Nasional

60 Santri Calon Penerima PBSB Diuji Syekh dari Al-Azhar Kairo

JAKARTA - Dari 992 santri yang mengikuti seleksi tahap I berupa tes CBT Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama (Kemenag) pilihan kuliah Universitas Al-Azhar Kairo pada 14 Mei lalu, hanya 60 santri yang berhak mengikuti seleksi tahap II tes Tahdid Mustawa, Sabtu (13/7/2019).

Tes berlangsung di Universitas Asy-Syafi'iyyah, Jakarta. 60 Santri tersebut berasal dari:

1. Nanggroe Aceh Darussalam (5 santri)

2. Sumatera Utara (2 santri)

3. Sumatera Barat (1 santri)

4. DKI Jakarta (2 santri)

5. Jawa Barat (10 santri)

6. Jawa Tengah (12 santri)

7. Daerah Istimewa Yogyakarta (4 santri)

8. Jawa Timur (11 santri)

9. Banten (3 santri)

10. Kalimantan Timur (1 santri)

11. Sulawesi Selatan (9 santri)

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ahmad Zayadi menjelaskan, seleksi PBSB Luar Negeri dilakukan melalui 2 tahap, yakni: seleksi Computer Based Test (CBT) dan Tes Tahdid Mustawa.

"Kemenag menggelar seleksi tahap II berupa Tes Tahdid Mustawa. Tes yang dilakukan berupa ujian tulis dan wawancara,” terang Zayadi.

Zayadi memaparkan, Tes Tahdid Mustawa sendiri merupakan mekanisme seleksi yang diterapkan oleh Universitas Al-Azhar Kairo bagi calon mahasantri baru. Santri diuji oleh Syekh yang didatangkan langsung dari Al-Azhar Kairo. Tes ini bertujuan untuk menentukan level penguasaan bahasa Arab calon mahasantri.

Hadir sebagai penguji Tes Tahdid Mustawa Syekh Abbas, Syekh Ahmed Fawzi, Syekh Ahmed Zayed, Syekh Ahmed Qotb, Dr. Taha dan Dr. Hameida.

Pada tes tahap II ini, para santri disuguhkan dengan soal-soal berkaitan kemampuan dan penguasaan Nahwu, Sharaf, Insya’, Qiraah, Istima’, Kalam, serta penguasaan kosa kata Arab.

Seleksi tahap II ini akan menentukan 30 calon mahasantri sesuai kuota yang disediakan.

“Ke-30 calon mahasantri tersebut tidak bisa langsung masuk bangku perkuliahan. Mereka nantinya akan diberikan pelatihan dan bimbingan guna meningkatkan kemampuan berbahasa Arab,” ujar Zayadi.

Terdapat 7 kategori tingkatan penguasaan bahasa Arab, 1) Mubtadi’ Awal, 2) Mubtadi’ Tsani, 3) Mutawasith Awal, 4) Mutawasith Tsani, 5) Mutaqaddim Awal, 6) Mutaqaddim Tsani, dan yang paling tinggi adalah, 7) Mutamayyiz.

Pada rapat yang digelar Kemenag sebelumnya, Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Muchlis M Hanafi menyampaikan, santri yang lulus seleksi adalah santri yang menguasai Bahasa Arab sekurangnya pada level 3 yakni Mutawasith Awal.

“Pada level 3 hingga 6 disediakan waktu bimbingan selama 50 hari, sementara level 7 selama 30 hari, dan kemudian mahasantri mengikuti perkuliahan,” jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?