Daerah

Ketika Mahasiswa Mengerjakan Ujian, Mengenakan Pakaian Adat

SURABAYA - Suasana pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur sangar berbeda dari ujian biasanya. Para mahasiswa mengenakan pakaian "tidak umum", yaitu busana adat daerah yang ada di nusantara.

Busana adat yang mereka kenakan sangat bervariasi. Ada yang mengenakan pakaian adat Betawi, Dayak, Jawa Timur-an, Madura, Makassar dan bahkan juga ada yang mengenakan Kencongan pakaian adat Yogyakarta yang biasanya dikenakan oleh anak-anak.

“Biasanya kan tegang kalau ujian. Tapi dengan berpakaian seperti ini kita bisa lebih menjiwai dan lebih santai,” ujar Rohmatus Shifa, salah satu peserta ujian.

Mahasiswi semester enam Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ini mengaku awalnya sedikit kerepotan saat mengenakan busana adat Jawa. Namun, dengan berbalut kebaya modern ungu dan mengenakan bawahan kain, serta jilbab yang selaras, ia malah merasa lebih nyaman dengan suasana ujian.

"Terkesan tidak terlalu formal seperti ini," kata mahasiswi asal Mojokerto ini.

Begitu pula dengan Unzila, mahasiswi asal Makassar yang mengaku bangga bisa mengenakan busana adat daerahnya sendiri. Dengan mengenakan busana adat Makassar, ia juga bisa menunjukkan kepada mahasiswa yang lain.

"Keindahan busana yang ada di daerah saya,” ungkapnya bangga.

Pada ujian mata kuliah Desain 4 bagi mahasiswa semester akhir Teknik Sistem Perkapalan ini, memang kampus mewajibkan peserta untuk mengenakan busana adat daerah dari seluruh Indonesia. Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, Dr Eng M Badrus Zaman ST MT menjelaskan, tujuan pertama mewajibkan busana daerah Indonesia ini adalah melatih mahasiswa untuk menerima keberagaman dan bermental Bhinneka Tunggal Ika. Kedua, nantinya saat mahasiswa lulus dan terjun secara langsung ke masyarakat diharapkan bisa lebih memahami Indonesia secara utuh dan memahami keberagaman yang ada di masyarakat.

Prof Semin (duduk) menanyakan hasil presentasi para peserta ujian Desain 4 Siskal ITS.

Menurut Doktor lulusan Kobe University, Jepang ini, kewajiban mengenakan kostum tematik saat ujian ini merupakan tradisi yang sudah lama berjalan di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS. Dimulai sejak tahun 2003 dan hingga saat ini masih terus dipertahankan. Bahkan, sebelumnya peserta ujian juga pernah diwajibkan mengenakan kostum superhero untuk memperingati Hari Pahlawan.

“Kami sesuaikan setiap semester untuk tema pakaiannya dan kebetulan kali ini bertepatan dengan momen Hari Lahir Pancasila. Karena itu kita usung tema ke-bhinnekaan ini,” ungkap Badrus.

Di Siskal ini terdapat empat mata kuliah bidang desain kapal. Ujian Desain 4 merupakan ujian final bagi para mahasiswa semester akhir di departemen ini.

“Bobot ujian Desain 4 ini sama seperti Tugas Akhir (TA). Sehingga diharapkan nanti mahasiswa memahami seluruh sistem yang ada di kapal,” ujarnya.

Ujian dengan sistem presentasi itu mengujikan sistem pelumasan, sistem perpipaan, sistem kelistrikan, navigasi dan sistem pendingin yang ada di dalam sebuah kapal. Luarannya adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana merancang sistem dalam sebuah kapal.

Tiap kelompok menghadap seorang dosen penguji dan mempresentasikan desain sistem perkapalan rancangan mereka. Bagi mahasiswa program Double Degree, harus mempresentasikan rancangannya dalam bahasa Inggris.

Untuk tahun ini, ujian diadakan secara berkelompok atau tim. Sebanyak 80 mahasiswa dibagi menjadi dua, sehingga satu tim terdiri dari dua orang.

“Agar kelak ketika mereka terjun di dunia kerja, sistem teamwork mereka juga sudah terbangun dengan baik,” jelas dosen yang juga pakar keselamatan transportasi laut itu.

Apa Tanggapan Anda ?