Daerah Kegiatan

Mahasiswa PMM Kelompok 38 UMM Edukasi Anak Sekolah Membuat Batik Jumputan

PROBOLINGGO – Batik merupakan warisan budaya nenek moyang, sehingga perlu dilestarikan kepada setiap generasi. Berbagai ragam batik Nusantara sangat menarik dikembangkan menurut kreativitas masing-masing pengembang. Keterampilan membatik sangat perlu diajarkan kepada siswa di setiap sekolah sebagai salah satu materi pelajaran seni.

Para mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 38 Gelombang 3 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tanggap akan hal itu. Dengan arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ir. Muhammad Irfan, M.T., mereka mengisi kegiatan berbasis kearifan lokal di tengah pandemi.  Yaitu membuat ‘batik jumputan’ di Desa Brumbungan Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Mahasiswa PMM Kelompok 38 terdiri atas Bawon Wiji Dia Prasasti, Shabrina Nola Rizqy, Intan Zuhrotun Nafi’ah, Titik Setiowati, dan R. Alvin Ibrahimy Arman. Kegiatan yang mengedukasi anak-anak sekolah membuat batik tersebut dilakukan dari awal hingga akhir Agustus 2020 ini. Tim mahasiswa PMM Kelompok 38 mengajak anak-anak sekolah di Desa Brumbungan Kidul untuk membuat batik jumputan bersama-sama. Kegiatan tersebut disambut antusias oleh anak-anak untuk mengisi waktu luang usai mereka mengerjakan tugas daring dari sekolah karena belum pembelajaran tatap muka di sekolah.

Tidak hanya disambut antusias oleh anak-anak, kegiatan ini juga disambut dan diterima sangat baik oleh para orang tua. Kegiatan keterampilan ini dinilai edukatif untuk anak-anak.

“Sehingga kami para orang tua bangga anak-anak bisa melakukan aktivitas di rumah dengan hal yang bermanfaat. Seperti kegiatan membatik yang dilakukan oleh mahasiswa UMM,” kata salah satu orang tua anak yang mengikuti kegiatan membatik, Sabtu (22/8/2020).

Kegiatan membatik yang dilakukan mahasiswa tersebut tentunya mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Seperti menggunakan hand sanitizer sebelum kegiatan dimulai dan memakai masker selama kegiatan dan menjaga jarak antaranak.

Ketua Kelompok 38 Bawon Wiji Dia Prasasti mengatakan bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini juga mudah ditemui dan bernilai ekonomis. Seperti kain, pewarna kain, karet gelang, dan kelereng, sehingga anak-anak bisa melakukan sendiri di rumah.

Bawon Wiji dan kelompoknya berharap kegiatan tersebut dapat mengenalkan batik khas Indonesia yang dicintai dunia kepada anak-anak. Sehingga para generasi Indonesia tetap melestarikan budaya warisan nenek moyangnya.

“Semoga batik Indonesia tetap lestari dan berkembang. Dengan mengenalkan batik serta mengedukasi keterampilan membatik kepada generasi muda, sejak dini,” harap Bawon Wiji mewakili Kelompok 38 PMM UMM. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?