WAYANG. Pertunjukan wayang kulit di Alun-alun Kota Magelang pada Sabtu malam (20/7/2019). Lakon yang diusung Amarta Binangun didalangi Ki Seno Nugroho dengan bintang tamu Marwoto, Ciblek dan Elisa. (foto: ist)
Siedoo.com - WAYANG. Pertunjukan wayang kulit di Alun-alun Kota Magelang pada Sabtu malam (20/7/2019). Lakon yang diusung Amarta Binangun didalangi Ki Seno Nugroho dengan bintang tamu Marwoto, Ciblek dan Elisa. (foto: ist)
Daerah

Jangan Lewatkan! Pagelaran Wayang Kulit di Alun-alun Kota Magelang, Angkat Dialog Kiai Semar dan Syech Subakir

MAGELANG, siedoo.com – Jangan lewatkan, pagelaran wayang kulit di Alun-alun Kota Magelang, Jawa Tengah. Waktunya Sabtu besok (12/11/2022) pukul 20.00 WIB sampai Ahad (13/11/2022) pukul 03.00 WIB.

Lakon yang disajikan “Dumadine Punakawan” dengan dalang Ki Cahyo Kuntadi dari Karanganyar. Sebagai bintang tamunya Jo Klithik Jo Kluthuk dari Ponorogo, Jawa Timur.

Isi cerita Dumadine Punawakan akan dikaitkan dengan dialog Kiai Semar dengan Syech Subakir di Gunung Tidar. Selain itu, terdapat penyampaian pesan-pesan Kiai Semar tentang ajaran “Asta Brata” kepada masyarakat untuk menjaga ketentraman dan keamanan.

Dalam pagelaran yang diadakan sekaligus dalam peringatan Hari Wayang 6 November tersebut diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Magelang, Sugeng Priyadi mengatakan, pagelaran diawali dengan karawitan gabungan TNI-Polri serta penampilan special. Yaitu, pertunjukan wayang dengan dalang Kapolres Magelang Kota, Yolanda Evalyn Sebayang.

Wayang yang ditampilkan Yolanda untuk mensosialisasikan pada masyarakat agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan di wilayahnya masing-masing.

“Pagelaran ini bertujuan untuk nguri-uri, mengembangkan budaya dimana hal ini dapat menjadi contoh yang baik,” ujar Sugeng Priyadi dalam rilis yang diterima redaksi siedoo, Jumat (11/11/2022).

Melalui pagelaran ini, diharapkan masyarakat mampu bekerja sama dan guyub rukun melalui keteladanan yang baik. Lebih lanjut, akan memberikan penambahan tokoh-tokoh yang mampu membangun kebersamaan dalam masyarakat.

“Apabila dikaitkan dengan legenda di Kota Magelang, seperti legenda Gunung Tidar menjadi Pakuning Tanah Jawa serta legenda lainnya. Harapannya, dalang kita bisa menggambarkan cerita itu sekaligus menyampaikan ajaran-ajaran punakawan,” imbuh Sugeng.

Sugeng menambahkan secara kebijakan pemerintah, kegiatan ini mampu menggaet antusias dan minat masyarakat. Terlebih mampu memberikan ruang kepada dalang lokal yang harus diapresiasi.

Baca Juga :  Isi Talkshow di Jakarta, Niken: Peran Bunda Sanitasi Meliputi 5 NG, Apa Saja?

“Kalau kita mengenalkan dari lingkungan terkecil, harapannya mulai dari tetangga sekitar turut serta menyaksikan kegiatan ini,” tambah Sugeng.

Kegiatan ini akan disisipi sosialisasi dari bea cukai yang bertema “Gempur Rokok Ilegal”. Even ini terselenggara dari anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Seperti diketahui DBHCHT adalah bagian dari transfer ke Daerah yang dibagikan kepada daerah penghasil cukai atau penghasil tembakau, untuk mewujudkan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam pengelolaan APBN. (prokompim/kotamgl/siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?