Nasional

Guru Difokuskan Pada Peningkatan Metode Pembelajaran

JAKARTA - DALAM menghadapi abad 21, guru akan difokuskan pada peningkatan kualitas metode pembelajaran yang mendorong aktivitas untuk mempraktikkan pengetahuan. Selain itu, juga peningkatan metode pembelajaran yang mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills (HOTS).

”Apa yang disampaikan Mendikbud, kita ini bukan lagi meningkatkan kompetensi guru dalam penguasaan arti ilmu pengetahuan. Yang ingin kita lakukan adalah peningkatan guru dalam proses pembelajaran,” ujar Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Supriano, di Jakarta,dilansir laman suaramerdeka.com.

Pengembangan kompetensi guru lebih fokus pada ranah pedagogik. Sehingga akan merujuk pada potret mutu yang sudah cukup spesifik, seperti analisis hasil ujian nasional (UN). Misalnya, pada mata pelajaran Matematika, ada masalah apa pada Geometri atau Aljabarnya.

Maka guru akan difokuskan dalam proses peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Jadi bisa diartikan bila di suatu zona masih rendah, maka para guru di zona tersebut akan berdiskusi tentang strategi peningkatan mutu mata pelajaran Matematika di zona tersebut.

”Tentu, ada guru di zona itu yang pintar materi itu, nanti didiskusikan di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di zona itu. Jadi, namanya peningkatan kompetensi proses pembelajaran,” tutur Supriano.

Melalui pendekatan sistem zonasi, pemerintah akan mendorong pelatihan guru profesional oleh MGMP dan Kelompok Kerja Guru (KKG).

”Yang menyiapkan guru inti dan instruktur kabupaten/kota itu Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Kami di Ditjen GTK yang menyiapkan model pembelajarannya, kemudian unit-unit pembelajaran, bukan modul. Guru inti menjadi fasilitator bersama guru-guru di zona itu,” jelasnya.

Paradigma guru masa kini hendaknya menjawab empat tantangan besar, di antaranya revolusi industri 4.0, globalisasi, kebutuhan domestik terkait daya saing, dan penyediaan tenaga kerja serta mendidik generasi Z.

Perubahan dunia yang begitu cepat dan tidak linear ini mengubah cara bekerja dan belajar. Untuk itu, pendidikan masa depan harus berpusat pada siswa, baik secara aspek akademis maupun kepribadian (karakter). Terkait dengan posisi guru pada era revolusi industri 4.0, Supriano mengingatkan agar para guru tidak melupakan perannya sebagai pendidik.

Guru harus mampu menjadi teladan agar bisa menjalankan pendidikan karakter yang sangat penting pada masa depan.

”Dengan perkembangan teknologi, mengajar bisa dilakukan tanpa guru. Kalau cuma mengajar saja, guru bisa digantikan. Sebagai pendidik, guru masih akan dibutuhkan sampai kapan pun,” tambahnya.

 

Siedoo/NSK

Apa Tanggapan Anda ?