Inovasi

Mahasiswa Ciptakan Asisten Cerdas untuk Memajukan Usaha Jamur

Siedoo, Peluang usaha budidaya jamur tiram masih cukup besar. Namun demikian, tidak semua usaha budidaya jamur tiram memiliki teknologi yang mumpuni. Masih ada usaha jamur yang belum diukur suhu dan kelembabannya.

Sehingga penyiraman yang dilakukan belum disesuaikan dengan kebutuhan jamur agar tumbuh optimum. Kontrol suhu dan kelembaban hanya dilakukan dengan menyiram kumbung jamur.

Hal ini menggugah sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk membantu dengan membuat sistem asisten cerdas, sebagai alat monitoring dan pengontrolan suhu serta kelembaban kumbung jamur berbasis microcontroller, AI, dan IoT di kumbung budidaya jamur tiram. Mereka adalah Satya Adhiyaksa Ardy prodi teknologi informasi, Via Husna Mudiah prodi pendidikan teknik busana, Aisyattunnisai Tawakkal prodi pendidikan fisika, Nurul Kumara Fitriyani prodi fisika dan Tengku Khadijah Nurul Hanifah prodi kimia.

"Saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0, dimana penggunaan teknologi informasi menjadi sangat penting untuk bersaing dengan dunia global," kata Satya Adhiyaksa Ardy.

Teknologi seperti Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing adalah teknologi utama yang menopang pembangunan industri 4.0.

“Aplikasi Telegram kami gunakan untuk memonitor suhu dan kelembaban kumbung karena jauh lebih murah dibandingkan dengan mengembangkan aplikasi sendiri dan tampilannya mudah digunakan oleh mitra,” kata Satya.

Seperti diketahui, usaha budidaya jamur tiram sudah menjadi hal yang jamak di masyarakat. Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dijual di pasaran. Jamur ini mengandung banyak zat yang penting bagi tubuh, di antaranya serat, beta glucan, vitamin B, mineral, kalium, dan beberapa jenis karbohidrat.

Jamur ini baik dikonsumsi karena bebas lemak, rendah kalori, dan bebas kolesterol. Salah satu budidaya jamur di Dusun Barepan, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY adalah milik Toni Hidayat. Usaha ini telah berdiri sejak bulan Januari 2010 dengan omset sekitar Rp 7,2 juta per bulan.

Baca Juga :  Pengelolaan Kelas TK Sebagai Persiapan Anak Masuk SD

Dengan luas area 220 meter persegi, Toni menghasilkan rata-rata 20 kg jamur tiram per hari tergantung pada musim. Pada musim hujan, hasil panen dapat mencapai angka 25 kg/hari sedangkan pada musim kemarau bisa turun hingga 15 kg/hari.

Hal tersebut mengakibatkan terjadinya gap antara hasil panen dengan kebutuhan pasar hingga mencapai angka 50%. Pengaruh cuaca terhadap hasil panen disebabkan oleh tidak tercapainya keadaan optimum untuk pertumbuhan jamur tiram.

Usaha Jamur Hidayah milik Toni ini menjadi obyek pengembangan karya para mahasiswa. Via Husna Mudiah menambahkan sistem asisten cerdas ini memanfaatkan konsep IoT (Internet of Things) untuk melakukan transfer data suhu dan kelembaban pada kumbung jamur tiram dari aplikasi chatting Telegram.

Selain itu, alat ini juga memanfaatkan AI (Artificial Intelligence) berupa Logika Fuzzy yang digunakan untuk menentukan lama penyiraman optimal kumbung jamur oleh alat dengan mempertimbangkan suhu dan kelembaban pada kumbung jamur tiram. Aisyattunnisai Tawakkal menjelaskan alat ini terdiri dari node sensor dan kontroler utama.

“Kami menggunakan sensor suhu DHT11 yang diletakkan di 3 titik kumbung jamur,” katanya.

Ketiga sensor ini akan mengirimkan data suhu dan kelembaban kumbung di setiap titik ke kontroler utama dan akan dirata-rata. Data yang telah didapat kemudian digunakan untuk menentukan lama penyiraman yang dibutuhkan oleh kumbung jamur menggunakan kecerdasan buatan logika fuzzy.

Dengan hasil yang diperoleh dari logika fuzzy, kontroler utama akan menghidupkan pompa air bertekanan tinggi yang terhubung dengan pipa air yang telah dipasangi nozzle kabut/embun yang melintang diatas rak baglog jamur. Kemudian menghidupkan kipas angin untuk menurunkan dan meratakan suhu serta kelembaban kumbung.

Alat ini dapat bekerja secara otomatis dan manual yang dapat diatur menggunakan aplikasi chatting telegram. Petani jamur dapat mengontrol alat dan mendapat notifikasi suhu dan kelembaban kumbung, kapan dilakukan penyiraman, dan melakukan input data panen melalui aplikasi chatting telegram dengan bot pada smartphone mereka.

Baca Juga :  Mahasiswa UNY Olah Tempe Menjadi Sosis Jamur Tiram, Bagaimana Caranya?

Pada fitur terbaru alat ini juga disertakan website untuk visualisasi data suhu, kelembaban, dan data panen yang lebih baik. Karya ini berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan IPTEK tahun 2021. (*)

Apa Tanggapan Anda ?