180 orang. Selain itu, pelatihan guru pasca-bencana (trauma konseling) Rp 10 miliar, bantuan pelatihan untuk 100 guru sebesar Rp 300 juta, dan 19 program peningkatan kompetensi guru pendidikan dasar Rp 600 juta untuk 170 orang.

Dengan persiapan itu diharapkan sarana dan prasarana untuk sekolah di daerah tersebut segera terlengkapi, dan anak-anak bisa kembali memperoleh layanan pendidikan. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?