Nasional

Prof dari UI Paparkan Tiga Jenjang Penyebab AKI

JAKARTA – Akademisi dari Universitas Indonesia (UI) menaruh perhatian pada kasus angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Hal ini karena di negara kepulauan tersebut angkanya masih tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2015, AKI sejumlah 305 per 100.000 kelahiran hidup. Ini artinya setiap hari, dua ibu yang baru melahirkan meninggal dunia. Sementara target PBB adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Prof. dr. Meiwita P. Budiharsana, MPA, Ph.D dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar UI di Balai Sidang UI Kampus Depok penuruan AKI di Indonesia masih menemui ketidakpastian.

Dikatakan, peningkatan AKI suatu negara dianggap merugikan. Karena, ibu yang meninggalkan anak saat lahir berpengaruh terhadap kehidupan anak dalam bertahan hidup.

Sebagai perempuan Indonesia, Prof. Meiwita menganggap, upaya yang dilakukan selama ini hanyalah upaya kuratif (pengobatan). Tujuannya untuk mengurangi penderitaan akibat kesakitan yang sudah diderita. Namun, upaya pencegahan semakin terlupakan.

Menurutnya hal terpenting untuk Indonesia saat ini ialah berfokus kepada investasi pada upaya pencegahan dengan pendekatan promotif. Seperti pemberian informasi dan edukasi secara kontinu.

“Upaya kuratif seperti penambahan dokter spesialis kebidanan, fasilitas, alat dan tenaga sudah dilakukan sebagai investasi kuratif. Tetapi, investasi semacam ini ternyata tidak mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku perempuan untuk lebih paham isu kesehatan pada perempuan,”  beber perempuan yang berhasil dikukuhkan sebagai Guru Besar di FKM UI ke-34 itu sebagaimana ditulis ui.ac.id.

Jenjang Penyebab Kematian

Prof. Meiwita telah mengklasifikasikan penyebab kematian menjadi tiga jenjang yakni:

  1. Jenjang penyebab langsung, seperti pendarahan, eclampsia, sepsi, persalinan macet
  2. Jenjang tidak langsung, seperti perkawinan usia dini, seks bebas
  3. Jenjang mendasar, seperti kemiskinan dan pendidikan

Namun, upaya kuratif yang dilakukan saat ini dinilai hanya mengatasi permasalahan pada jenjang penyebab langsung.

Proyeksi data dari Survei Penduduk Antar Sensus 2015 (SUPAS), di tahun 2018 dari 131 juta penduduk, 71 juta penduduknya merupakan penduduk perempuan usia subur (15-49 tahun). Pada usia tersebut kerap terjadi kasus seperti pernikahan dini dan seks bebas.

Hal ini memberikan sinyal perlu adanya aksesi informasi terkait kesehatan sejak dini. Baik itu sebelum atau sudah memasuki usia pernikahan dan kehamilan.

Data tersebut, memperlihatkan akses terhadap informasi kesehatan masih belum merata dan tidak dilakukan secara terstruktur.

Karena itu, Prof. Meiwita menilai Indonesia perlu lebih fokus kepada upaya pencegahan pada dua jenjang utama. Yakni, jenjang penyebab mendasar dan tidak langsung.

Upaya untuk mengatasi AKI yang tinggi, tak akan berhasil jika tidak dilakukan secara bersama dan berkesinambungan. Lini pertama yang perlu dilatih pemerintah pusat adalah capacity building SDM pemerintah daerah. Hal ini perlu disertai dengan upaya edukasi kepada perempuan. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?