Ilustrasi pendidikan. Bagaimana pembelajaran bisa tersampaikan dengan baik. Foto : Indokampus.com.

Opini

Awalan Gila, Daya Tarik Pembelajaran


Siedoo, SEORANG tokoh ilmuan dunia Albert Einstein pernah mengatakan “jika awalnya tidak gila, maka seterusnya akan biasa-biasa saja”. Awal yang “gila” dalam dunia pendidikan dikenal istilah appersepsi.

Gila yang dimaksud disini adalah bentuk dari appersepsi yang sangat menarik. Sehingga, memunculkan minat belajar yang begitu kuat dari dalam diri siswa. Appersepsi sendiri merupakan stimulus khusus pada awal belajar yang bertujuan meraih perhatian dari para siswa.

Jika appersepsi berhasil dilaksanakan dengan baik, maka dengan sendirinya siswa akan memiliki semangat yang kuat untuk mencari pengetahuan dan wawasan dari apa yang akan mereka pelajari. Ketika sudah terbentuk pemikiran yang seperti itu, maka kegiatan pembelajaran selanjutnya hampir dapat dipastikan akan berhasil pula.

Sayangnya fakta di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan appersepsi ini terkesan asal-asalan. Bahkan, sama sekali tidak dapat menarik perhatian siswa pada saat kegiatan pembelajaran akan dilaksanakan.

Hal ini bisa dikarenakan perencanaan pembelajaran yang kurang matang. Terutama dalam penentuan jenis appersepsi seperti apa yang paling cocok digunakan dalam mengawali suatu kegiatan pembelajaran.

Munif Chatib dalam bukunya “Gurunya Manusia” telah membeberkan beberapa variasi bentuk dari appersepsi yang dapat diterapkan dalam suatu kegiatan belajar. Variasi dari appersepsi menurut Munif Chatib adalah sebagai berikut:

1. Keselamatan Hidup.

Berkaitan dengan keselamatan hidup seseorang atau makhluk lain. Akan lebih berkesan, apabila yang mengancam berada pada lingkaran terdekat diri siswa dan keluarganya. Contoh yang banyak digunakan adalah bencana alam, penyakit, kecelakaan, dan lain-lain.

2. Kegunaan atau Manfaat.

Aktivitas yang akan diajarkan berkaitan dengan adanya manfaat yang akan didapat siswa pada saat aktivitas itu dilakukan. Manfaat tersebut akan lebih baik dapat dirasakan langsung siswa pada saat selesai melakukan aktivitas. Contoh yang banyak dilakukan adalah kegunaan suatu alat atau manfaat aktivitas untuk tubuh atau pengetahuan.

3. Sebab Akibat.

Aktivitas yang diajarkan berkaitan dengan adanya akibat yang akan terjadi apabila aktivitas tersebut diajarkan. Akibat yang terjadi lebih baik bersifat “ekstrem” sangat menyentuh dan berpengaruh kepada siswa. Contoh yang banyak digunakan adalah menceritakan akibat atau dampak yang terkait dengan materi belajar.

4. Penyampaian informasi atau berita.

Aktivitas yang akan diajarkan berkaitan dengan berita atau informasi yang up to date. Berita tersebut dapat dibacakan atau diceritakan oleh guru. Contohnya dengan membawa kliping koran atau majalah tentang berita yang terkait dengan materi belajar.

5. Cerita Imajinatif.

Aktivitas pembelajaran diawali dengan cerita khayalan yang menarik minat siswa untuk masuk kemateri belajar. Cerita tersebut dapat berupa cerita dari film-film fiksi atau guru mengarang sendiri. Biasanya, cerita imajinatif ini sangat disukai oleh siswa-siswa usia golden age (0-8 tahun).

6.Pertanyaan.

Aktivitas pembelajaran diawali dengan beberapa pertanyaan yang memancing siswa untuk membawa mereka ke materi pembelajaran. Model dan cara guru bertanya pada awal belajar ini dapat bervariasi, dapat berupa pertanyaan berantai. Biasanya, akan berhasil apabila ada penghargaan yang diberikan kepada siswa jika pertanyaan tersebut dapat dijawab.

7. Film.

Aktivitas belajar diawali dengan film, tetapi siswa tidak diberi tahu judul dan maksud film tersebut. Biasanya, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk memberikan komentar setelah film diputar. Jenis film dapat beragam sesuai dengan materi belajar.

 

*Penulis Erna Setyawati
Alumni Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) dari Temanggung, Jawa Tengah.

Apa Tanggapan Anda ?