Inovasi

Mahasiswa Berdayakan Masyarakat, Ubah Jagung Jadi Mie Rendah Lemak

Siedoo, Mahasiswa Yogyakarta mengolah jagung menjadi mie yang lebih bernilai ekonomis. Pengolahan ini dilakukan mahasiswa agar masyarakat lebih berdaya untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Mereka menyelenggarakan pelatihan pembuatan mie jagung karena jagung merupakan hasil panen utama di Padukuhan Bendogede 1, Bendogede 2 dan Padukuhan Mendak, Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Harga jagung yang relatif murah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bahan pangan lain yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” kata Yuliantika Puteri Wardani, salah satu tim mahasiswa.

Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi memiliki Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D), salah satu agenda kegiatan berupa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tujuannya adalah menumbuhkan rasa peduli mahasiswa dan berkontribusi kepada masyarakat desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri, berwirausaha, dan sejahtera.

Salah satu tim yang mendapat program ini adalah BEM Fakultas MIPA UNY yang mengusung tema ‘Pengadaan Sentra Industri Jagung Melalui Inovasi Ekonomi Kreatif dan Peningkatan Taraf Kesejahteraan Pendidikan di Kalurahan Sumbergiri Kapanewon Ponjong Kabupaten Gunungkidul’. Kegiatan yang diadakan adalah pemberdayaan komoditas jagung dan peningkatan taraf kesejahteraan pendidikan di Padukuhan Bendogede 1, Bendogede 2 dan Padukuhan Mendak, Kalurahan Sumbergiri, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.

Tim terdiri dari Ketua Tim Dhanu Sancoko dengan anggota Alifah Nida Luthfiyah, Amri Shabirin, Fadilla Panca Syaputri, Fadly Ryan Wicaksana, Fauzan Jarqi, Hanifah, Maharani Andita Mayangsari, Mughnika Alimmaristya Muazzam, Muhammad Zaky Alfiansyah, Rizka Atika Nur Azizah, Sofia Erna Wati, Wina Afifah Putri, Wulan Febrianingsih dan Yuliantika Puteri Wardani.

"Dipilih pembuatan mie karena mie merupakan salah satu bahan pangan yang populer dan digemari oleh kalangan masyarakat. Peluang untuk bersaing dipasaran cukup besar dengan banyaknya peminat dan dapat dijadikan sebagai jenis usaha baru guna meningkatkan pendapatan warga," jelas Yuliantika.

Baca Juga :  Tas Topeng Panji Karya UNY, Alternatif Cendera Mata dari Gunungkidul

Sedangkan untuk pendampingan belajar siswa, BEM FMIPA memilih membuat Rumah Pintar dilatarbelakangi keresahan masyarakat. Terutama kalangan pelajar, atas terbatasnya akses jaringan internet yang menyebabkan terganggunya pembelajaran daring di masa pandemi.

Banyak dari siswa merasa tidak nyaman dan kesulitan dalam memahami materi yang diberikan oleh guru. Sehingga motivasi belajarnya menurun.

"Semoga dengan adanya pendampingan belajar dan sesi sharing di Rumah Pintar ini dapat meningkatkan taraf kesejahteraan pendidikan di ketiga dusun," bebernya.

Menurut Dhanu Sancoko, mayoritas masyarakat ketiga padukuhan di Sumbergiri ini bekerja sebagai petani dengan tanaman jagung, kacang tanah dan umbi-umbian pada banyak lahan kosong berlahan subur. Mereka memiliki etos kerja yang tinggi dalam mengelola pertanian.

“Namun sebagai dusun yang masih berkembang dengan keterbatasan fasilitas, membuat kurang optimal dalam hal produktivitas dan hasil pertanian. Sehingga rerata pendapatan masih cukup rendah,” kata Dhanu.

Oleh karena itu, dengan didukung program PHP2D mereka mengadakan pelatihan olahan jagung dan pendampingan belajar bagi anak-anak melalui program Relawan Belajar MIPA yang memanfaatkan SDM dari mahasiswa FMIPA UNY sebagai tentor. Serta, pemberdayaan untuk Karang Taruna yang akan melanjutkan pengelolaan ruang belajar tersebut.

"Sehingga dapat meningkatkan taraf kesejahteraan pendidikan di Kalurahan Sumbergiri," imbuhnya.

Mie jagung, cara lain untuk mengolah jagung. | Dok UNY

Muhammad Zaky Alfiansyah memaparkan, mie jagung ini diberi nama Mie Jahat yang merupakan akronim dari Jagung Sehat. Bahan yang diperlukan yaitu 100 gram tepung jagung, 300 gram tepung terigu, garam secukupnya, 2 sendok makan minyak, 150 ml air, 1 butir telur dan bumbu mie berupa saus dan kecap.

“Sebelum membuat mie jagung, jagung perlu digiling terlebih dahulu hingga menjadi tepung jagung,” kata Zaky.

Cara membuatnya pertama kali siapkan alat dan bahan yang digunakan. Kemudian timbang tepung terigu sebanyak 300 gram dan tepung jagung sebanyak 100 gram dan dicampurkan dalam satu wadah. Di wadah lain kocok telur dan tambahkan sedikit air lalu tuang campuran telur dan air ke dalam campuran tepung. Aduk adonan hingga kalis.

Baca Juga :  Meski di Tengah Pandemi, Pengabdian Dosen IPB University Tidak Berhenti

Bagi adonan menjadi beberapa bagian dengan tiap bagian adonan beratnya 80 gram dan digiling dengan skala 1 sebanyak 3 kali. Kemudian adonan digiling dengan skala 3 sebanyak 2 kali, lalu digiling kembali dengan skala 5 sebanyak 2 kali. Adonan yang sudah pipih kemudian dicetak menjadi mie.

Mie yang sudah dicetak diletakkan di dalam wadah yang sudah ditaburi tepung terigu. Kukus mie selama kurang lebih 10 menit lalu panggang dengan menggunakan oven selama kurang lebih 20 menit. Mie dimasukkan ke dalam kemasan berserta juga bumbu-bumbunya, dan mie siap dikonsumsi atau dipasarkan.

Diungkapkan Rizka Atika Nur Azizah, bahwa mie jagung ini tinggi karbohidrat dan serat serta rendah lemak sekaligus mengandung karoten. "Sehingga aman dikonsumsi penderita autisme dan orang yang hipersensitif pada protein terigu," tandasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?