Kepala Perpustakaan SMP N 1 Kota Magelang, Rr. Dyahayu Rahmaniyah, S.Pd (kiri) dan Kepala SMP N 1 Kota Magelang Nurwiyono S.N., M.Pd, bersama siswa menunjukkan hasil produk Literasi Club | foto : Fauzi Bayu Sejati | Siedoo

Advertorial Inovasi

Club Literasi, Wadah Khusus bagi Siswa Berdiskusi


MAGELANG - Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Magelang, Jawa Tengah mempunyai program khusus, Literasi Club. Ini semacam kegiatan di dalam perpustakaan, yang digerakkan sekelompok siswa yang sangat menyukai dunia literasi. Hal tersebut merupakan salah satu ekstrakurikuler dengan fungsi penunjang mutu pendidikan siswa.

“Literasi Club ini salah satu dari embrio kami di perpustakaan, dimana kami merekrut anak – anak yang mempunyai passion di bidang tulis - menulis. Disitu kami jadikan sebagai ekstrakurikulernya,” kata Kepala Perpustakaan SMPN 1 Kota Magelang, Rr. Dyahayu Rahmaniyah, S.Pd.

Literasi Club terdiri dari siswa kelas VII dan VIII, namun juga tidak menutup pintu bagi siswa kelas IX yang ingin bergabung.

“Karena namanya menghentikan sebuah ide atau menghentikan sebuah karya itu kan, tidak bisa dikebiri, selesai begitu saja. Sehingga, kami persilahkan saja bagi mereka (kelas IX) yang masih aktif di club, boleh menyumbangkan artikelnya. Kita welcome, cuma saat kegiatan rutinnya pada hari Senin, mereka mungkin tidak aktif, tidak bisa datang,” terangnya.

Bagi mereka yang ingin berkontribusi, sampai kapanpun masih diterima untuk menyumbangkan artikelnya. Justru ketika sudah masuk jenjang SMA dan bisa melihat dunia luar, sekolah juga masih mau menerima informasi yang dibagikan para siswa.

Selain jurnalistik, di Club Literasi para siswa juga menggelar agenda diskusi. Hal yang didiskusikan ialah tentang wawasan dan pengenalan literasi bagi kelas VII. Seperti apa batasannya, perluasannya dan keluaran dari sebuah produk.

Siswa dikenalkan tentang dasarnya terlebih dahulu, kemudian masuk ke sebuah materi yang ringan. Diantaranya dikenalkan apa itu puisi dengan tokoh sastrawannya dan bagaimana cara menulis puisi.

“Kemudian kita meningkat ke hal - hal yang lebih jauh, seperti cerpen. Kalau puisi kan semua orang bisa tiba – tiba. Pada saat jatuh cinta, sedih atau bahagiapun mereka tiba – tiba bisa menjadi seorang pujangga,” imbuhnya.

Adapun untuk penyampaian materi cerpen, membutuhkan waktu khusus. Tentunya setelah materi puisi dilalui terlebih dahulu.

“Baru kemudian meningkat ke penulisan artikel. Disitu ada dasar – dasar yang berbeda dari pembuatan puisi dan cerpen. Jadi kita bertahap,” urainya.

Selain buku dan antologi cerpen yang sudah terjual bebas di pasaran, siswa SMPN 1 Kota Magelang juga melakukan liputan. Mereka mengeksplore suatu tempat dan kejadian, yang nantinya dituangkan ke dalam tulisan. Hasil dari tulisan siswa kemudian dikemas di Majalah Anak Rantja Spenasa (MARS) yang terbit setiap tiga bulan sekali.

Program literasi ini pun memberikan dampak yang positif terhadap proses belajar mengajar. Melalui ekstrakurikuler tersebut, mau tidak mau para siswa harus membaca apa yang sedang menjadi pembahasan bersama. Minat baca di lingkungan SMPN 1 Kota Magelang pun mengalami peningkatan.

“Efeknya kan kesitu, siswa lebih bisa fokus dan tekun. Karena namanya membaca, mereka tidak sekedar membaca, tapi pasti memahami alur ceritanya. Ketika membaca buku pelajaran, mereka sudah terbiasa mencari poin - poinnya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SMP N 1 Kota Magelang Nurwiyono S.N., M.Pd menyampaikan bahwa, hasil produk siswa juga diberikan kepada setiap tamu yang datang ke sekolah. Ketika mendapat kunjungan dan berkeliling di area sekolah, tamu diperbolehkan untuk mengambil hasil karya siswa di setiap kelasnya. Hal tersebut sebagai cendera mata dan memperlihatkan bahwa itu merupakan hasil karya para siswa sendiri.

"Harapan kepada siswa bahwa untuk selalu giat dalam menulis, tidak hanya sekedar membaca saja," jelasnya. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?