Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin di Grha Niaga Thamrin, Jakarta, Selasa (12/2/2019). (foto: kompas.com)

Nasional

Pendidikan Rendah, Daya Saing Kerja Kurang Kompetitif

DPRD Kota Magelang

JAKARTA - Perkembangan perdagangan digital atau e-commerce semakin pesat di era industri 4.0. Guna menghadapinya, Indonesia perlu membenahi beberapa sektor. Salah satunya adalah fokus kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi iklim perdagangan digital.

Hal itu diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin.

Menurut Rudy, rendahnya tingkat pendidikan menjadi penyebab daya saing tenaga kerja Indonesia belum cukup kompetitif untuk bersaing pada sektor ekonomi digital.

“Talenta kita perlu dibenahi dan banyak jenis klasifikasi jabatan yang kita masih sangat lemah. Mungkin kalau di level coding, programmer, itu sudah numpuk, tapi klasifikasi jabatan di level atasnya lagi belum banyak,” kata Rudy dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Rudy menyebutkan, di pasar tenaga kerja nasional saat ini sekitar 60 persen tenaga kerja umumnya masih terdiri dari staf administrasi. Dari jumlah itu, sebanyak 60 persen masih didominasi lulusan SMP ke bawah.

“Inilah yang harus kita ubah, sehingga banyak orang berpendidikan lebih tinggi lagi di Indonesia, guna menunjang sektor e-commerce ini,” tutur Rudy.

Dilansir kompas.com. Rudy menilai, perkembangan dan kemajuan sektor e-commerce yang cepat harus menjadi perhatian pemerintah guna mengembangkan SDM Indonesia ke depannya.

“Tujuannya agar bisa mengejar ketertinggalan di sektor e-commerce akibat rendahnya tingkat pendidikan penduduk,” ujar Rudy.

Maka perlu bagi pemerintah dan semua yang berkecimpung di bidang e-commerce agar me-reskilling para SDM dan tenaga kerja di sejumlah sektor yang terancam otomatisasi, terancam tergantikan robot.

Di sisi lain, Sekretaris Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Gellwynn Daniel Hamzah, mengatakan pembangunan SDM saat ini masih menjadi isu strategis ke depan. Sebab, di era industri 4.0 pemerintah tengah gencar meningkatkan kualitas SDM berdaya saing tinggi.

"Peningkatkan kualitas dari pengelolaan dasar yang baik khususnya di bidang pendidikan tetap menjadi prioritas," katanya dilansir dari liputan6.com.

Gellwynn mengatakan, di bidang pendidikan pemerintah terus mendorong kapasitas SDM melalui sektor pendidikan. Tidak hanya fokus kepada peserta didik, tapi juga pemerintah memperhatikan kepada peningkatan sarana dan prasarana.

Berdasarkan catatan, partisipasi pendidikan pada jenjang menengah dan tinggi menunjukan adanya peningkatan. Misalnya saja pada tingkat pendidikan SMK dan SMA, pada 2017 mencapai 82,84 persen, meningkat dari 2016 yang tercatat hanya 80,89 persen. Di samping itu, pendidikan tinggi pada 2017 berada di 29,93 persen, atau meningkat dari periode sebelumnya yakni 27,98 persen.

"Dengan upaya tersebut telah terjadi peningkatan angka partisipasi sekolah pada setiap jenjang pendidikan keseluruhan," imbuhnya.

Gellwynn menambahkan, selain bidang pendidikan, upaya peningkatan SDM juga didorong melalui sektor kesehatan. Sebab, untuk menunjang SDM yang mampu berdaya saing, kesehatan menjadi faktor utama.

Berdasarkan data yang dimiliki Bappenas, upaya pemerintah dalam menekan tingkat kesehatan masyarakat menunjukan tren positif. Misalkan saja, sejak 2010 hingga 2015 angka kematian ibu dan anak berhasil ditekan sebesar 12 pesen. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang