Fourth International Symposium on Temulawak and Potential Plants for Jamu digelar IPB. foto: ipb.ac.id

Nasional

Ketika Temulawak Diulas Akademisi dan Pejabat


BOGOR – Hasil bumi berupa rempah-rempah di Indonesia akan terus dikembangkan. Setidaknya ini terlihat dari adanya “Fourth International Symposium on Temulawak and Potential Plants for Jamu” yang digelar Pusat Studi Biofarmaka Tropika, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat  Institut Pertanian Bogor (Trop BRC LPPM IPB) di salah satu hotel di Bogor, Jawa Barat.

“Diharapkan dapat meningkatkan teknologi jamu yang selama ini lebih inferior dibanding pengobatan modern,” kata Sekretaris LPPM IPB, Prof. Dr. Ir. M. Faiz Syuaib, M.Agr.

Pesertanya ada 58. Mereka berasal dari dalam dan luar negeri yang merupakan perwakilan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Gifu University (Jepang), Chulalongkorn University (Thailand), Universiti Putra Malaysia, dan SOHO Centre of Excellence in Herbal Research (SCEHR).

Sementera itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, . Sigit Priyo Utama mengatakan tanaman asal Indonesia memiliki potensi yang baik, terutama ketika diolah menjadi jamu. Permasalahnnya adalah masyarakat Indonesia sekarang sudah mulai meninggalkan jamu.

“Orang sering melupakan jamu,” ungkapnya.

Dia berharap bahwa lewat simposium ini, para peneliti dapat mengeksplorasi tanaman yang tumbuh subur di Indonesia.

Tema yang diusung dalam kesempatan itu adalah “From Temulawak and Potential Plants for Jamu to their Modern Drugs and Cosmetics Advancements”. Ini merupakan kelanjutan dari tiga kegiatan International Symposium on Temulawak sebelumnya.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Ir. Musdhalifah Machmud, MT mengatakan, tanaman obat, lewat produk jamu, tetap menjadi pendapatan nasional utama.

Temulawak, lanjutnya, bisa menjadi salah satu tanaman dengan posisi penting dalam perekonomian nasional. Penggunaan tanaman obat Indonesia tersebar ke seluruh daerah Asia, bahkan sampai Eropa.

“Sebanyak 70 persen doktor di Jerman menyarankan pemanfaatan sekitar 600-700 obat berbahan dasar tanaman,” tutur Raphael Aswin Susilowidodo dari SCEHR.

Menurut Suwijiyo Pramono dari UGM, temulawak tercatat sudah digunakan sebagai obat tradisional sejak 50 tahun silam. Tanaman yang menjadi ikon bagi IST4 dapat dikonsumsi sebagai penambah nafsu makan dan pereda nyeri pada saat menstruasi.

“Pencampuran dengan bahan lain dapat dilakukan sebagai pembuatan obat untuk berbagai macam penyakit, salah satunya hemoroid,” tandasnya.

Riset yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan tanaman obat bukan hanya sebatas pereda batuk atau penambah nafsu makan saja.

Tohru Mitsunaga dan rekan-rekannya dari Universitas Gifu menunjukkan bahwa kunyit hitam (Kaempferia parviflora) dapat mengurangi efek dari dementia. Kunyit hitam dan temu kunci (Boesenbergia rotunda).

Menurut Warinthorn Chavasiri dari Chulalongkorn University, rempah tersebut, dapat dijadikan senyawa antibiotik. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?