Opini

Guru Penggerak dan Seni Mendidik Membentuk Budaya Sekolah

Siedoo, Seni dalam mendidik ibarat memberi warna pada kanvas kehidupan siswa. Setiap peserta didik sudah tentu memiliki keunikan yang khas. Dengan memahami setiap jiwa yang memiliki kemampuan berbeda maka akan lebih mudah memfokuskan pada bidang pendidikan yang sesuai potensi siswa. Oleh sebab itu, tes potensial sangat penting dilaksanakan pada awal pembelajaran guna mendeteksi bakat alam yang bisa menentukan pilihan pendidikan bagi masa depan peserta didik.

Ada berbagai teori pembelajaran kreatif yang banyak ditulis para ahli. Mulai dari metode, teknik, dan strategi dipadu kajian teori kecerdasan. Secara umum, dalam penanganan peserta didik dapat diklasifikasikan pada beberapa kelompok kecerdasan. Semua ini menjadi data empiris temuan di ruang kelas. Setiap strategi mengajar bisa dikolaborasikan dalam satu pertemuan kegiatan pembelajaran. Sehingga, peserta didik memiliki suguhan pembelajaran yang heterogen pada setiap tahap kegiatan (proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi).

Strategi mengajar dengan menyuguhkan pancingan multikecerdasan; kecerdasan linguistik, logis matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, dan naturalis. Namun, pernahkan terpikirkan bahwa semua itu adalah ilmu, seni dalam mendidik? Marilah kita sedikit menelisik bagaimana padu padan seni dalam mendidik dikaitkan dengan teori seni itu sendiri. Di mana kita bertemu dengan pendidik yang jenius dan mengagumkan, guru penggerak yang bisa mengajak belajar menciptakan keceriaan sesuka hati serta menciptakan pabrik kegembiraan.

Sejarah estetika romantis memusatkan perhatiannya pada diri seniman dan proses kreatifnya dalam seni. Kebebasan berkreasi dalam seni secara autodidak/alamiah/bakat alami dari setiap individu, penekanannya ada pada konsep "alam". Lingkungan alam yang menggugah rasa kegembiraan karena keindahannya memberi kedamaian dan kenyamanan. Begitu pula bagi seorang pendidik, ibarat seniman yang membuat suatu keindahan saat mengajar.

Berdasarkan konsep ini, pada dasarnya seni mendidik akan berkembang kreatif jika dilakukan secara alami oleh pendidik penggerak sebagai seniman didik. Pemahaman terhadap jiwa-jiwa pembelajar dengan ilmu pedagogisnya. Dengan pendekatan alami inilah, pembelajaran akan terasa lebih dekat, menyamankan, dan manusiawi.

Pendidikan masa kini di zaman milenial tentu harus diposisikan sesuai tuntutan zaman. Mau tidak mau, semua stakeholder pendidikan harus hadir menjadi pendamping yang bisa memberikan bimbingan dan rasa percaya diri, baik bagi dirinya maupun bagi para pendidik dan peserta didiknya. Semua digiring ke masa kekinian.

Mungkin perlu pengakuan budaya kolonial, dengan adanya unggah-ungguh sangatlah penting dalam penguatan pembentukan karakter peserta didik. Yang tidak boleh adalah feodalisme dalam keilmuan. Kita harus terbuka dalam ilmu. Yang bisa jadi, kita bertambah ilmu dari pengalaman empiris ketika bertemu anak kecil yang lugu dan masih jauh penalarannya terhadap dunia. Ilmu anak kecil sangatlah sederhana, penuh mimpi namun faktual.

Seni mendidik selain menghadirkan rasa estetis (keindahan), juga bisa membuat peserta didik sebagai penikmatnya merenung (berkontemplasi), menafakuri hakikat hidup dan kehidupan apa adanya. Ada gejolak positif-negatif berupa keterkejutan yang menarik. Seni mendidik merupakan perpaduan antara estetika keselarasan dan pertentangan.

Melalui seni mendidik, bisa menggerakkan hati manusia untuk mendekat dan mengenal Sang Mahaseni. Tangan-tangan Tuhan turut andil dalam bentuk komunikasi religi. Contohnya, menggerakkan orang untuk giat belajar, berbuat kebaikan, ibadah, beramal, menolong, sedekah, membantu sesama, cepat tanggap, mengerti bahasa isyarat, lambang, dan simbol serta membuat orang menjadi lebih bijak (paham).

Pernyataan-pernyataan dalam materi pembelajaran sifatnya dapat terukur dan dipahami, walau kita tidak menyaksikan nyata atau langsung. Tetapi, logika kita langsung bekerja mengembangkan penafsiran yang terukur (logis). Ketakjuban akan mekanisme komputerisasi/digital yang memberi ruang keindahan, seni mendidik harus masuk pada semua bidang keilmuan. Sehingga, jiwa-jiwa tidak kering, semua tertata indah dalam mata pelajaran agama, PKn, bahasa, IPA, IPS, matematika, olahraga, seni budaya, dan prakarya.

Dengan seni, wawasan menjadi luas, penalaran pun akan berkembang. Karena, seni tidak pernah mati, akan selalu membawa kegairahan dan kreasi. Seni yang bijak yang mengajak kita untuk mengenal jati dirinya, mengenalkan, dan mengakrabkan pada Sang Mahaseni, Allah SWT.

Panjangkan dan lebarkanlah keilmuan kita. Cobalah untuk mengenal dan memasuki dunia seni dalam pendidikan. Caranya, dengan melibatkan diri dalam pendidikan seni itu sendiri. Dengan demikian, kita terlatih berapresiasi dan berekspresi dari cipta, rasa, karsa, dan karya. Misalnya membaca, menulis, mendeklamasikan, dan mendengarkan puisi.

Seni itu begitu indah karena pelaku seni memahami tugas dan fungsinya untuk memberikan suguhan seni yang agung secara total. Setiap gerak, ekspresi, dan pakaian memiliki makna. Sehingga, penikmat seni terhanyut dalam permainannya dan memberi penilaian sebagai bentuk apresiasinya. Tubuh dihias, tidak kosong dari bawah sampai atas. Setiap sesuatu ada hal yang ingin disampaikan sebagai bentuk komunikasi. Contohnya, angin yang berembus meniup tubuh kita merupakan bentuk komunikasi kita dengan udara yang harus dimaknai dan dihayati.

Seni adalah kehalusan jiwa, yang menata keindahan rasa dalam bentuk karya. Seni mendidik mengajak pendidik penggerak untuk membentuk karakter peserta didik yang kreatif, ingin tahu, berpikiran terbuka, keberanian, dan ketkunan. Juga karakter vitalitas, cinta, kebaikan, citizenship, kepemimpinan, pemaaf, kerendahan hati, kehati-hatian, harapan, dan humor.

Budaya sekolah terbentuk dari kompetensi seni mendidik setiap seniman didiknya. Jadilah guru penggerak yang memiliki kebebasan dan kekuatan dalam berekspresi serta berapresiasi. Mengembangkan kemampuan menata siswa dengan hati yang mulia. Menjauh dari keangkuhan. Melebur dalam ilmu yang subur menuju kemakmuran pendidikan dalam kesantunan. (*)

Eulis Saputra 
Anggota Komunitas Cinta Indonesia (KACI)
(Sumber: disdik.jabarprov.go.id, 13/6/2020)
Apa Tanggapan Anda ?