Karya Eco Burner ini juga berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta tahun 2018. foto : Humas UNY

Inovasi

Eco Burner Karya Anak Bangsa, Hasil Inovasi Mahasiswa UNY


Siedoo, Tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berinovasi di bidang sumber daya energi. Mahasiswa menggagas pembuatan Eco Burner dengan harga yang lebih ekonomis. Mereka yaitu, Nur Khamdan dan Ervin Priambodo prodi pendidikan teknik mesin, serta Imas Dwi Septiningtyas prodi bimbingan dan konseling.

Inovasi mahasiswa ini tidak lepas dari kondisi tentang penggunaan energi di Indonesia. Sebagai pengguna energi fosil dalam jumlah banyak, Indonesia memiliki banyak limbah minyak bekas. Diantaranya limbah oli bekas kendaraan, sludge oil, dan sebagainya. Limbah minyak berat mengandung minyak, zat padat, air, dan logam berat.

Limbah minyak ini merupakan bahan pencemar yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Oleh sebab itu, harus segera ditanggulangi. Limbah ini berpotensi untuk diubah menjadi energi panas menggunakan burner, namun alat burner ini diimpor dari Jerman dengan harga cukup mahal.

Atas kondisi itu, maka sekelompok mahasiswa UNY menggagas pembuatan burner dengan harga yang lebih ekonomis. Mahasiswa mendesain dan manufaktur Eco Burner dengan kapasitas 400 liter/jam dengan bahan bakar BBA Olium dengan harga Rp 4.700,00 – Rp 6.500,00 per/liter, untuk menggantikan produk impor dari Jerman.

“Pada proses awal akan dirancang bagaimana proses kerja alat Eco Burner dengan bahan bakar limbah minyak berat. Dalam Eco Burner terdiri dari bagian- bagian penting, diantaranya nozel, tabung, keran olium, kerangka, sistem bahan bakar masuk serta sistem Hot Cracking Hidrokarbon (Atomizing),” kata salah satu mahasiswa Ervin Priambodo.

Eco Burner karya mahasiswa UNY. foto : Humas UNY

Keunggulan desain Eco Burner ini mampu mengabutkan lebih sempurna. Karena desain nozel dibuat lebih lurus.

“Sehingga semburan akan sedikit bertambah panjang dan aliran olium akan semakin lancar,” katanya.

Eco Burner ini juga memiliki efisiensi bahan bakar karena menggunakan sistem pengabutan yang sempurna. Sehingga mampu mengurangi biaya untuk AMP (Asphalt Mixing Plant).

Pada tahap implementasi, tim telah menggabungkan komponen-komponen yang telah dibuat dari percobaan yang telah dilakukan untuk dibuat menjadi Eco Burner. Uji coba dilakukan dengan menghidupkan kompresor yang akan mengeluarkan udara bertekanan yang masuk kedalam Eco Burner. Kemudian olium juga dialirkan kedalam Eco Burner, pada saat didalam Eco Burner, oli akan diubah menjadi kabut, sehingga dapat dibakar.

Setelah burner menyala, langkah selanjutnya memanaskan material yang ada pada AMP. Setelah material panas, proses selanjutnya adalah pencampuran material dengan asphalt.

“Eco Burner dibuat dua tempat, yaitu Laboratorium Manufaktur dan Inovasi Teknologi serta Bengkel Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta dengan biaya Rp 12.500.000,” jelas alumni SMA Negeri 6 Purworejo, Jawa Tengah ini.

Mengefisiensi Produksi Hingga 40%

Mahasiswa lainnya, Nur Khamdan mengatakan bahwa, teknologi yang digunakan dalam Eco Burner ini pemotongan rantai Hidrokarbon (CH) dalam olium dengan metode Hot Crack Hidrokarbon. Pabrik yang membutuhkan energi panas tinggi, salah satunya adalah AMP yang mengolah asphalt dan material sebagai bahan untuk pengerasan jalan.

“Dengan Eco Burner dalam proses di AMP bisa mengefisiensi produksi sekitar 20%-40%,” jelas Nur Khamdan.

Oleh karena itu, perancangan dan pembuatan alat ini sangat berpotensi untuk menghasilkan alat yang bisa digunakan untuk industri AMP.

Adapun salah satu AMP yang ada di Pati, menggunakan burner kapasitas 400 liter/jam yang diimpor dari Jerman. Berbahan bakar solar industri dengan harga Rp 9.300 – Rp 10.000- per liter dengan harga burner di atas Rp 200 juta. Harapannya, terobosan baru berupa Eco Burner karya mahasiswa ini bisa digunakan sebagai pembangkit energi panas di AMP.

“Sehingga dapat mengganti burner dengan kapasitas 400 liter/jam yang diimpor dari Jerman. Sekaligus membantu mengurangi limbah minyak berat yang ada di masyarakat,” jelas Imas Dwi Septiningtyas.

Tidak hanya mendapat apresiasi dari pihak internal kampus. Karya ini juga berhasil meraih dana Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta tahun 2018. (*)

Apa Tanggapan Anda ?