Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Magelang ikrar cinta damai di Lapangan Pemda, Jalan Kartini Muntilan, Kabupaten Magelang.

Daerah

Pelajar Muhammadiyah Perlu Memiliki Keunggulan Karakter


MAGELANG – Para pelajar Muhammadiyah perlu memiliki keunggulan dalam karakter, yakni karakter dalam hal akhlaq yang mulia. Pelajar juga memiliki kemauan untuk belajar serta bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh.

“Tumbuhkan budaya literasi (budaya baca) dikalangan pelajar. Dengan literasi maka akan dapat membuka wawasan keilmuan dan kehidupan dalam rangka menghadapi tantangan zaman,” kata Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah Jumari.

Hal itu disampaikan Jumari saat apel bersama dalam rangka pembukaan kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) SMK Muhammadiyah Se Kabupaten Magelang. Sekitar 2.800 pelajar Muhammadiyah berkumpul di Lapangan Pemda, Jalan Kartini Muntilan Kabupaten Magelang. Peserta apel merupakan siswa baru yang berasal dari 14 SMK Muhammadiyah pada tahun ajaran 2018 ini.

Dalam kesempatan tersebut para pelajar Muhammadiyah juga membacakan ikrar terkait komitmen untuk cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), cinta perdamaian, menolak kekerasan, menolak tawuran serta anti narkoba. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Magelang AKBP Hari Purnomo menjadi pembina dalam kegiatan apel tersebut. Ia menyampaikan pentingnya para pelajar Muhammadiyah menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, salah satunya adalah cinta damai.

Para pelajar perlu ditumbuhkan rasa persaudaraan dan kebersamaan yang nantinya akan menghadirkan perdamaian diantara para pelajar dan juga antara sekolah yang satu dengan yang lainnya.

“Setiap pelajar hendaknya mampu menjadi tauladan yang baik bagi pelajar lainnya,” katanya.

Menurut dia, tawuran harus dihindari karena akan menimbulkan dampak buruk bagi masa depan pelajar itu sendiri. Cita-cita dan harapan menjadi tidak tercapai karena akibat dari tawuran tersebut. Seperti adanya rekam jejak berupa tindakan kriminal, cacat fisik bahkan sampai dengan meninggal dunia.

“Selain itu tawuran juga dapat mengakibatkan kehidupan masyarakat di sekitarnya menjadi terganggu dan terancam,” urainya.

Hari menambahkan, pentingnya peran keluarga dalam hal ini orang tua untuk membina karakter generasi muda, khususnya bagi pelajar. Selain itu, para guru di sekolah hendaknya jangan hanya fokus pada pembelajaran yang sifatnya kelilmuan semata. Akan tetapi juga perlu fokus pada upaya membina karakter terkait perilaku hidup sehari-hari.

“Kehidupan generasi muda khususnya para pelajar adalah tahapan kehidupan, dimana proses mencari jati diri sedang dilakukan. Oleh karena itu, peran orang tua dalam kehidupan keluarga dan para guru di sekolah menjadi sangat penting dalam memberikan bimbingan dan pembinaan,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?