Ilustrasi

Opini

Siswa Jangan Jadi Budak Teknologi


SiedooFENOMENA gadget khususnya telepon pintar memang banyak mengubah budaya. Dimana sebelum ada gadget, ruang diskusi lebih lebar. Saat ini, bertamu pun terkadang tuan rumah pegang gadget, tamunya juga pegang.

Hal tersebut ditandaskan Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso, Jawa Timur M Syaeful Bahar seperti yang diberitakan Radar Jember.

“Bagi saya ini menjadi petaka kemanusiaan,” katanya.

Jempol masyarakat saat ini banyak menjadi autis. Sebab gadget terus-menerus dan sangat susah dikendalikan. Khusus untuk anak-anak, memang gadget ini bisa menjadi candu.

“Jika sudah kecanduan, ini menjadi hal yang negatif,” paparnya.

Mengenai penggunaan gadget di sekolah, selama ini masih debatable. Dimana dari sisi manfaat dan mudaratnya, lebih besar. Sebab, bagi mereka yang belum memiliki komitmen kuat dalam hal ilmu pengetahuan, lantas diberi alat yang bisa akses segala informasi, ini akan sangat bahaya.

“Jadi dengan mudah saat ini copy-paste melalui gadget,” tuturnya.

Sebab mereka tinggal copy-paste tanpa ada sumber yang jelas. Dan dalam ilmu pengetahuan, sebenarnya ada komitmen tentang narasumber. Tradisi tersebut masih lengket dalam pesantren. Misalnya mendoakan pembuat kitab tersebut sebelum ngaji misalnya.

“Jadi sumbernya jelas, tidak terputus sampai pada pencetus ilmu pengetahuan itu,” terangnya.

Sementara itu, menurut Guru MAN Gumawang, Belitang Oku Timur, Sumatra Selatan Tri Sumarni MPd, penggunaan gadget bukanlah hal baru lagi di kehidupan remaja. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka. Bahkan, dari keluarga mereka sendiri.

“Lebih parah lagi ada yang menggunakan gadget untuk mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi,” katanya sebagaimana ditulis dalam suaraguruwordpress.com.

Salah satu tanggung jawab anak adalah belajar dan sekolah. Tapi, jika anak terlalu bebas menggunakan gadgetnya maka ia cenderung mengabaikan kewajibannya ini. Kondisi ini tak urung bisa membuat prestasi anak jadi menurun. Untuk itu, beberapa ahli tidak menyarankan orangtua memberikan gadget canggih sebagai hadiah atas prestasi anak.

“Gadget telah menjadi bagian dari kehidupan pelajar. Sehingga keberadaan gadget menyebabkan adanya dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari gadget adalah mempermudah dalam pencarian informasi dan komunikasi. Selain itu, dapat menjadikan pelajar tidak gagap teknologi,” bebernya.

Adapun dampak negatifnya, yaitu mengganggu belajar siswa, berakibat buruk pada perilaku, kesehatan, dan sikap siswa. sertaSerta, mengakibatkan pemborosan.

“Untuk itu sangat diperlukan pembatasan serta arahan dari orang tua dalam menggunakan gadget,” tegasnya.

Apa Tanggapan Anda ?