Peduli lingkungan, siswa membentuk Laskar Penyelamat Bumi. Siswa SMPN 7 Kota Magelang rela mengumpulkan sampah untuk mengisi kas kelas dan OSIS.

Daerah

Siswa Bentuk Laskar Penyelamat Bumi


MAGELANG – Upaya mewujudkan sekolah bersih dari sampah tidak hanya isapan jempol. SMPN 7 Kota Magelang, Jawa Tengah memiliki cara tersendiri untuk mewujudkan impian tersebut. Para siswa sepakat membentuk pasukan khusus untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Sekolah membentak Laskar Penyelamat Bumi yang diisi para siswa. Pembina OSIS SMPN 7 Kota Magelang C Mintarja mengatakan, pembentukan Laskar Penyelamat Bumi dalam tubuh OSIS sebagai wujud kepedulian siswa terhadap lingkungan. Ada dua siswa yang ditunjuk sebagai Laskar Penyelamat Bumi yaitu, Berlian Cinta dan Putri Hikhmatul.

“Kegiatan yang dilakukan mencakup pemilahan dan pengelolaan sampah,” katanya.

Sampah dikumpulkan menjadi satu titik. Penimbangan sampah untuk plastik dan kertas, per kilogramnya dihargai Rp 1.500. Uang difungsikan untuk menambah kas kelas.

“Selain itu, usaha penggalangan dana OSIS untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap kelestarian lingkungan,” urainya.

Dari enam hari aktif, sekolah menerapkan waktu khusus sehari untuk siswa bersih – bersih bareng. Jumat bersih merupakan salah satu kegiatan perwujudan Adiwiyata di SMPN 7 Kota Magelang.

Upaya ini juga merupakan salah satu visi sekolah, mewujudkan sekolah yang religius, berkarakter, cerdas literasi dan berwawasn lingkungan. Hingga kemudian dikenal dengan istilah “Super Cling”. Ide slogan Super Cling dilontarkan Kepala SMPN 7 Kota Magelang Parjopo.

Kegiatan Jumat bersih dimulai dengan apel dan pengarahan. Kemudian dilanjutkan membersihkan seluruh lingkungan sekolah dengan mengambil sampah yang dijumpai. Sampah yang telah dikumpulkan pada tiap kelas kemudian ditimbang.

Selain itu, ada penanaman tanaman dan pengolahan sampah organik. Pengumpulan sampah kertas dan plastik dari setiap kelas merupakan ide dari Laskar Penyelamat Bumi yang dibentuk OSIS SMPN 7 Kota Magelang tersebut.

“Ide pembentukan Laskar Penyelamat Bumi adalah untuk menggerakkan kegiatan Adiwiyata di sekolah. Yang sekarang ini juga menjadi salah satu ekskul di sekolah kami,” terangnya.

Ketua OSIS M Sauki menjelaskan, sampah-sampah yang dikumpulkan setiap kelas kemudian ditimbang dan dihargai. Sampah kemudian dimasukkan di bank sampah. Nantinya, hasil dari sampah tersebut 90% untuk kas kelas dan 10% sisanya untuk kas OSIS.

“Untuk sampah daun akan digiling dan dijadikan kompos. Sedangkan sampah kertas dan plastik dijual untuk didaur ulang,” ungkapnya.

Apa Tanggapan Anda ?