Opini

Tanamkan Pendidikan Karakter Melalui Dongeng

Siedoo, BUNG KARNO pernah mengatakan bahwa “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan kepentingan pembangunan karakter (character building). Karena hal inilah yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya, serta bermartabat. Jika character building ini tidak dilakukan, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli.”

Begitu pentingnya pembangunan karakter bagi generasi bangsa, sehingga proklamator kita menekankan hal itu. Beliau menegaskan untuk menjadi bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat, hanya dengan membanguni karakter agar tidak menjadi bangsa kuli.

Pembangunan karakter bisa dilakukan dengan pendidikan karakter. Karakter, oleh Ki Hadjar Dewantara diistilahkan budi pekerti, akan mampu membentuk generasi bangsa yang bermartabat. Karena yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain adalah karakter Indonesia sebagai bangsa timur.

Kita ketahui, pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab guru saja, tapi juga tanggung jawab orang tua, dan masyarakat. Ketiga pihak ini harus bersinergi dan bekerjasama, dalam menanamkan karakter positif kepada anak-anak. Bahkan, menanamkan karakter dimulai sejak anak masih balita.

Salah satu cara menanamkan karakter positif yang menyenangkan anak atau siswa, melalui dongeng. Pembudayaan karakter di sekolah lewat dongeng tentu, pembelajaran dirasakan mengasyikkan dan suasana lingkungan sekolah akan semakin menggairahkan bagi siswa untuk belajar.

Dongeng dalam bahasa Inggris adalah fairy tale. Sedangkan pendongeng disebut story teller, dan mendongeng (sering juga disamakan dengan bercerita) disebut dengan story telling. Ada sedikit perbedaan dongeng dan cerita (story).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng berarti sebuah cerita khayalan yang belum tentu kebenarannya. Sedangkan menurut Harder, cerita adalah ketika seseorang bercerita kepada orang lain. Cerita bisa suatu hal yang nyata atau bisa juga suatu hal yang dibuat-buat. Cerita adalah percakapan kita sehari-hari.

Di era globalisasi ini, pendidikan karakter di negara kita perlu menjadi perhatian. Hal ini dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Pendidikan karakter dilakukan untuk membentuk pribadi generasi penerus bangsa yang sesuai dengan identitas bangsanya.

Tidak hanya mengenal baik dan buruk. Tapi bagaimana memahaminya, menghayatinya dan mengamalkannya.
Adapun 18 nilai-nilai pendidikan karakter yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif. Selain itu, juga nilai cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggungjawab.

Pendidikan karakter tentunya bukanlah ilmu praktis yang dengan mudah bisa ditanamkan pada diri seseorang begitu saja. Menumbuhkan karakter seseorang tentunya membutuhkan sebuah proses panjang. Proses terbaik dimulainya pendidikan karakter adalah sejak usia dini.

Pendidikan karakter sejak usia dini, diyakini memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan kemampuan dan sikap dasar bagi seorang anak sejak berada di usia emasnya. Maka, menjadi strategis bila Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menggiatkan pendidikan karakter dalam proses pembelajarannya. Di lingkungan keluarga, peran orangtua juga sangat penting untuk pendidikan karakter kepada anak.

Ada beberapa karakter anak yang dapat ditumbuhkan dengan cara mendongeng, antara lain rasa ingin tahu, gemar membaca, kepedulian terhadap lingkungan dan sosial, cinta tanah air. Hal ini didapat dari nilai-nilai luhur dan nasehat yang terkandung dalam cerita yang disampaikan. Pemilihan tema cerita untuk anak dapat disesuaikan dengan usia anak. Demikian juga materi dongengnya bisa beragam. Seperti cerita rakyat, fabel, hingga yang bersifat tematik seperti transportasi, hari bumi, dan lainnya.

Perlu diperhatikan juga, agar dongeng menarik dan pesan cerita dapat disampaikan dengan baik, dapat dilakukan dengan berbagai cara mendongeng. Cara yang dapat dilakukan antara lain dengan membacakan buku dongeng bergambar, menggunakan peralatan seperti boneka tangan, dengan gaya bahasa dan gaya tubuh, atau dengan cara menggambar langsung.

Sangat disayangkan memang, bila saat ini jarang sekali guru yang mau menggunakan dongeng sebagai cara untuk menyampaikan pesan atau amanat dalam sebuah pembelajaran. Bahkan, para orang tuapun sudah enggan memakai dongeng untuk meninabobokkan putra tercintanya sesaat sebelum tidur.

Padahal, banyak perbedaan pada tumbuh kembang anak yang sering dibacakan dongeng dan anak yang jarang mendengar dongeng. Anak yang sering mendengar dongeng akan memiliki kosakata dan bahasa yang jauh lebih beragam. Kemampuan komunikasi mereka jauh lebih baik.

Penyebab kurangnya guru mendongeng dalam kelas atau menggunakan dongeng sebagai metode pembelajaran, antara lain:

1) Masih banyak guru terfokus pada hasil akhir, bukan pada sebuah proses pembelajaran;
2) Sedikitnya pengetahun guru tentang berbagai dongeng atau cerita rakyat, disebabkan kurangnya membaca;
3) Kurangnya kemampuan guru untuk mendongeng, baik, sikap, intonasi, mimik, maupun ekspresi lainnya yang mencerminkan tokoh-tokoh dalam dongen;
4) Masih adanya rasa malu dan canggung jika harus bersikap total dalam mendongeng, seperti menangis, bersuara anak-anak, bersuara sesuai tokoh, dan lain sebagainya.

Perlu diingat dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, Bab II pasal 3 berbunyi “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Maka, salah satu tugas pokok pendidik adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan menanam dan menumbuhkan pewarisan nilai-nilai hidup sebagai suatu bangsa yang mempunyai cita-cita luhur berdasarkan Pancasila. Terkait hal itu, berbagai cara harus dilakukan guru agar tujuan pendidikan yang ingin dicapai dan karakter bangsa yang diharapkan, bisa masuk dan tertanam dalam mental anak didik. Termasuk menggunakan metode dongeng dalam pembelajaran untuk menanamkan karakter peserta didik.

*Narwan, S.Pd
Guru SD Negeri Jogomulyo, Kecamatan Tempuran,
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Apa Tanggapan Anda ?