Tahun Ke-5, pelatihan guru peduli lingkungan kembali dilaksanakan.

Kegiatan

Gaungkan Kepedulian Lingkungan Melalui Pelatihan


BALI – Ruang sekolah tidak hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan semata. Namun, kepedulian terhadap kondisi lingkungan juga diharapkan mampu tertanam pada diri siswa. Seperti yang diterapkan Green School Bali.

Green School merupakan sebuah sekolah swasta non-profit dari tingkat PAUD hingga SMA yang berlokasi di Bali. Menawarkan sebuah kawasan sekolah yang unik, dengan struktur bambu. Namun, juga menarik di tengah kawasan hutan yang dikelilingi kebun organik yang rimbun dan dialiri Sungai Ayung.

Untuk menggaungkan kepedulian lingkungan, sekolah mengelar Pelatihan Pendidik Peduli Lingkungan atau Green Educator Course. Acara ini sudah diadakan untuk tahun ke-5. Pelatihan yang dicanangkan Green School ini pertama kali diadakan pada 2013 dan akan kembali diadakan pada 5-9 Februari 2018.

“Kita bertanggung jawab untuk melestarikan bumi agar generasi muda dapat tinggal dan menikmati bumi ini. Serta, mengedukasi mereka dengan ilmu pengetahuan tentang ketahanan lingkungan,” kata Communications Manager Green School Bali Debora Aritonang.

Sebagai sekolah yang memelopori konsep pendidikan ramah lingkungan, Green School mengundang tenaga-tenaga pengajar dengan visi yang sama. Yaitu, untuk meningkatkan mutu pendidikan di bidang lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi global melalui pelatihan ini.

Para pendidik Indonesia diberi kesempatan untuk belajar dari Green School dan menciptakan wadah untuk saling mencari, berbagi, dan mengembangkan ide. Pelatihan selama 5 hari membekali para peserta dengan materi dan strategi pembelajaran inovatif yang ramah lingkungan.

Selain itu, memperdalam pengetahuan tentang bagaimana pendidikan ramah lingkungan bisa diintegrasikan ke dalam kerangka keseluruhan sekolah. Berfokus pada kurikulum, lingkungan fisik sekolah, komunitas, dan organisasi budaya.

Melalui pelatihan ini, peserta akan belajar mengenai pembelajaran holistik yang dilakukan Green School dengan menanamkan nilai IRESPECT. Yaitu, Integrity (kejujuran), Responsibility (tanggung jawab), Empathy (empati), Sustainability (berkelanjutan), Peace (perdamaian), Equality (kesetaraan), Community (komunitas), dan Trust (kepercayaan) di dalam kurikulum.

“Lalu, metode pembelajaran sustainability compass dan project-based learning, memetakan eco-footprint, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Kemudian, mempelajari cara pendekatan pembelajaran kepada siswa dengan menggantikan ecophobia. Yaitu, takut pada masalah ekologi, dengan ecophilia, yakni mencintai bumi dengan berada di alam sebelum melakukan upaya pelestarian lingkungan.

Adapun, pelatihan ini disebut dalam 100 inovasi pendidikan global versi HundrED pada Oktober 2017 lalu. Green Educator Course tidak hanya ditujukan kepada tenaga pengajar saja. Namun, kepada khalayak yang ingin belajar dari Green School.

Adapun HundrED adalah organisasi nonprofit yang mencari dan menyebarluaskan inovasi-inovasi inspirasional dalam pendidikan dasar 12 tahun. HundrED bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menginspirasi gerakan akar rumput (grassroot movement) melalui suara pedagogik dan inovasi ambisius untuk disebarkan secara global.

Pada awal semester ini, Green School membuka Green Educator Course pada 5-9 Februari, 16-20 April, dan 21-24 Mei 2018. Kursus Februari mengangkat tema “Bridging the Gaps” yang akan berfokus pada cara meramu pendidikan.

“Sehingga, dapat menciptakan lingkungan supaya siswa lebih memiliki kesadaran atas tindakan-tindakan yang diambil dan dapat bertindak secara ramah lingkungan,” kata Debora.

Apa Tanggapan Anda ?