Daerah

Keren! SMA BPI 1 Bandung Miliki Observatorium, Amati GMC Secara Langsung

BANDUNG - Momen langka Gerhana Matahari Cincin (GMC), Kamis (26/12/2019), yang melewati hampir sebagian wilayah Indonesia ditangkap SMA Badan Perguruan Indonesia (BPI) 1 Bandung, Jawa Barat sebagai sebuah pembelajaran. Sekolah tersebut melakukan pengamatan secara langsung.

Dengan bimbingan mahasiswa Astronomi ITB, pihak sekolah mengamati di Observatorium Winaya sekolah yang hasilnya ditampilkan di masjid setempat melalui proyektor.

Dilansir dari didik.jabarprov.go.id, Kepala SMA BPI 1 Bandung, Deti Sudiarti mengatakan, kegiatan tersebut untuk mengenalkan siswa tentang fenomena alam. Baik, melalui pendekatan agama maupun ilmiah.

Terlebih, hal tersebut ditunjang adanya observatorium di sekolah sebagai media pembelajaran. Istimewanya, di Jawa Barat, hanya sekolah ini yang memiliki observatorium sendiri.

"Karena, kalau anak belajar tanpa media pembelajaran, hanya teori, mereka cuma bisa membayangkan. Kalau praktik kan bisa lebih tergambar dan bervariasi," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, seluruh peserta yang terdiri dari siswa dan guru mengikuti pelaksanaan sholat gerhana, sekaligus mendengarkan ceramah tentang fenomena alam yang langka tersebut.

Ia berharap, dengan digelarnya kegiatan ini, siswa menjadi lebih tahu tentang proses terjadinya gerhana matahari cincin dan mampu memetik hikmah dari kejadian alam tersebut.

Observatorium tersebut mulai beroperasi pada September 2016. Peresmian dilakukan langsung oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.

Observatorium ini dibangun dengan sistem sliding-roof berukuran 3 x 12 meter persegi. Terdapat dua jenis teleskop yang dipergunakan observatorium tersebut, yaitu yang bersifat fixed (tetap) dan teleskop portabel.

Teleskop pertama, yakni teleskop pemantul berdiameter 152 mm dan panjang fokus 731 mm terpasang pada sebuah pilar tunggal dengan mounting equatorial.

Sedangkan teleskop jenis kedua adalah teleskop bergerak yang dapat dipindahkan sesuai kegiatan yang dilakukan di lapangan. Untuk jenis teleskop ini ada dua tabung, yaitu teleskop pembias dengan diameter 80 mm dan fokus 800 mm serta Newtonian berdiameter 76 mm dan fokus 700 mm.

Deti menegaskan, keberadaan observatorium tersebut adalah wujud inovasi yang digagas sekolah untuk menunjang pembelajaran bagi siswa.

"Ini juga bisa meningkatkan mutu pendidikan di sekolah karena bisa dipakai untuk berbagai mata pelajaran, seperti geografi, fisika dan agama," tuturnya.

Selain mengetahui proses ilmiah pada mata pelajaran eksak, siswa juga mendapatkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran agama, dengan menunjukkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam semesta.

Lebih jauh, lanjut Deti, inovasi tersebut selaras dengan ditunjuknya sekolah yang berdiri pada 1962 itu sebagai pilot project penerapan model pembelajaran berbasis science, technology, engineering, and math (STEM) oleh SEAMEO QITEP in Science, sebuah organisasi pendidikan se-Asia Tenggara.

Pengoptimalan fasilitas ini terlihat dengan prestasi yang diraih sekolah tersebut. Tahun ini, kata Deti, siswanya berhasil lolos pada kejuaraan astronomi tingkat provinsi.

Selain siswa, pada 2017, guru sains di sekolah tersebut pun berhasil meraih peringkat II dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan berhak mendapatkan beasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Selain itu, kita juga sering diundang untuk memamerkan produk karya siswa oleh pemerintah," tambahnya.

Secara teknis, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar (KD) yang disusun oleh guru mata pelajaran terkait, mulai dari kelas X hingga XII.

"Fasilitas ini juga dimanfaatkan oleh ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) astronom yang dibina oleh mahasiswa astronomi ITB," ujarnya.

Salah seorang siswa, Sakti Getar Manca Buana mengaku, antusias mengikuti kegiatan tersebut, meskipun sedang libur sekolah.

"Ini emang bikin kita antusias karena kita bisa tahu apa itu gerhana matahari dan gimana prosesnya. Pembimbingnya pun kakak-kakak dari ITB, jadi kita bisa kepo dan ngobrolnya enak," tutur siswa kelas XI itu.

Ia menilai, keberadaan observatorium sekolah amat menunjang proses pembelajaran di sekolah.

"Menunjang sekali, karena kita bisa mengamati kejadian yang ada di dalam dan di luar bumi, seperti rasi bintang dan tata surya," ucapnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?