Para pendidik SMP IT Ihsanul Fikri foto bersama dengan tim BAN-S/M. | foto : SMP IT Ihsanul Fikri

Advertorial Daerah

Akreditasi SMP IT Ihsanul Fikri, Momentum Peningkatan Kualitas Diri


MAGELANG – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Terpadu Ihsanul Fikri Pabelan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sedang mengikuti proses akreditasi. Sekolah ditinjau langsung oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) selama melakukan penilaian akreditasi.

“Kemarin tahun 2014 kita sudah akreditasi A dan sekarang nilainya belum keluar. Menunggu sekitar satu bulan setelah diplenokan ditingkat BAN-S/M. Targetnya jelas A gemuk, itu 95 keatas, kemarin kita antara 93-94 dan mendapat A,” kata Waka Kurikulum SMP IT Ihsanul Fikri, Pemela Maher Wijaya, S.Sos.I., M.S.I.

Dijelaskan bahwa, penilaian akreditasi sekolah berdasarkan delapan standar, diantaranya standar isi, proses, penilaian, kompetensi lulusan, pembiayaan, pendidik dan kependidikan, sarana dan prasana, serta standar pengelolaan yang langsung ditinjau selama dua hari (11 – 12/9/2018).

Agar mencapai akreditasi sesuai harapan, maka SMP IT Ihsanul Fikri membentuk panitia akreditasi. Mereka menyiapkan delapan standar dan kerapian data tersebut.

“Semua guru harus merapikan proses pembelajaran yang teradministrasikan dan terdokumentasikan. Penilaian juga harus terdokumentasikan secara otentik,” tuturnya.

Penilaian otentik ialah penilaian oleh guru kepada anak yang harus terdokumentasikan secara keseluruhan selama proses penilaian. Guru juga diwajibkan menganalisis terkait dengan soal - soal.

“Jadi semua yang diajarkan kepada anak harus dianalisis, tingkat perkembangan anak itu bagaimana. Apakah sudah High Order Thinking (HOT) atau belum,” jelasnya.

Proses akreditasi ini diantaranya untuk penjaminan mutu sekolah. Jadi, sekolah mengedukasi kepada anak - anak dengan adanya akreditasi, bisa menjamin mutu terhadap pembelajaran yang diberikan.

Adapun terkait dengan strategi pembelajaran, kreatifitas dalam mengajar juga perlu ditingkatkan. Dengan kondisi anak dan latar belakang yang berbeda - beda, dibutuhkan kreatifitas guru untuk meng­-update administrasi, yang dinamakan pengembangan perangkat pembelajaran.

“Guru dituntut untuk membuat pengembangan silabus, kemudian rencana pembelajaran sampai rencana penilaian. Inilah butuh kreatifitas dan inovasi baru bagi guru untuk menuangkan ide-idenya di konsep ini. Kemudian diimplementasikan di kelas,” urainya.

Dia berharap, perubahan setiap tahun sebaiknya tidak hanya untuk kesempatan akreditasi saja. Guru itu dituntut untuk meng-update diri dan mengkreasikan pembelajaran agar mutu pembelajarannya terus meningkat.

“Kami sangat mengapresiasi penilaian akreditasi ini kepada pemerintah. Bahwa ini untuk menganalisis diri kita sendiri,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMP IT Ihsanul Fikri Drs. Hanifudin Zuhri mengatakan, akreditasi menjadi hal yang penting karena sebagai bahan untuk mengevaluasi diri. Jika tidak ada proses evaluasi, maka bisa jadi hanya akan merasa cukup. Namun jika ada proses evaluasi, maka bisa dilihat dimana kurang dan lebihnya.

“Sehingga, hal itu bisa kita maknai sebagai momentum peningkatan kesempurnaan, sehingga bisa kita memperbaiki dimana yang kurang,” jelas dia.

Untuk peningkatan kualitas, bisa menjadi sebuah kewajiban bagi guru itu sendiri. Bahkan, guru sebaiknya tidak berpikir sempit, tetapi juga harus berpikir dengan skala kemampuan internasional.

“Anak – anak kita itu kan sebenarnya yang ditunggu oleh momen sejarahnya. Sementara sejarah yang menunggu mereka sangat berbeda dengan saat ini. Makanya, Sayidina Ali mengatakan, 'didiklah anak kalian tidak sebagaimana ketika kalian hidup',” ungkapnya.

Hal itu bisa diartikan bahwa, guru harus mempunyai wawasan ke depan. Kemudian ada upgrade untuk menambah wawasan di berbagai kegiatan.

“Termasuk ada namanya Camp Quran International (CQI) di Makkah dalam bentuk umroh, nanti ke Makkah ketemu dengan beberapa Syaikh disana. Jadi, kita maksimalkan kehadiran kita di Makkah dalam umroh itu untuk mendapatkan ilmu yang sebaik-baiknya. Ini salah satu cara meng-upgrade kapasitas guru,” tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?