Nasional

Kuliah Umum Rokhmin Dahuri di ITB, Tawarkan Solusi Persoalan Indonesia

BANDUNG - Kondisi sosial ekonomi yang ada di Indonesia memiliki banyak masalah dalam beberapa hal. Pengangguran dan kemiskinan, ketimpangan sosial, disparitas pembangunan antar wilayah, penderita gizi buruk, daya saing dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah dan kerusakan lingkungan.

Mengapa Indonesia belum maju dan sejahtera hingga sekarang, disebabkan karena pertumbuhan ekonomi masih rendah di bawah 7 persen per tahun, tenaga kerja kurang berkualitas, kurang inklusif dan unsustainable. Kemudian sektor primer seperti pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pertambangan sebagian besar dikerjakan secara tradisional.

"Sektor sekunder misalnya manufacturing, processing dan packaging itu produktivitasnya juga masih rendah. Sementara akses UMKM terhadap lahan usaha permodalan sarana produksi juga minim," kata Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., saat menjadi pembicara dalam Studium Generale (SG) KU 4078 di Aula Barat ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Jawa Barat.

Dalam paparannya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI tahun 2001-2004 itu mengangkat tema "Pembangunan Ekonomi Kelautan Berbasis Industri 4.0 untuk Mewujudkan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia". Di hadapan ratusan mahasiswa ITB yang mengikuti kuliah umum tersebut ia menyampaikan, sebagai solusi mengatasi masalah tersebut Indonesia punya Sumber Daya Alam (SDA) dan kekayaan maritim. Mengenai ekonomi maritim, potensinya besar sekali dengan nilai 1,4 triliun. Artinya hampir satu setengah kali lipat perekonomian Indonesia saat ini.

"Kedua, tenaga kerja yang bisa kita ciptakan kalau kelautan dikelola oleh orang profesional pada bidangnya bisa menyerap 45 juta orang. Artinya 40 persen masalah pengangguran bisa selesai. Belum lagi nilai tambah yang lain," ungkapnya.

Kemudian ketiga, kehadiran revolusi industri 4.0 untuk ekonomi kemaritiman dan kelautan bisa meningkatkan efektivitas, produktifitas, keuntungan dan daya saing. Apalagi di era global sekarang suatu bangsa yang maju adalah yang bisa menghasilkan produk berdaya saing.

"Pertumbuhan ekonomi ini tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Artinya rakyat kecil harus diberi modal, pendidikan, akses pasar, sehingga usaha modern yang menguntungkan bukan hanya dikerjakan oleh orang yang segelintir tapi oleh semua rakyat Indonesia," ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar pola pembangunan yang dilakukan harus ramah lingkungan. Yaitu dengan penataan tata ruang yang baik, dan pengendalian pencemaran limbah.

Menurut dia, Indonesia memiliki potensi pembangunan yang besar dan lengkap untuk menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berdaulat. Diantaranya karena negara ini memiliki jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia dan diprediksi pada 2020-2040 akan mempunyai bonus demografi. Indonesia juga kaya akan sumber daya alam.

Acara tersebut sebelumnya dibuka terlebih dahulu Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni dan Komunikasi ITB Dr. Miming Miharja, ST. M.Sc. Eng. Dalam sambutannya, ia menyampaikan, topik yang dibahas dalam SG kali ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan di semua kalangan termasuk di ITB. Tema yang akan diangkat akan sangat menarik untuk pembekalan mahasiswa. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?