Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Kementan RI, Sumarjo Gatot Irianto saat menyampaikan pidato ilmiah di Fakultas Pertanian UGM. foto: ugm.ac.id

Nasional

Di Zaman Milenial, Sarjana Pertanian Jangan Berpangku Tangan


YOGYAKARTA – Institusi pendidikan pertanian di Indonesia perlu mengambil peran dan melakukan perubahan dalam menghadapi disrupsi teknologi di era revolusi industri 4.0.

Hal tersebut ditandaskan Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Kementan RI, Sumarjo Gatot Irianto, saat di Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta.

Karena itu, diperlukan aktor atau pemain baru di sektor pertanian. Kalangan generasi milenial dianggap memiliki karya inovasi dan berani menghadapi ketidakpastian sektor pertanian.

“Sejarah sudah membuktikan bahwa pionir selalu datang dari generasi muda yang tidak puas dengan kemapanan dan bukan generasi tua yang nyaman dengan kemapanan,” kata Gatot dilansir dari ugm.ac.id.

Pihaknya mengajak agar lulusan sarjana pertanian mengambil peluang dengan menjadikan era disrupsi sebagai peluang dan kesempatan menjadi pemain di dalamnya. Generasi muda  bukan sebagai penerima manfaat, sehingga akan tertinggal dan terpinggirkan.

“Generasi milenial yang tangguh menjadi kuncinya,” katanya.

Diungkapkan, konsep pengajaran pendidikan pertanian juga perlu dilakukan perubahan. Mengingat, saat ini sudah banyak terdapat pendidikan gratis yang bisa didapatkan generasi muda lewat dunia digital.

Seriring tumbuhnya internet of thing (IoT) dan konektivitas, keputusan pertanian saat ini sudah bersumber pada data dan bukan lagi keputusan subjektif manajer pertanian.

“Selama ini kita tidak pernah mau berubah tapi masih mengandalkan diktat (kuliah) yang sudah usang,” cetusnya.

Harus Berani Berinovasi

IoT tersebut dicontohkan, salah satu kegiatan perusahaan swasta di Australia tidak lagi menggunakan lahan yang cukup luas dalam mengelola pertanian. Melainkan, mereka saat ini telah kelimpahan air laut dalam bidang pertanian berkelanjutan.

“Mereka menanam sayuran dan buah-buahan secara hidroponik dengan menggunakan destilasi air laut serta energi surya sehingga minim penggunaan pupuk,” katanya.

Dengan ditemukannya teknologi sensor kelembaban tanah dan suhu, melalui IoT dapat menentukan jumlah dosis dan interval irigasi serta menentukan waktu dilakukannya pengendalian hama dan penyakit. Dengan begitu, efisiensi dan efektivitas penggunaan air bisa dilakukan.

Baca Juga :  Tim Gamaforce UGM Kembali Juarai Kontes Robot

Ia mengajak Fakultas Pertanian untuk dapat bekerja sama dengan Fakultas Teknik dalam pengembangan sensor berbagai komoditas, termasuk dalam interkoneksi alat untuk mekanisasi pertanian.

Punya Kanal Khusus

Dekan Fakultas Pertanian, Dr. Jamhari menyampaikan, Fakultas Pertanian telah memanfaatkan teknologi informasi untuk pembuatan laman kanal pengetahuan dalam rangka penyebarluasan sumber pengetahuan kepada masyarakat.

“Kanal pengetahuan ini dapat diakses seluruh lapisan masyarakat atas hasil penelitian dan pengabdian sivitas akademika Fakultas Pertanian UGM,” kata Dekan.

Kanal yang dimaksud yakni kanalpengetahuan.faperta.ugm.ac.id.

Sementara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, Fakutas Pertanian mendorong peran aktif mahasiswa  dalam mengakses sumber informasi terkini melalui akses ke jurnal ilmiah nasional dan internasional. Serta, ketersediaan modul pembelajaran.

Fakultas Pertanian UGM berada pada peringkat pertama di Indonesia dalam riset pangan dan perkebunan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kemristekdikti tahun 2018 ini. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
SD Mutual Kota Magelang