Daerah Kegiatan

Angkat Wisata Daerah, Bupati Purworejo Luncurkan Buku Antologi Puisi

PURWOREJO – Dalam konteks ke-Indonesiaan umumnya, masyarakat yang tinggi apresiasinya terhadap sastra cenderung lebih jauh dari sifat kekerasan. Begitu pentingnya sastra sampai realitas politik, sosial dan budaya suatu daerah tidak dapat terlepas dari sastra.

Sastra tidak pernah pudar apalagi mati sebab ia mampu mengajak masyarakat untuk berpikir kritis dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Sastra merupakan bagian yang sangat penting bagi peradaban karena sastra adalah pernyataan sikap, ekpresi, pikiran, dan kontruksi kejiwaan hasil dari peradaban manusia.

Demikian disampaikan Bupati Purworejo, Agus Bastian saat peluncuran Buku Antologi Puisi secara daring yang dikelola Komunitas Penikmat Seni Sastra (Kopisisa) Purworejo. Buku antologi berjudul “Kaloka Tanah Pusak”  itu untuk mengangkat wisata daerah Purworejo. Peluncuran ditandai dengan pemukulan kentongan di Museum Tosan Aji Purworejo, Komplek Pendopo Kabupaten Purworejo, Sabtu (8/8/2020).

Dilansir dari jatengprov.go.id (10/8/2020), Bupati Agus mengatakan, momen peluncuran buku antologi tersebut sangat tepat karena diluncurkan pada bulan Agustus yang sakral. Eksistensi Kopisisa pun tidak diragukan lagi.

“Sebab sejak dibentuk 41 tahun yang lalu, mereka tetap eksis dalam mewarnai seni dan sastra di Purworejo,” ujarnya.

Ketua Kopisisa Soekoso mengatakan, buku Antologi Puisi disusun oleh 30 lebih seniman dalam bentuk puisi. Puisi-puisi tersebut disusun khusus dengan tema pariwisata Purworejo.

“Bentuk karyanya merupakan himpunan dari penyair dan penulis Purworejo dengan beragam penyajian kepariwisataan Purworejo,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ada dua penyair yang sudah wafat sebelum buku diluncurkan. Kedua orang penyair tersebut berasal dari Jakarta dan Kecamatan Bayan.

“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada sahabat kita yang telah mengirimkan naskahnya tetapi beliau sudah meninggalkan kita pada bulan Maret yang lalu. Yakni almarhum Budi Santoso dan Haryanto Sukiran. Semoga tulisan yang ditinggalkan dapat dikenang dan bermanfaat,” ujar Soekoso. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?