Categories: Opini

Memilih Prodi Sesuai Bakat Minat, Begini Penjelasannya

Share

Siedoo, Beragam problem yang mungkin muncul sebelum proses pengambilan keputusan memilih program studi (prodi). Problem itu meliputi kurangnya motivasi, kepribadian peragu, dan belum terformulasikannya dengan jelas cita-cita yang ingin diraih. Memilih program studi yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan sangat penting karena nantinya turut berkontribusi dalam menentukan jenis pekerjaan akan ditekuni seseorang.

Demikian diungkapkan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dian Ratna Sawitri. Menurutnya cita-cita merupakan target yang ingin dicapai seseorang dalam jangka waktu tertentu mengenai suatu pekerjaan yang ingin dijadikannya mata pencaharian utama.

“Meski terkesan sepele, cita-cita menentukan arah seseorang dalam berusaha, seberapa jauh ia berupaya. Seberapa serius ia mengeksplorasi kemampuan untuk meraihnya. Serta dorongan untuk memikirkan mengenai apa sebetulnya yang ingin diperoleh dari keberhasilannya mencapai cita-cita tersebut,” katanya di laman undip.ac.id (1/7/2020).

Secara logis, cita-cita yang jelas memudahkan calon mahasiswa memilih program studi yang akan mengantarkannya meraih aspirasinya itu. Lalu, bagaimana dengan calon mahasiswa yang belum tahu dengan pasti cita-cita yang ingin diraihnya ?

Sawitri menjelaskan paparan career role model (sosok posisi tertentu yang jadi panutan), kekayaan informasi mengenai diri sendiri, pengetahuan mengenai beragam karir dan kondisi lapangan pekerjaan. Juga kondisi finansial dan lainnya, merupakan dimensi-dimensi kunci yang dapat mengarahkan individu memformulasikan cita-cita. Di mana pada akhirnya bisa mengambil keputusan mengenai program studi yang tepat untuknya.

Paparan career role model bermanfaat dalam memberikan gambaran nyata mengenai peran-peran yang dilakukan seseorang yang menekuni profesi tertentu. Berikut ciri kepribadian dan kompetensi yang harus dimilikinya, jalur pendidikan yang harus dilalui.

“Juga resources pendukung yang diperlukan dalam perjalanan mencapai target karir tersebut, serta gaya hidup yang dijalani,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menekankan paparan career role model diperlukan untuk membumikan gambaran-gambaran ideal menjadi gambaran nyata yang membantu calon mahasiswa. Yaitu menentukan apakah ia benar-benar memiliki cita-cita tertentu yang dapat diraihnya melalui pilihan akan program studinya.

Beberapa calon mahasiswa cukup beruntung karena career role model bisa diperoleh dari lingkungan terdekatnya. Namun banyak calon mahasiswa lainnya merupakan first generation college students, yaitu generasi pertama di keluarganya yang akan mengenyam pendidikan tinggi.

Ketersediaan career role model dalam situasi yang terakhir ini barangkali belum ada. Jika menghadapai situasi ini, calon mahasiswa diharapkan proafktif mencari informasi di luar keluarganya.

“Misalnya dari sekolah, alumni, teman, atau organisasi yang diikutinya,” ujarnya.

Sawitri menuturkan calon mahasiswa perlu juga melakukan introspeksi mengenai aktivitas-aktivitas apa saja yang bisa dilakukannya dengan baik dan aktivitas apa saja yang tidak. Dalam bidang apa saja mereka bisa berprestasi, dan dalam bidang apa saja mereka harus mengerahkan upaya lebih dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya untuk mencapai tujuan yang sama.

“Setelah hal ini teridentifikasi, eksplorasi dapat dilanjutkan pada aktivitas-aktivitas apa saja yang mereka minati dan diprioritaskan untuk dilakukan di waktu luang, dan aktivitas apa saja yang tidak bisa mereka nikmati,” tuturnya.

Dia menambahkan pengetahuan mengenai prodi dan PT yang dimaksud juga diperlukan untuk memahami ragam kepakaran dosen di prodi yang dituju. Juga bidang keilmuan yang menjadi keunggulan, biaya yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pendidikan, dan profil lulusan yang diharapkan.

Calon mahasiswa dapat mengeksplorasi ketersediaan beasiswa pendidikan sesuai dengan kondisinya. Ia dapat menjelajahi informasi mengenai beasiswa dari pemerintah, dari perguruan tinggi yang dituju, dari stakeholder perguruan tinggi tersebut, maupun sumber-sumber lainnya.

“Tanpa pengetahuan yang memadai, agak sulit bagi mahasiswa untuk memiliki gambaran nyata mengenai dunia baru yang akan dihadapinya,” kata Sawitri.

Ketika informasi mengenai hal-hal teknis telah dikuasai, sejauh mana preferensi calon mahasiswa terhadap prodi dan PT yang dituju sesuai dengan harapan, arahan, dan dukungan orangtua sangat penting untuk dimiliki. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Narwan Sastra Kelana
Leave a Comment

Recent Posts

Guru Harus Maksimalkan Sarana Konten Pembelajaran

Siedoo, Salah satu tugas pokok dan fungsi guru adalah mengajar. Proses membelajarkan kompetensi ke siswa merupakan tugas yang melekat. Sebagai…

27 menit yang lalu

TKIT At Taqwa Grabag Bekali Wali Murid, Dorong Orang Tua Dampingi Anak Belajar

MAGELANG - Tahun ajaran baru 2020/2021 dalam dunia pendidikan telah dimulai sejak pertengahan Juli 2020 lalu. Pembelajaran yang diterapkanpun berbeda…

3 jam yang lalu

Mahasiswi Universitas Mercu Buana, Ajak Remaja Bijak Bermedsos dan Jadikan Platform Positif

TANGERANG - Menggunakan media sosial secara bijak dengan memperhatikan kiat-kiat yang baik dan benar penting dilakukan, terutama pada masa pandemi…

4 jam yang lalu

Seru, Rayakan Idul Adha SD Muhammadiyah Inovatif Mertoyudan Gelar Wonderful Qurban

MAGELANG - Semarak Idul Adha tetap terasa antusias di SD Muhammadiyah Inovatif (SD Inova) Mertoyudan Magelang dengan mengadakan acara bertajuk…

18 jam yang lalu

Gedung Pemerintahan Boleh Digunakan untuk Pembelajaran Jarak Jauh

KOTA TANGERANG – Hingga saat ini Pemerintah Kota Tangerang, Jawa Barat belum memberlakukan pembelajaran tatap muka mulai dari jenjang PAUD…

18 jam yang lalu

Tingkatkan Pengelolaan Jurnal, Unila Latih Para Dosen

LAMPUNG - Dalam rangka meningkatkan kualitas dan grade jurnal dan peringkat universitas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sebagai sentra publikasi…

20 jam yang lalu