Hutagamissufardal meraih gelar Doktor dengan memperbaiki persepsi penyebab tanah longsor.

Inovasi

Perbedaan Persepsi Penyebab Tanah Longsor

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

SURABAYA – Fenomena tanah longsor saat ini belum bisa diketahui secara pasti. Sehingga, sebagian masyarakat menduga bahwa yang menjadi penyebab longsor adalah intensitas curah hujan yang tinggi.

Sementara di sisi lain, pengujian parameter kekuatan geser tanah di laboratorium saat ini masih sebatas uji pada tanah yang utuh atau belum rusak. Serta, tidak melibatkan tekanan air yang bekerja secara independen.

Melalui penelitian dalam disertasinya, Hutagamissufardal ST MT, mencoba menjawab keterbatasan tersebut. Solusi dari hasil penelitiannya dipresentasikan dalam sidang doktor di Ruang Sidang Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (28/2/2018). Dalam sidang terbuka promosi doktor itu, dipimpin Prof Dr Ir I Gusti Putu Raka.

Pada penelitian itu, ia berhasil menemukan jawaban atas kekeliruan persepsi masyarakat selama ini tentang penyebab kelongsoran tanah. Yakni, dengan terciptakannya alat uji geser yang dimodifikasi. Yang kemudian alat tersebut digunakan untuk menguji parameter kekuatan geser tanah.

Alat baru yang dibuat ini dapat digunakan untuk pengujian kekuatan geser tanah melalui pendekatan bidang retak yang menjalar. Pada bidang retak yang terbentuk tersebut, dapat diisi oleh material lain dan menerima tekanan air secara independen.

“Berbeda dengan alat yang umum digunakan. Alat ini memiliki kelebihan yaitu dilengkapi dengan kotak geser yang tertutup. Sehingga, dapat menerima tekanan air,” terang pria kelahiran Lumpatan, 12 Februari 1970 ini.

Penelitian dilaksanakan sejak 2010 itu, untuk disertasi berjudul Analisis Parameter Kekuatan Geser Tanah Berdasarkan Pendekatan Bidang Retak pada Peristiwa Kelongsoran Lereng. Penelitian itu menghasilkan kesimpulan bahwa jika tanah retak diisi dengan material lain berupa pasir, maka tanah tersebut akan berubah sifat menjadi behaving like sand (bersifat non kohesif).

“Penyebab utama penurunan kekuatan geser tanah (kohesi dan sudut gesek internal tanah, red) bukanlah tekanan air. Melainkan keretakan pada tanah,” imbuh Agam.

Pada akhir presentasinya, Agam berharap alat yang ia kembangkan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Dan, mampu memberikan informasi mengenai kondisi suatu tanah atau lempung dan dapat mengidentifikasi penyebab kelongsoran tanah.

“Semoga dengan alat ini, kondisi tanah yang berpotensi longsor dapat diketahui dengan akurat. Sehingga, tindakan untuk menanggulanginya juga tepat dan tidak sia-sia,” jelas Agam.

Penelitian itu, dipromotori oleh Prof Ir Noor Endah Mochtar MSc PhD dan Prof Ir Indra Surya B Mochtar MSc PhD, dosen Program Studi S-1 Teknik Sipil Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Berdasarkan pertimbangan dari pemaparan hasil penelitian Agam tersebut, keputusan Komisi Pertimbangan Fakultas yang dibacakan pimpinan sidang menyatakan bahwa, Agam berhasil lulus menyandang gelar doktor. Dengan predikat sangat memuaskan.

Agam menargetkan alat yang ia modifikasi ini akan terdaftar untuk mendapatkan hak paten pada akhir tahun ini. Ia juga sangat merekomendasikan alatnya untuk digunakan.

“Sekaligus untuk menggantikan peranan alat sebelumnya,” kata dia.

Hal senada juga diungkapkan Prof Ir Indra Surya B Mochtar MSc PhD selaku co-promotor. Ia memiliki harapan bahwa alat baru yang dikembangkan ini bisa segera dipatenkan.

“Saya harap alat ini segera dipatenkan,” tegasnya.

Apa Tanggapan Anda ?