Tim Teknik Industri ITS meraih penghargaan di Korea.

Internasional

Prihatin Kondisi Buruh, Mahasiswa ITS Sabet 3 Penghargaan di Korea


Siedoo, Nama Indonesia disebut dalam jajaran juara internasional, saat ajang Korea International Youth Olympiad – Idea, Innovation, Invention, and Intellectual Property (KIYO 4I) di Seoul, Korea Selatan. Perwakilan dari Indonesia, diikuti tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur. Mereka menampilkan inovasi – inovasi yang membuat juri memberikan nilai lebih dibandingkan peserta yang lain.

“Inovasi dari kami yaitu membuat sayap pesawat komersial lebih dinamis. Sayap hasil ciptaan ini terbukti sukses menghemat biaya penerbangan sebesar dua juta rupiah,” kata Pembimbing tim ITS Dr Adithya Sudiarno ST MT.

Angka rupiah ini teruji dengan menggunakan sampel pesawat Boeing 737-900ER yang melakukan estimasi penerbangan Yogyakarta-Surabaya. Terbukti kinerja pesawat meningkat sebesar 17 hingga 23 persen.

Adapun tim ITS terdiri dari Reza Aulia Akbar, Ragif Nova Riantama dan M Afif Purwandi. Selain inovasi sayap pesawat, ketiganya juga berinovasi menciptakan alat untuk mendeteksi kelelahan melalui denyut jantung dan kedipan mata. Inovasi ketiga mahasiswa Departemen Teknik Industri ini, secara keseluruhan berhasil mengantongi satu medali perak dan dua medali perunggu.

Inovasi yang diciptakan mahasiswa, tidak lepas dari kondisi buruh internasional. Dilansir dari Organisasi Buruh Internasional, tercatat sekitar dua juta pekerja yang meninggal tiap tahunnya karena kecelakaan kerja. Di mana 32,8 persen diantaranya disebabkan oleh faktor kelelahan.

Inovasi yang dinamai Fatigue Detector (Fator) dan Masinis Fatigue Detector (Maftec) ini berhasil lolos menuju babak akhir di ajang KIYO 4I yang dihelat di Universitas Sejong, Seoul, Korea Selatan.

“Fator memanfaatkan sensor ECG (Electrocardiogram, red) Arduino dalam rangkaiannya. Skemanya adalah menghitung heartrate atau denyut jantung dari para pekerja,” jelas Adithya Sudiarno.

Sensor elektro kardiograf yang terpasang pada alat itulah, menurut dosen ahli bidang Manajemen Operasional ini, yang mengukur seberapa cepat jantung berdenyut. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan data dari jurnal untuk memperoleh tingkat kelelahan.

Berbeda dengan Fator yang berlomba di subkategori kesehatan, Maftec berlomba di subkategori teknik dengan cara mendeteksi kelelahan melalui kedipan mata.

“Sesuai namanya, Maftec diperuntukkan mendeteksi kelelahan masinis kereta api,” urainya.

Diperoleh melalui image processing webcam berintensitas cahaya sebesar 16 lux, hasil hitungan kedipan mata tersebut kemudian dituangkan dalam Skala Kantuk Karolinska.

Apabila tersimpulkan bahwa masinis yang bersangkutan mengantuk, alat ini akan mengirim sinyal getaran kepada pusat komando kereta api. Kedua alat ini masing-masing sukses menyabet medali perak dan perunggu.

Apa Tanggapan Anda ?