Inovasi

Inovasi Modifikasi Aplikasi, Upaya SMA 5 Magelang Maksimalkan Sistem Pembelajaran

Siedoo, Pandemi Covid-19 belumlah usai. Segala aktivitas masyarakat masih terbatas, begitu pula dengan aktivitas pembelajaran di sekolah. Semua hal harus menyesuaikan diri dengan perubahan dalam sistem kehidupan, terutama berkaitan dengan teknologi dan digitalisasi.

Dalam masa pandemi seluruh sekolah dituntut menggunakan pembelajaran secara daring serta menggunakan bermacam-macam aplikasi. Dengan adanya keterbatasan DNA (Device, Network, and Application), SMAN 5 Kota Magelang, Jawa Tengah berinovasi menggunakan aplikasi Telegram dan WhatsApp yang telah dimodifikasi.

Sebelumnya para guru menggunakan aplikasi pembelajaran yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kebingungan tentang aplikasi belajar apa yang digunakan, kemana tugas dikirimkan, dan lain sebagainya. Guru pun akan lebih sulit mengontrol siswa didiknya

Selain itu, berbagai masalah lain juga muncul selama proses belajar daring. Diantaranya adalah kurangnya pengetahuan guru dan murid tentang teknologi serta dibutuhkan konsumsi kuota yang cukup banyak selama proses belajar. Jenis dan cara pengoperasian aplikasi yang berbeda-beda juga menjadi kesulitan tersendiri dalam hal ini.

"Dari berbagai permasalahan yang ada, saya mulai berpikir tentang suatu aplikasi yang cenderung murah dan mudah diakses," ujar Agung Probo Guritna, guru kesenian SMAN 5 Kota Magelang.

Agung menginovasi metode pembelajaran daring dengan WhatsApp dan Telegram modifikasi. Dengan modifikasi ini semua keperluan pembelajaran seperti presensi, pengiriman tugas, tatap muka virtual bahkan ujian dapat dilakukan dengan hanya satu aplikasi. Selain mudah, aplikasi ini juga termasuk irit dan tidak mengkonsumsi banyak penggunaan kuota.

"Saya tidak menciptakan, tapi memodifikasi sesuai dengan kebutuhan pembelajaran," ujar Agung.

Sebelumnya Agung menggunakan aplikasi WhatsApp untuk sistem pembelajaran siswa, namun karena aplikasi tersebut memiliki beberapa keterbatasan kemudian beralihlah ke aplikasi Telegram. Aplikasi Telegram memiliki limit yang lebih besar. Sehingga cocok digunakan oleh seluruh siswa sekaligus guru pendidik.

Baca Juga :  Tim Mahasiswa FILKOM UB Rebut Dua Posisi Ajang Joint Competition 2020

Dalam persiapan penggunaan Telegram modifikasi, beberapa kali dilakukan juga sosialisasi. Sosialisasi kepada guru dilakukan dengan metode presentasi.

Sedangkan sosialisasi untuk siswa dilakukan dengan sistem tutor sebaya. Sistem tutor sebaya sendiri adalah suatu sistem dimana Agung membreafing beberapa siswa perwakilan kelas untuk mengarahkan teman-temannya yang lain.

"Sejak kita beralih ke aplikasi ini, presensi siswa menjadi lebih disiplin. Hampir 90 persen siswa melakukan presensi sesuai dengan ketentuan waktu," ujar Agung.

Agung juga menjelaskan bahwa salah satu sebab siswa menjadi lebih tertib adalah adanya campur tangan orang tua. Orang tua memiliki akses dalam memantau kegiatan pembelajaran anak mereka. Sehingga apabila siswa tersebut tidak mengikuti pelajaran, maka orang tua akan mendapatkan laporan tersebut.

Setiap sore, orang tua akan mendapatkan laporan belajar siswa secara otomatis. Orang tua murid juga bisa secara aktif mengakses nilai dari anak-anaknya. Aplikasi yang digunakan untuk mengirim laporan kepada orang tua siswa adalah WhatsApp. Hal ini karena mayoritas dari mereka menggunakan aplikasi WhatsApp dalam kesehariannya.

Laporan yang dikirimkan kepada orang tua siswa berupa berbagai hal tentang hasil pembelajaran siswa yang bersangkutan. Laporan tersebut meliputi daftar presensi, pengumpulan tugas dan bahkan nilai hasil ujian. Laporan akan dikirimkan secara otomatis pada pukul tiga sore.

Selain orang tua, kepala sekolah adalah satu-satunya pihak yang dapat mengakses segala data. Baik yang berkaitan dengan guru, siswa, atau pembelajaran yang dilakukan. Sehingga memudahkan kepala sekolah untuk memantau sistem pembelajaran yang ada di SMAN 5 Kota Magelang.

Agung juga memiliki ide lain dalam pendukung pembelajaran tatap muka ditahun pelajaran selanjutnya. Ia berkeinginan memodifikasi alat pengukur suhu otomatis sehingga dapat digunakan sebagai alat presensi juga.

Baca Juga :  Lima Tahun Meneliti, Ishak Hasilkan Pisang Varietas Unggul

"Kami para pendidik berharap semoga pembelajaran tatap muka dapat benar-benar direalisasikan," tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?