Opini

Pakar Biologi : Migrasi Ikan Paus Berlangsung Berkelompok

Share

Siedoo, Sedikitnya ada 52 ekor paus terdampar di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur pada Kamis (18/2/2021). Hal ini diperkirakan berasal dari perairan Australia dan paus akan melewati perairan Indonesia.

Dalam sebuah jurnal dari journals.org tentang aktivitas migrasi paus, mengungkapkan bahwa migrasi akan mencapai puncaknya pada Februari dan Mei. Pada penelitian tersebut dan juga beberapa laporan lain, menyebutkan bahwa paus umumnya akan melewati jalur yang sama untuk bermigrasi.

Berdasarkan beberapa jurnal dan laporan media massa, pakar Biologi kelautan, dalam periode tertentu ikan paus akan melakukan migrasi yang dilakukan secara berkelompok. Umumnya, paus yang bermigrasi melalui perairan Indonesia adalah jenis paus pilot atau short-finned pilot whale.

Berbicara tentang kemampuan paus yang bisa mengingat jalur yang dilalui setiap tahunnya, hal ini bisa dilakukan berkat adanya biomagnitit. Biomagnitit adalah zat yang berada pada retina cetacea yang mempunyai fungsi sebagai indra magnetis yang membantu mereka mengetahui ke arah mana bergerak.

Hal ini membuat paus peka terhadap perubahan medan magnet bumi. Dalam sebuah referensi artikel ilmiah berjudul In - depth Whale Navigation: Navigating the Long Way Home karya Robin Marks dikatakan bahwa paus yang mengikuti ‘jalur’ magnet ini kemungkinan besar akan terdampar di daerah yang jalurnya berbelok. Kemungkinan termasuk di beberapa perairan pantai Pulau Madura dan kawasan Selat Madura, Jawa Timur.

Prediksinya, jika perubahan yang terjadi pada navigasi paus bisa dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai dari cuaca yang ekstrem, gelombang sinar matahari, perubahan garis pantai, paus sakit, dan bisa saja dari aktivitas kilang minyak yang berada di sekitar perairan. Karena ada juga referensi yang mengatakan bahwa rig (bangunan lepas pantai, red) dijadikan patokan magnetik bagi paus.

Penulis menyimpulkan, sebenarnya banyak teori terkait anomali ini, karena banyak kasus yang terjadi namun penyebabnya belum diketahui secara pasti. Hasil pengamatan bahwa pada saat ini masyarakat dengan kearifan lokalnya telah melakukan beberapa upaya penyelamatan.

Diharapkan ke depannya, masyarakat lokal bersama institusi terkait dapat membuat protokol langkah mitigasi dalam menangani kasus paus yang terdampar. Pasalnya, tidak hanya sekali terjadi di Indonesia.

Dengan respon yang tanggap dari masyarakat diharapkan bisa membantu paus untuk kembali melakukan perjalanan migrasinya. Besarnya tubuh paus lah yang menyebabkan ia tak dapat bermanuver kembali ke laut. Sehingga dibutuhkan bantuan langsung dari manusia.

Penulis menganjurkan langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat saat ini untuk mengatasi masalah paus terdampar di pantai adalah, memprediksi kapan dan di mana peristiwa paus biasanya terdampar. Bisa digalakkan untuk membangun pos paus di sekitar pantai. Pos ini berfungsi sebagai pemantau kondisi pantai, juga bisa sebagai media edukasi paus.

Dokumentasi paus yang terdampar di Pantai Modung, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. (tangkapan layar medsos @syahrirdaenk).

Apabila masyarakat melihat paus-paus terdampar, penulis menganjurkan untuk menjaga paus tetap dalam keadaan basah karena penyebab paus mati disebabkan karena kehilangan kadar air di tubuhnya secara drastis. Langkah ini bisa dilakukan dengan menyiramnya dan membasahi tubuh dengan air laut, atau dengan segera melepasnya ke laut kembali.

Bahkan jika tidak memungkinkan, untuk mengurangi penderitaan, beberapa referensi ilmiah menyarankan euthanasia. Hal ini dikutip dari beberapa referensi, salah satunya dari buku National Guidance on the Management of Whale and Dolphin Incidents in Australian Waters.

Mengenai perlakuan bangkai paus yang ada, penulis menyarankan untuk mengutamakan membuang bangkai ke laut, karena dengan banyaknya bangkai yang membusuk, dapat dijadikan sebagai sumber makanan predator yang dapat berkontribusi pada rantai makanan laut. Atau mungkin dari rangka paus yang mati bisa dijadikan sebagai sumber bahan pengajaran untuk mengembangkan studi tentang mamalia laut ini. (*)

 

*Dr Dewi Hidayati SSi MSi, Kepala Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur.
Anggota Laboratorium Zoologi dan Rekayasa Hewan Biologi ITS.

 

Apa Tanggapan Anda ?
Tags: ITS
Adeed. P
Leave a Comment

Recent Posts

Kementerian PPPA Nobatkan Kota Magelang sebagai Kota Layak Anak

KOTA MAGELANG - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menobatkan Kota Magelang, Jawa Tengah sebagai Kota Layak Anak…

13 jam yang lalu

Peran Kampus dalam Co-Firing PLTU Memanfaatkan Bambu

SURABAYA - Pembangkitan Jawa Bali (PJB) merupakan sebuah anak perusahaan Pembangkit Listrik Negara (PLN), produsen listrik yang menyuplai kebutuhan listrik…

2 hari yang lalu

Swara Wardhana UNY Sabet Medali Emas di Italia

Siedoo, Pergelaran bergengsi, Leonardo Da Vinci International Choral Festival di Florence digelar di Italy bulan Juli 2021. Paduan suara dari…

2 hari yang lalu

Tingginya Semangat Belajar, Zetta Menembus Batas Impian untuk Kuliah

Siedoo, Memiliki semangat belajar yang tinggi, sampai akhirnya bisa menembus tembok pembatas. Seperti yang dialami Zetta Septian Nugroho Adhi, remaja…

3 hari yang lalu

E - Trash, Solusi Masalah Sampah Disaat Pandemi

Siedoo, Berbagai persoalan bermunculan di tengah suasana pandemi Covid-19. Selain sektor pendidikan, kebudayaan, sosial, ekonomi, masih ada lagi persoalan sampah…

4 hari yang lalu

Evaluasi Tahunan, Upaya SMPN 4 Kota Magelang Tingkatan Mutu Pendidikan

MAGELANG - Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Kota Magelang, Jawa Tengah melaksanakan agenda rutin, workshop tahunan. Agenda pembahasan yaitu…

4 hari yang lalu