CIKAL. Sekolah Cikal menjadi sekolah berbasis kompetensi pertama Indonesia di tahun 1999. (foto: sekolahcikal)
Siedoo.com - CIKAL. Sekolah Cikal menjadi sekolah berbasis kompetensi pertama Indonesia di tahun 1999. (foto: sekolahcikal)
Opini

Faktor-Faktor Pengembangan Kecerdasan Emosional Anak dan Cara Mengoptimalkannya

Siedoo, Momen masuk sekolah secara tatap muka penuh telah kembali, dalam hal ini penting bagi orang tua untuk melihat, mengamati dan mengasah kecerdasan emosional anak.

Optimalisasi kecerdasan anak dapat mengarah kepada pengembangan diri anak yang lebih utuh dalam membangun interaksi yang baik dengan teman sebaya hingga penyelesaian masalah.

Psikolog Klinis Anak dan Konselor Sekolah Cikal, Winny Suryania, M.Psi, Psikolog menjelaskan bahwa terdapat faktor-faktor penting dan cara-cara yang dapat perhatikan dalam langkah pengembangan dan proses optimalisasi kecerdasan emosional anak sebagai berikut,

Faktor-faktor Kecerdasan Emosional Anak

Menurut Winny, terdapat dua faktor yang memengaruhi dan mendukung pengembangan kecerdasan emosional anak dalam kesehariannya sejak dini, antara lain faktor internal dan eksternal.

Pada anak ada faktor internal dan external. Internal mencakup keadaan emosional anak, tempramen, dan kognitif. Untuk faktor eksternal sendiri yakni dari dukungan sosial atau lingkungan sekitar anak, misalnya keluarga terdekat, sekolah dan teman-temannya. Pada faktor eksternal sendiri anak bisa diberikan contoh untuk memperkuat perilaku tertentu.

Ia pun menyebutkan salah satu contoh keseharian yang dapat dilakukan secara berkala misalnya di momen anak bercerita tentang keseharian di sekolah, saat anak pulang saat bermain dengan teman-teman, dan atau saat bermain dengan orang tua. Bagi Winny, mendengarkan, dan membahas bersama apa yang dirasakan dengan anak adalah salah satu latihan yang baik.

Misalnya melalui bermain kita sebagai orang tua mau mendengarkan mereka saat berbicara, memvalidasi perasaan mereka saat bercerita, dan berempati dengan apa yang mereka rasakan. Selain itu mulai membahas topik terkait emosi dengan anak juga sudah menjadi bagian dari membantu anak-anak belajar tentang perasaan, dan membangun kosakata emosional mereka.

Baca Juga :  Merombak Kurikulum, Ciptakan SDM Unggul dan Berkarakter

Cara Mengoptimalkan Kecerdasan Emosional Anak Sesuai Tahap Tumbuh Kembangnya

Sebagai psikolog Anak yang juga berkontribusi di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Indonesia, Winny menyebutkan rekomendasi langkah mengasah dan megoptimalkan kecerdasan Emosional Anak di mulai jenjang Prasekolah-SMA, sebagai berikut:

●               Jenjang Prasekolah dan TK

Orang tua dapat memulainya dengan membangun reaksi positif tanpa menghakimi emosi yang dirasakan oleh anak dan kemudian membahas lebih dalam makna emosi yang dirasakan dalam diri manusia, termasuk yang dirasakan oleh anak. Contohnya dapat bervariasi mulai dari menanyakan perasaan hari ini, dan menanyakan hal-hal yang membuat senang atau sedih.

Untuk jenjang usia dini dan TK, orang tua bisa dimulai dengan bereaksi positif terhadap emosi yang dirasakan, misalnya memvalidasi perasaan anak, memeluk saat menenangkan anak saat sedih, dan membiasakan berbicara dengan anak-anak tentang emosi dan mendorong mereka untuk menyebutkan emosi tersebut. Misalnya mengenalkan emosi dasar, memberi nama emosi dan membantu anak untuk belajar bahwa emosi itu normal. Dikesempatan sehari-hari contohnya “bagaimana perasaanmu hari ini?” “aktivitas apa membuat kamu senang?” “hal apa yang membuat kamu sedih?”.

●               Jenjang SD dan SMP

Di jenjang ini, fokus yang ditekankan bukan lagi mengenali dan mengekspresikan emosi, melainkan mengidentifikasi hal yang memicu emosi dan mengelola emosi. Orang tua dapat membangun diskusi dengan bijak mengenai hal-hal serta strategi yang dapat dilakukan dalam pengelolaan emosi diri bersama anak.

Untuk tingkat SD dan SMP, regulasi emosi bukan hanya tentang mengekspresikan emosi dengan cara yang sesuai secara sosial. Pada tahap ini melibatkan, mengajar anak-anak untuk mengidentifikasi emosi, membantu mereka mengidentifikasi apa yang memicu emosi itu, dan mengajari mereka untuk mengelola emosi itu sendiri. Memodelkan perilaku yang sesuai juga saat bereaksi terhadap emosi yang dirasakan dan menunjukkan beberapa strategi saat menemui kendala.

Baca Juga :  Waspadai, Kurang Asupan DHA Bisa Ganggu Daya Pikir dan Prestasi Anak

●               Jenjang SMA

Di jenjang ini, orang tua dapat memberikan pendampingan kepada anak dengan menjadi teman bercerita yang selalu dapat menjadi pendengar dan memberikan masukan yang tepat dan positif. Kenyamanan didengarkan, serta menghargai pendapat tanpa penghakiman adalah titik penting yang menjadi poin dalam pengembangan dan momen mengoptimalkan kecerdasan emosional anak di masa remaja,

Pada tingkat SMA, diharapkan anak-anak sudah mampu mengidentifikasi emosi, memahami sebab-akibat, dan memiliki strategi untuk mengelola emosi yang baik. Yang perlu diperhatikan adalah memberi kenyamanan untuk mereka tempat bercerita tanpa memberikan penilaian terlebih dahulu.

Dengarkan dan hargai pendapat mereka sebagai remaja tentang masalah dan strategi yang mereka pahami, tetap memonitor kondisi emosi mereka, dan memberikan masukan pada saat yang tepat. Yang pasti orang tua/caregiver dapat membangun koneksi yang baik, hangat dan positif bersama anak dan berikutnya melakukan strategi sesuai dengan usia perkembangan anak.

Wah, ternyata peran orang tua dalam memahami hingga mendampingi pengembangan kecerdasan emosional anak harus disesuaikan dengan tahapan perkembangannya ya! Semoga dapat menjawab rasa ingin tahu dan kesiapan pendampingan yang lebih bermakna bagi para orang tua ya. (*)

Penulis

*)Tim Digital Cikal

Apa Tanggapan Anda ?