Nasional

Berikut Proses Pertukaran Pelajar di Era Kampus Merdeka

SURABAYA - Kesempatan pertama dalam program Kampus Merdeka, adalah pertukaran pelajar. Pada umumnya, mahasiswa membayangkan bahwa pertukaran pelajar artinya pergi jauh, bahkan keluar negeri selama beberapa tahun.

Bagus Jati Santoso PhD, Ketua Program Kompetisi Kampus Merdeka menyatakan bahwa pertukaran pelajar juga bisa dilakukan antar program studi maupun antar kampus.

“Lagipula, kualitas perkuliahan di kampus sendiri ataupun kampus luar negeri, juga tidak kalah dengan perkuliahan di luar negeri. Pak Dirjen Dikti juga menyatakan bahwa pertukaran pelajar dalam negeri, masih sangat sedikit,” ungkap Bagus.

Artinya dalam praktek pertukaran pelajar, mahasiswa bisa mengambil mata kuliah apapun di jurusan lain maupun kampus lain. Caranya pun tidak sulit, tinggal mengakses website Sasrabahu.ID lalu pilih mata kuliah dan kampus yang dia inginkan. Kampus juga sudah memfasilitasi dengan cara menambah mata kuliah pilihan dan melakukan pemetaan atas kemungkinan transfer kredit (pengakuan kegiatan sebagai nilai).

“Jadi bisa saja, anak kuliah di Teknik Informatika ITS (Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya). Lalu ambil pertukaran pelajar di ITB (Institut Teknologi Bandung). Tidak ada masalah, sekarang eranya kolaborasi,” ungkap Bagus.

Belajar dan praktek di luar kelas selama tiga semester, lalu diakui sebagai bagian dari perkuliahan dan diberi nilai sebesar 60 SKS. Inilah esensi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk menjawab tantangan perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang sesuai perkembangan zaman.

Sugianto Halim MMT, Direktur Utama SEVIMA menyampaikan, walaupun nampak sederhana, mempraktikkan MBKM masih jadi tantangan tersendiri bagi kampus. Misalnya dalam memahami penelitian atau program kewirausahaan yang dalam MBKM dapat diakui sebagai pengganti perkuliahan.

“Misalnya, apa yang perlu diteliti? Kalau kewirausahaan, seperti apa wirausaha yang bisa dianggap seperti kuliah?,” ungkap Halim.

Baca Juga :  Tingginya Semangat Belajar, Zetta Menembus Batas Impian untuk Kuliah

Oleh karena itu, dalam webinar bertajuk “Tips Membangun Kurikulum Kampus Merdeka serta Ekuivalensinya,” empat ribu anggota Komunitas SEVIMA berdiskusi tentang strategi penerapan kampus merdeka di kampusnya masing-masing. Acara digelar melalui Zoom.

Hadir sebagai narasumber, antara lain Dr.Eng. Siti Machmudah, Direktur Pendidikan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Bagus Jati Santoso PhD, Ketua Program Kompetisi Kampus Merdeka, dan Kurniawan MPD, Ketua Program Studi IAIN Curup. Sebanyak 33 Rektor dari PTN dan PTS se-Indonesia juga turut hadir dalam Zoom ini untuk mendiskusikan materi bersama para narasumber.

Buat Bimbel dan Startup

Wirausaha dan Studi Independen, adalah kesempatan ketujuh dan kedelapan yang bisa diakses mahasiswa. Menurut Kurniawan MPD, Ketua Program Studi IAIN Curup, kesempatan ini adalah yang paling menarik secara finansial. Karena mahasiswa bisa mendapat profit dari hasil usahanya, sekaligus dapat nilai.

“Jadi sambil kuliah, sambil berwirausaha dan bikin startup, dan itu diakui oleh negara. Bahkan, bisa juga dapat fasilitas pendanaan dari Program Kewirausahaan Ditjen Dikti dan Platform Kedaireka. Artinya uang dapat, nilai dapat,” ungkap Kurniawan.

Di tempatnya mengajar, beberapa mahasiswa telah berhasil membuka bimbingan belajar dan startup seputar pendidikan. Kegiatan ini kemudian bisa dikonversi menjadi SKS sekaligus kesempatan menerapkan ilmu mahasiswa. Hal ini berhasil ia lakukan dengan cara menyesuaikan kurikulum, menerima pendaftaran mahasiswa, menyusun syarat pendaftaran yang rinci, dan memberdayakan dosen pendamping sebagai pamong bagi para mahasiswa.

“Kebetulan karena program studi kami adalah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, maka mahasiswa membuka bimbel untuk anak sekolah. Ilmu mengajar mereka praktekkan, uang mereka dapat, nilai mereka dapat juga,” jelas Kurniawan. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?