Daerah Kegiatan Seni

Kabupaten Magelang Juarai Lomba Desain Batik LP Ma’arif NU Jateng

SEMARANGPada awal 2020, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng) menggelar Lomba Desain Batik Ma’arif. Setidaknya, ada 26 peserta turut berpartisipasi dalam lomba tersebut.

Penjurian dan penetapan pemenang lomba dilakukan di kantor LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, Rabu (18/3/2020) lalu, namun kemudian kegiatan tertunda akibad Covid-19. Setelah memasuki New Normal tiga juara diundang untuk presentasi, sinkronisasi dan pemberian hadiah lomba pada Ahad (5/7/2020).

Ketua Panitia Lomba Desan Batik Ma’arif Hamidulloh Ibda, mengatakan 26 peserta terdiri atas 11 peserta dari unsur guru dan tenaga kependidikan. Sementara 15 dari peserta kategori siswa atau pelajar Ma’arif dari madrasah/sekolah Ma’arif se-Jawa Tengah.

Berdasarkan hasil penilaian Lomba Desain Batik Guru dan Siswa Ma’arif NU tahun 2020 oleh Pengurus LP Ma’arif PWNU Jateng pada tanggal 18 Maret 2020 lalu, kemudian ditetapkan para pemenang. Penetapan melalui Surat Keputusan Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah Nomor 366/PW.11/LPM/SK/III/2020 tentang Pemenang Lomba Desain Batik Siswa Dan Guru Lembaga Pendidikan Ma'arif PWNU Jateng.

“Maka ada tiga juara dan mendapatkan hadiah pada hari ini,” kata Ibda, Ahad (5/7/2020).

Pada Kategori Guru,  Juara 1 diraih Abdul Qodir al-Amin, S.H.I dari SDIT Ma’arif Ma’ahidul Irfan Bandongan, Kabupaten Magelang. Sedangkan  Juara 1 Kategori Siswa disabet Rivaa Faradilla dari MI Trimaja Danurejo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Sementara Finalis terinovatif atau tervaforit adalah Budi Santoso dari MTs. Darussalam Sumowono, Kabupaten Semarang.

Ibda mengungkapkan, para Juara 1 masing-masing mendapat uang pembinaan Rp 2,5 juta. Sementara Juara Terinovatif berhak atas uang pembinaan sebesar Rp 1 juta. Dikatakan Ibda, semua desain sudah dipresentasikan, didiskusikan, dan disinkronisasi sesuai kebutuhan cetak batik.

“Jadi desain ini belum final tapi sudah disinkronisasi,” ujar dosen STAINU Temanggung tersebut.

Sementara itu Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, R. Andi Irawan mengatakan bahwa desain batik tersebut menjadi bagian untuk penguatan ideologisasi selain untuk identitas. Nantinya batik tersebut akan dipakai guru dan siswa Ma'arif.

“Maka filosofi yang ada harus tersampaikan, termasuk simbol-simbol NU, Ma'arif dan simbol pendidikan harus terwakili,” katanya.

Ia juga menjelaskan, desain ini dinilai dari segi etik, estetik, dan juga agar tidak mudah diplagiat, karena selama ini penjiplakan desain batik sering terjadi.

“Kita akan terus menggali potensi Ma'arif, termasuk batik ini didesain siswa sendiri, untuk siswa Ma'arif, didesain guru sendiri untuk guru Ma'arif," tegas dia. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?