Harjanta, M.Pd Kepala SMP N 3 Magelang | foto: Fauzi Bayu Sejati | Siedoo

Advertorial Tokoh

Lika-liku Harjanta hingga Menjadi Kepala Sekolah


Siedoo, Meski berasal dari kampung dan pernah menggembala kambing sejak usia dini hingga sekolah menengah atas, Harjanta, di masa kerja, kini ditakdirkan sebagai pemimpin di satuan pendidikan. Awal kuliahnya mengambil Diploma Satu jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Sebelas Maret, Solo.

Saat itu bertepatan zaman orde baru, sekitar 1982, mengalami kekurangan guru. Stelah lulus kemudian ditempatkan di SMPN 9 Kota Magelang, Jawa Tengah, tahun 1983 – 2012.

“Kalau dulunya cita – cita tidak ingin menjadi guru, tapi tidak tahu arahnya kemana. Yang jelas inginnya kerjanya gampang, duitnya banyak. Saya mendaftar jadi guru, karena kebetulan saat itu kebutuhan guru sangat banyak dan didorong oleh keluarga untuk mendaftar,” kata Harjanta, M.Pd.

Kemudian dirinya mengikuti program penyetaraan dan melanjutkan jenjang D3 dan S1 di Universitas Terbuka. Saat itu kampusnya di Semarang, namun pelaksanaannya di Magelang.

Dirinya berpindah tempat mengabdi menjadi kepala SMPN 12 Kota Magelang selama dua setengah tahun. Kemudian dirinya berpindah tempat lagi di SMPN 3 kota setempat hingga sekarang sebagai kepala sekolah.

“Yang jelas melaksanakan tugas dengan sebaiknya dan seamanah mungkin. Niat ingsun saya itu hanya melaksanakan tugas semaksimal mungkin mencetak generasi yang maksimal sebagai pendidik,” tegasnya.

Dirinya juga pernah dipercaya sebagai kepala gudep di SMPN 9 Kota Magelang. Dirinya berupaya meningkatkan kemampuan siswa dalam non-akademik melalui Pramuka. Ketika ada kegiatan Pramuka gerak jalan tunas mekar selalu mendapat juara 1.

Disamping itu, ia juga melatih pencak silat saat masih di SMPN 9. Dirinya melihat anak – anak sering berkelahi, maka dari itu mencoba mengalihkan mereka dalam kegiatan pencak silat. Hasilnya sering mendapat juara. Kini dirinya menjadi ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Magelang.

“Pada intinya ada kepuasan tersendiri ketika kita mencetak anak – anak. Kalau cita – cita untuk jadi kepala sekolah itu tidak, karena pada waktu itu memang saya disuruh ikut seleksi oleh kepala sekolah, perintah dari pimpinan saya laksanakan,” tuturnya.

Karena sebelumnya tidak ada cita – cita untuk menjadi kepala sekolah namun lulus dan diangkat. Kemudian prinsip yang kuat untuk menjalankan tugas sebaik mungkin tetap dijalankan.

“Saat zaman penjajahan Belanda, ayah saya ingin menjadi guru tapi tidak tersampaikan karena nuansanya kan dulu lain dengan sekarang. Alhamdulillah sekarang saya bisa melanjutkan cita – cita ayah saya yang dulu ingin menjadi guru,” ungkapnya.

Kepada anak – anak muda, dirinya berpesan agar mengembangkan hobi yang disukai. Contoh seperti dirinya yang hobi mendaki gunung di masa muda, mendapat pengalaman untuk melatih kepercayan diri dan menyelesaikan masalah.

“Pesan saya kepada generasi muda untuk hobinya disalurkan, tidak putus asa dan jangan merendahkan diri. Laksanakan waktu sebaik – baiknya dan ikutlah organisasi di masyarakat. Dari situlah akan tercipta jiwa kepemimpinan. Kalau sudah dipekerjaan ya  kita harus bisa memimpin diri sendiri dan mau dipimpin,” tambahnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?