Ilustrasi

Nasional

Trik Tekan Kekerasan di Dunia Pendidikan


Siedoo, KEKERASAN di dunia pendidikan belum terbendung. Perilaku negatif tersebut masih saja menghiasi dunia pendidikan kita. Kasus terakhir yang memprihatinkan adalah meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, seorang Guru Seni Rupa SMAN 1 Torjun Sampang Madura. Ia meninggal dianiaya oleh siswanya.

Berikut ada beberapa point untuk menekan kekerasan dalam dunia tersebut. Apa saja itu?

Terapkan pendidikan berbasis kasih sayang

Banyak yang bilang penerapan pendidikan berbasis kasih sayang seperti diterapkan oleh almarhum Een Sukaesih.

“Untuk mengatasi tindak kekerasan tersebut, yakni dengan menerapkan pendidikan berbasis kasih sayang terhadap siswa di sekolah. Hal itu, seperti yang dicontohkan almarhumah sang guru kalbu Een Sukaesih. Tak hanya di sekolah saja, termasuk anak-anak di lingkungan masyarakat,” ujar Pembina Paguyuban Motekar dan Yayasan Al Barokah Herman Suryatman, sebagaimana ditulis Pikiran Rakyat.

Menurut Dra. Sri Murniati, MT kasih sayang merupakan sesuatu yang paling mendasar diterima setiap insan. Kasih sayang dapat juga dikatakan sebagai suatu hak yang harus diterima, karena secara psikologi sangat berpengaruh dalam tumbuh kembangnya seorang insan.

Baginya, kasih dan sayang yang dimaksud tidak sekedar hubungan cinta atau asmara antara seorang perempuan dan laki-laki saja. Tetapi lebih bersifat umum, seperti terjadi terhadap sahabat, saudara, keluarga dan lain-lain.

“Yang perlu ditekankan adalah bahwa kasih dan sayang yang tulus itu selalu punya sifat yang ikhlas. Serta lebih banyak memberi daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomor duakan demi memberikan kebahagiaan kepada orang yang dikasihi dan disayanginya,” katanya seperti di Kompas.

Dengan perkataan lain, kasih sayang merupakan rasa yang didambakan setiap insan di dunia. Diantaranya adalah kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dan sebaliknya, kasih sayang antara seorang guru terhadap siswanya.

“Rasa kasih sayang tersebut akan muncul ketika ada perasaan iba dan simpatik dalam diri kepada yang dikasihi. Namun munculnya rasa kasih sayang tersebut tidak dapat berpura-pura. Tetapi muncul dengan sendirinya tanpa direkayasa,” ujarnya.

Tingkatkan budaya literasi

Bagi Maman Suherman yang juga pegiat literasi sekaligus Kriminolog, adanya kekerasan di sekolah juga karena faktor masih rendahnya budaya literasi di masyarakat.

Padahal budaya literasi mempengaruhi kebahagiaan serta cara pandang dan pola sikap masyarakat.

“Masyarakat Indonesia belum mampu menekankan pentingnya literasi,” kata Maman.

Berdasarkan data UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, saat 1.000 orang Indonesia berkumpul, yang suka membaca cuma 1 orang.

“Jadi dari 280 juta orang Indonesia, yang suka membaca hanya 280.000 orang. Sementara yang menyalahgunakan narkoba 5,9 juta orang,” kata Maman

Lima negara paling tinggi minat membaca, yakni Islandia, Finlandia, Swiss, Norwegia dan Denmark. Kelima negara itu, paling bahagia di dunia.

“Orang Indonesia rata-rata baca buku setahun 1 sampai 2 buku. Di Finlandia, rata-rata 30 buku per orang. Mereka negara paling bahagia,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?