Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang mengadakan aksi menanam di SDN 1 Toyomarto, Kecamatan, Singosari, Kabupaten Malang, Jatim.

Daerah

Segarkan Bumi Melalui Penghijauan Taman Kelas

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MALANG“Bumi tidak lagi akan segar tanpa harumnya mawar. Dan tidak lagi menawan tanpa adanya krisan,”.

Ungkapan itu disampaikan Ika Nova Rimayanti, salah satu mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang, Jawa Timur saat mengisi materi di SD Negeri 1 Toyomarto Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Rutinitas mengikuti kegiatan pembelajaran formal siswa kelas 1 SD Negeri 1 Toyomarto berubah menjadi aksi menanam benih aneka tanaman yang menghiasi taman kecil di sekolah mereka. Aksi penanaman tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan pelatihan penanaman tanaman hias, yang dipimpin Rima, panggilan akrabnya.

“Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk mengajak generasi muda agar lebih peduli dengan keindahan dan keasrian lingkungan sekitar mereka,” jelas dia.

Perlahan paparan Rima tentang pentingnya tanaman mulai merasuk ke dalam benak setiap siswa yang ada. Sehingga, mereka tergerak untuk mulai menanam tanaman untuk menghiasi taman kecil di depan kelas mereka. Menyambut antusiasme dari para siswa untuk mulai menanam, Rima memberikan arahan untuk mulai menanam. Mulai dari menyiapkan polybag, mengambil tanah, menanam benih hingga menyiram benih secara berurutan.

Satu persatu tahapan dilakukan dengan baik berkat bantuan teman – teman Rima. Mulai dari membariskan siswa, membagikan polybag, hingga menyiapkan air. Semua rangkaian kegiatan selalu dipenuhi gelak tawa dari aksi polos dan konyol siswa kelas satu, meskipun menguras banyak tenaga dan kesabaran. Terutama dalam menertibkan siswa.

Selain membekali siswa dengan nilai -nilai peduli lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi hiburan untuk siswa setelah menjalani ujian kenaikan kelas di akhir semester genap.

“Yah, hitung – hitung kegiatan ini juga menjadi hiburan sekaligus tantangan untuk saya dan teman teman,” ungkap Rima.

Meski berjalan lancar, bukan berarti acara ini tanpa tantangan. Salah satunya, menjaga kesabaran agar bisa lebih stabil.

“Tantangan terberat dalam pelatihan ini adalah mengupayakan kesabaran yang saya miliki untuk tidak cepat habis menguap dalam menertibkan siswa. Meskipun demikian, menurut saya ini merupakan harga yang harus saya bayar untuk menggerakkan hati generasi penerus bangsa untuk sadar keindahan dan keasrian lingkungan. Menanamkan kebaikan di hari nanti, kalau tidak dimulai dari mereka, lantas siapa lagi,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?