Advertorial Opini

Analisis Deskriptif Kuesioner Tentang Pembelajaran Online di SMK Negeri 1 Magelang

Siedoo, Di simpang siurnya berita tentang Covid-19 terutama yang ada di media sosial, dan semakin mewabahnya virus Covid-19. Aktivitas yang melibatkan kumpulan orang kini mulai dibatasi di Indonesia, seperti bersekolah, beribadah, bekerja dan lain-lain. Sehingga untuk bidang pendidikan diupayakan belajar dari rumah (study from home), walaupun masih banyak kendala sehingga timbul pro dan kontra terhadap kebijakan itu.

Untuk melihat gambaran ini, penulis menyebarkan kuesioner melalui google classroom terhadap beberapa kelas di SMK Negeri 1 Magelang. Yaitu: Kelas 10 BD, 10 OC dan 10 IA  sejak tanggal 14 hingga 19 Mei 2020. Sebanyak 60 responden bersedia mengisi/memberi tanggapan. Artinya dengan asumsi jumlah siswa dari ketiga kelas sebanyak 96 siswa, baru 62,5 % dari ketiga kelas itu yang sanggup mengisi lembar kuesioner.

Karena penulis mengampu Kelas 12 dan Kelas 11 yang sebelum ada wabah Covid-19 ini, mereka telah menyelesaikan pembelajarannya, sehingga meminjam beberapa siswa Kelas 10. Adapun  hasil dan ulasan dari kuesioner sebagai berikut:

Diagram 1

Tingkat motivasi belajar online mencapai tingkat yang tertinggi. Yaitu: 31,7% (19 siswa), namun masih ada 13,3% (8 siswa) menganggap study from home. Berarti libur dan tidak perlu ada kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM).

Diagram 2

Pada hasil di atas, 58,3% (35 siswa)  sudah memahami akan pentingnya proses pembelajaran, sehingga PBM harus tetap dilaksanakan walaupun harus dengan cara online. Namun 21,7 % (13 dari orang tua siswa) tidak mengetahui informasi maupun sosialisasi tentang pembelajaran online. Ini berarti informasi/surat edaran dari sekolah tidak sampai ke orang tua, sehingga terkadang dukungan orang tua kurang maksimal.

Diagram 3

Walaupun 60% (36 dari orang tua siswa) sangat setuju akan kebijakan PBM online. Namun 25% (15 dari orang tua siswa) tidak diberitahu/informasi ini tidak sampai ke orang tua siswa.

Diagram 4

Dari hasil kuesioner kendala penerapan PBM online di atas 51,7% (31 siswa) terkendala dengan sinyal atau koneksi internet. Sedangkan 21,7% (13 siswa) merasa tidak ada kendala dan siap melaksanakan PBM online, namun sayang sekali ada 18,3 % (11 siswa) yang malas belajar.

Diagram 5

Jadi, 58,3 % (35 siswa) menginginkan guru memberikan  terlebih dahulu baru memberikan tugas. Ini berarti menjadi tantangan bapak/ibu guru untuk senantiasa meng-upgrade kompetensinya terutama di bidang teknologi informasi yang terkait dengan proses pembelajaran online.

Dari hasil analisis di atas, penulis menyimpulkan:

  • Pada era pandemi Covid-19 ini, proses pendidikan dan pembelajaran tetap harus dilaksanakan.
  • Peran guru maupun orang tua siswa harus bisa bekerjasama saling dukung dan sinergis demi terlaksananya pendidikan dan pembelajaran.
  • Mengamati dari 60 responden, atau baru 62,5% yang bersedia mengisi lembar kuesioner, bisa dikatakan 37,5% (36 siswa) tidak mempunyai kemampuan akses internet, baik terkendala jaringan atau fasilitas komunikasi (Hand Phone)
  • Kendala-kendala teknis maupun non-teknis harus bisa diatasi, agar proses pendidikan dan pembelajaran siswa secara online dapat dijalankan sedemikian rupa.  sehingga hasil dan kualitasnya tidak kalah dibandingkan dengan pembelajaran offline (tatap muka). (*)
Drs. Harda Pantjana, M.Si
Guru Matematika
SMK Negeri 1 Magelang, Jawa Tengah

 

Apa Tanggapan Anda ?